Arsip Bulanan: September 2010

Pengelolaan Hutan Papua

Hari ini (30/09) Kembali pengelolaan hutan Papua dibahas di Manokwari Ibukota Provinsi Papua Barat. Kali ini berupa sosialisasi tentang Hutan Tanaman Rakyat yang di organize oleh Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XVIII. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa stakeholders terutama Dinas-dinas Kehutanan dan Perkebunan se-Provinsi Papua Barat.

Sebelumnya sudah dilakukan workhshop pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan tema Pembangunan hutan desa di Provinsi Papua Barat yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat Bekerja sama dengan Perkumpulan Perdu dan The Samdhana Institute. Ada juga sosialisasi tentang peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan sumberdaya alam di Papua Barat yang diselenggarakan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Papua Barat.

Dalam 3 minggu berturut-turut dilaksanakan sosialisasi yang bentuk dan themanya beda-beda tipis. Dengan Menghadirkan orang-orang dari Jakarta dan diselenggarakan di hotel membuat acara-acara pembahasan hutan papua diatas meja ini semakin “elegan”. Terlepas dari tindak lanjut dari itu smua namun ada sisi lain yang terkesan kegiatan seperti ini hanya membuang-buang anggaran terutama jika dampak dari kegiatan tidak sebanding dengan biaya yang keluar.

Perencanaan model kelola hutan di Papua dan Papua Barat. Sedemikian banyaknya pilihan baik yang baru sebatas wacana, yang sudah maupun mungkin baru akan muncul, namun tetap saja hingga saat ini belum diketemukan model yang cocok. setidaknya belum ada tanda-tanda dari keberhasilan model yang sedang di dorong baik pemerintah maupun lembaga bukan pemerintah. tak heran jika banyak yang pesimis.

Terkait dengan Sosialisasi HTR hari ini sedikit membingungkanku. Kebijakan -kebijakan yang dirancang Pemprov Papua Barat yang sejalan dengan pemerintah pusat untuk menerima model HTR untuk dikembangan di Papua Barat sepertinya melalui kajian yang enteng dan tidak komprehensif. Contoh kecil jika model HTR ditawrkan ke Masyarakat Papua adalah apakah ada data di pemerintah tentang lokasi yang sesuai dengan aturan main dalam HTR yakni wilayah hutan produksi yang tidak dibebani hak dan tidak produktif? kalau ada berapa luas dan dimana?

Belum lagi kalau menurut mereka masih ada sekitar 25 HPH dan 19 diantaranya masih aktif di wiayah Papua Barat. Muliah memang jika ada cita-cita Pemerintah untuk mempertahankan hutan alam dan mulai menanam pohon menciptakan hutan melalui Hutan tanaman rakyat. Tapi bagaimana jika Perusahaan yang menebang 100 bahkan 1000 kali lipat jika dibandingkan dengan apa yang akan ditebang masyarakat seandainay diberi akses untuk mengelola hutan?

Berikut adalah terkait dengan Otonomi Khusus dan Hak adat atas hutan dan tanah? apa pemerintah sudah lupa kalau di Papua masih ada Otsus? apa bedanya Papua dan Jawa , Sumatra, Sulawesi jika pilihan atas model pengelolaan hutan tetap sama? tidak hanya dibidang pengelolaan hutan.

Aku malah sempat berpikir kalau-kalau pengambil kebijakan di tingkat daerah ini hanya ingin ‘menangkap bola yang dilemparkan oleh pemerintah pusat” dengan harapan mendapat kucuran dana dari program-program yang belum tentun sesuai dengan daerah Papua. Semoga saja tidak dan betul-betul memikirkan bahwa semua yang akan mereka putuskan tidak berdampak bagi mereka. tapi hutan dan terutama masyarakat Papua yang merek ketahui 80 % hidup di sekitar dan dalam wilayah hutan dengan tingkat ketergantungan terhadap hutan yang tinggi.

Iklan

Sejumlah Perusahaan Tambang Di Papua Barat Mangkir Pajak

Ini adalah tulisan berita dari salah satu koran lokal di Manokwari. Menarik karena bagaimana tidak 6 perusahaan tambang yang jelas-jelas meraup keungtungan besar di tanah ini dengan entengnya tidak membayar pajak ke pemerintah. anehnya lagi pemerintah hanya berharap mereka untuk segera melunasi pajaknya. bukannya berhara memproses perusahaan tersebut dan memberikan sanksi sesuai pelanggarannya malah hanya mengharapakan tambahan dana dari hasil bagi dari pusat ke daerah.

