Arsip Bulanan: Oktober 2010

Bencana Tak Kunjung Berakhir

Hari ini begitu banyak facebooker di Indonesia yang mengganti foto profilnya. Beberapa foto yag hampir sama dengan tulisan “Pray For Indonesia”. Termasuk juga saya yang kebetulan ditag pada satu foto oleh teman di facebook πŸ™‚ . Hal ini tidak lain dilatarbelakangi oleh kejadian mengerikan “Bencana Alam” yang hanya dalam satu periode bulan berjalan, menghantam wilayah Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat.
Sumber : kompas.com sumber :hotbangetnih.blogspot.com
Bagaimana tidak, belum lagi redah duka akibat banjir bandang yang meluluhlantakkan Wasior Ibukota Wonadama pada awal Oktober kini di penghujung bulan yang sama, Sumatra Barat tepatnya di Mentawai diguncang gempa berkekuatan 7,2 SR yang ujung-ujungnya berdampak tsunami dan menwaskan ratusan orang. Selang beberapa hari Yogyakarta yang perna hancur karena gempa juga dirundung malang akibat letusan gunung berapi dan menewaskan puluhan orang termasuk seorang tokoh yang kerap dikenal dengan juruh kunci takkala gunung berapi Sleman bergejolak “Mbah Maridjan” yang hingga saat saya menulis terindikasi meninggal dunia.

Bukan baru tahun 2010 Indonesia mengalami bencana seperti ini. Jauh sebelumnya kejadian serupa sudah berulang kali terjadi baik di daerah yang sama maupun di daerah berbeda. Sayangnya ternyata pengalaman-pengalaman tersebut tidak cukup mendidik kita. Jika dikatakan pengalaman adalah guru maka dalam khasus ini pengalam bukan lagi guru. pertanyaannya adalah sampai kapan kita tidak belajar dari semua ini? apakah cukup dengan berdoa dan menunjukkan duka dengan berbagai ekspresi?

Jika Gempa dan Stunami yang terjadi di Chile lebih dasyat namun menelan korba lebih sedikit. Apakah itu sebuah kebetulan saja? saya rasa bukan. Sepertinya mereka lebih siap dibanding Indonesia. Siap dari segi apa? setidaknya mereka paham bahwa daerah mereka rawan bencana alam dan setidaknya mereka siap dan tau apa yang harus mereka lakukan saat bencana itu datang.

Berdoa lewat slogan “pray for Indonesia” adalah baik. Tapi ada istilah Ora et Labora yang artinya berdoa dan bekerja. Jadi akan lebih baik jika kita belajar dari semua ini dan berdoa untuk diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa agar kedepan kita bisa mengurangi resiko dari bencana yang akan datang πŸ™‚ dan tak ada lagi kejadian seperti di Mentawai dimana ketika instansi terkait mencabut status potensi tsunami setelah gempa dan tenyata tsunami menyusul 😦 .

Menuju Perubahan atau Petaka Baru?

Pagi ini saya bangun agak cepat dibanding beberapa hari sebelumnya yang selalu saja kesiangan :-). tepat waktu jam 9.00 tiba di kantor, sambil membuka komputer jinjing pinjaman kantor, langsung konek internet dan membuka situs koran-koran nasional yg susah didapat di daerahku. Masih jugas browsing iformasi, pikiranku tetap masih teringat pada cerita rekan-reka kantor tentang keberangkatan beberapa orang utusan Pemerintah Daerah (Pemda) Manokwari yang berkunjung ke China beberapa hari lalu.

Sangking penasarannya, saya membongkar kembali koran-koran yang belum terlalu lama dan sudah tersusun di rak arsip sambil mencari berita tentang keberangkatan utusan Pemda Manokwari ke China tersebut. “Investor China Janjikan Perubaha” demikian judul dari berita koran lokal. Ceritanya cukup panjang, mulai dari jumlah peserta yang berangkat yakni 22 orang. terdiri dari tokoh masyarakat dan SKPD di linkgungan Pemda Manokwari. Baca lebih lanjut

Gempa, Manokwari Kaget lagi…

Minggu siang sekitar pukul 13.00 Gempa bumi kembali mengguncang Manokwari Ibukota Provinsi Papua Barat. Manokwari memang sudah berlangganan dengan gempa. Dalam setahun pasti ada saja guncangan-guncangan gempa. Gempa terakhir yang memberikan dampak trauma adalah pada awal tahun 2009 dimana gempa berkekuatan 7,2 SR merubuhkan sejumlah bangunan.

Di koran lokal disebutkan kekuatan gempa 4,8 SR sedangkan informasi yang dikeluarkan BMKG Jayapura, gempa berkekuatan 4,5 SR berada di 24 km distrik manokwari utara arah barat laut. Karakter trauma masyarakat masih nampak. Di tempatku kelihatan banyak warga yang spontan berlari keluar rumah sambil berteriak “gempa”.