Jelas-jelas sudah melanggar aturan ya harusnya di beri sanksi donk? dan mengapa tidak dipublish saja naman-nama dari keenam perusahaan dimaksud, biar masyarakat juga bisa memantau kedok dari perusahaan yang kerap menghacurkan lingkungan dan membuat ketidak adilan bagi negara terlebih masuyarakat lokal.

Cahaya Papua 29 September 2010
Sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan di wilayah Papua Barat, rupanya diketahui telah mengabaikan kewajibannya membayar pajak ke negara.
Kadis Pertambangan dan Energi Papua Barat, Robert Karma mengatakan, sesuai laporan dan catatan hasil pertemuan kegiatan singkronisasi dan dan konsultasi pertambangan se- Papua Barat, diketahui ada enam perusahaan pertambangan yang tersebar di kabupaten mangkir pajak.
“ini hasil temuan di wilayah Papua Barat,” ungkap Karma kepada wartawan, Selasa (28/9) di ruang kerjanya. Al-hasil, kata Karma, akan muncul permasalahan, khususnya terkait dana bagi hasil dari pusat ke daerah. Kondisi ini diperparah lagi dengan kurang tepatnya mekanisme pembayaran perusahaan kepada pemerintah pusat. Sayangnya, Karma tidak menyebutkan keenam perusahaan yang mangkir dan jumlah besaran pajak yang harus dibayarkan itu.
“belum lagi terindikasi menumpuknya uang di rekening pemerintah pusat. Hanya saja tidak jelas darimana uang tersebut berasal, selain itu ada daerah yang sudah menyetor, tapi belum menyerahkan bukti kepada kementrian” katanya.
Karma menambahkan, ,permasalahan lain yang dijumpai terkait keluarnya ijin pertambangan oleh daerha, sementara perusahaan bersangkutan belum menyetor kewajibannya. “saya himbau semua perusahaan pertambangan yang telah beroperasi di wilayah Papua Barat agar secepatnya melakukan pengecekan dan pertanggungjawaban pajak ke pusat. Sehingga permasalahan ini dapat jelas terlihat dan diselesaikan dan tidak menghambat daerah untuk memperoleh dana bagi hasil sesuai hak mereka.” Tegas Karma.

Bekicok Musuh Kebun

Bekicok (Achatina fulica) binatan tidak bertulang belakang dari golongan gastropoda

Ya. Hewan kecil yang jalannya merayap ini membuatku cukup geram dalam 2 minggu terakhir. Pasalnya setiap malam apalagi jika musim hujan, saya harus melakukan patroli di kebun yang baru saja saya tanami dengan tanaman buncis, sawi dan seledri.

Sebelumnya saya hanya terheran-heran. kok bisa setiap hari ada tanaman yang mati dengan ciri-ciri yang sama. Daun hingga pangkal batang ludes tanpa bekas. Pikiranku sih mengarah ke ayam tetangga yang keram masuk kebun mencakar-cakar dan terkadang memakan daun tanaman. Satu malam, kondisi bulan yang menyinari tanaman membuatku tertarik untuk sekedar jalan-jalan melihat tanaman di malam hari. Ternyata saya memergoki beberapa ekor bekicot yang sedang lahapnya menyantap daun kacang buncis yang baru saja berumur 3 minggu.

yah baru sadar saja kalo ternyata hama yang suka meyerang tanaman para petani adalah bekicot. maklum, baru belajar menjadi petani. walau hanya sekerkedar memanfaatkan lahan yang kosong di pekarangan. Untuk para penanam tanaman di pekarangan seperti saya dan belum tahu kalau bekicot adalah “hama” harus sering memantau hewan yang satu ini.

walau begitu hewan ini memiliki banyak manfaat. untuk daerah Papua, bekicot masih dianggap hewan yang menjijikkan dan belum dimanfaatkan. hanya beberapa kelompok masyarakat yang bisa menyantap sebagai lauk.
untuk info lebih lanjut tentang manfaat bekicot ini bisa di lanjut ke:
http://neilstancwart.wordpress.com/2008/11/20/dibalik-menjijikannya-lendir-bekicot/
http://bzet.blogspot.com/2010/06/mudahnya-beternak-bekicot.html

Sementara saya masih harus mengumpulkan bekicot jika ada dalam kebun dan membuangnya jauh-jauh. semoga ke depan saya bisa menyantapnya.