Bencana gempa akan selalu mengintip Manokwari dan beberapa wilayah rentan gempa di Manokwari karena patahan yang tepat berada di bagian utara pulau Papua. Sejauh ini kesiapan warga Manokwari tehadap becana termasuk gempa belum begitu dipersiapkan. belum ada tanda-tanda pemerintah mendorong masyarakat untuk mandiri dan siap siaga untuk menghadapi gempa yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Contoh kecil bahwa masyarakat Manokwari belum siap adalah, kesembrautan saat gempa terjadi seperti ini. memang sudah lari keluar bangunan tapi belum terarah seperti jika ada jalur evakuasi, tempat berkumpul dll. kesembrautan seperti ini malah akan memperparah suasana jika kembali terjadi gempa.

Dari informasi yang ada di Papua Wep, Papua merupakan daerah rawan gempa olehnya smua elemen masyarakat sudah harus mulai mengatur persiapan sebelum bencana itu datang dengan harapan bisa mengurangi resiko jikatakala bencana yang tidak diinginkan itu datang. πŸ™‚

Ingin tahu tentang gempa terkini? kunjungi saja web BMKG

Perlu Berpikir untuk Kembali ke Sagu dan Singkong

Sejak 2 bulan kembali dari Kaimana, sumber karbohidrat dari makanan yang ku konsumsi kembali beragam. Kalau di Kaimana, lebih banyak mengkonsumsi nasi, skarang sagu dan kasbi (singkong) jadi alternatif. Kalu sagu karena memang papeda sebagai salah satu bentuk produk olahan sagu selalu saja menarik untuk di nikmati. Sedangkan kasbi memang lagi tersedia (setidaknya cukup untuk konsumsi sendiri dari hasil kebun sendiri). Jadi makin menarik membahas soal makanan pokok ketika membaca tulisan di blog detiknews β€œMari Dukung Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi”. 2 hari yang lalu makan malam saya terpenuhi dengan kasbi goreng. Kemaren makan sian dengan papeda. Karen merasa mulai kurang makan nasi maka saya iseng-iseng ngebrowsing apa sih bedanya kandungan gizi dari masing-masing makanan yag sering ku konsumsi dan hasilnya menunjukkan bahwa nasi bukan satu-satunya sumber karbohidrat yang bisa mengenyakan. Baca lebih lanjut

Update Banjir Bandang Wasior 11/10

Sudah hari ke 7 banjir bandang di Wasior Kabupaten Teluk Wondama terjadi. Exsodus besar-besaran pun tak terbendung selama 3 hari belakang. dari data yang direlease di media lokal dan informasi dari teman-teman relawan di Wasior, hingga hari ini korban meninggal sebanyak 146 jiwa, luka berat 179 orang, luka ringan 535.

sementara pengunsi kini m encapai 4 ribuan orang. pengungsi yang mengungsi ke Manokwari mencapai 4316 orang . 1354 orang berada di pengungsian lapangan Korem, 1526 orang dipengungsian BLK Fasharkan AL. 542 mengunsi ek Nabire dan 2652 orang mengungsi disekitar daerah yang aman di Wasior.

Dari Wasior juga dikabarkan evakuasi dan pencarian korban serta pembersihan kota, masih dilakukan meski medan berat akibat lumpur, pohon dan batuan besar yang terbawa banjir. sementara dari informasi RRI Mnaokwari sejumlah alat berat sedang diangkut ke Wasior untuk membantu kegiatan tanggap darurat di Wasior.

Pengungsi di daerah Wasior sulit dijangkau / menjangkau bantuan akibat transportasi yang terbatas dan bahan bakar minyak. demikian juga dengan relawan untuk mengangkut bantuan.

Pengungsi Kini Takut Membayangkan Kembali Ke Wasior

Kisah Seorang Perempuan yang luput dari Banjir Bandang Wasior
Saya masih takut kembali Kewasior dan tidak berani membayangkan untuk tinggal lagi di Wasior. Demikian sepenggal kata yang terucap Ranti salah seoran gkorban banjir yang selama ini bekerja sebagai guru di Wasior kala bercerita mengenang kisah pahit yang baru dilaluli bersama keluarganya dan sejumlah masyarakat Wasior 4 Oktober lalu.
voto tvone Baca lebih lanjut

Bupati Wondama Bantah Banjir Karena Penggundulan Hutan

Belum habis luka di balik kehancuran Wasior akibat bancana banjir bandang 4 Oktober lalu, sebagian orang mulai mereka-reka bahkan memastikan penyebab banjir tersebut.

Bupati Wondama periode 2005-2010 sekaligus bupati terpilih 2010-2015 Ir. Alberth H. Torey dalam laporan Cahawapapua 8 Oktober memastikan bahwa banjir badang yang terjadi murni karena hujan lebat yang mengguyur daerah Wasior selama 7 jam dan mengatakan bukan karena penggundulan hutan diwilayah pengunungan Wasior.
sementara sebagian warga, pemerhati lingungan dari Lsm Lokal, Greenpeace Asia Tenggara dan Walhi memastikan bahwa bajir tersebut akibat kerusakan hutan di wiayah pegunungan yang persis berada di belakang Kota Wasior dan sekaligus juga merupakan kawasan cagar alam Pengunungan Wondiboy. Baca lebih lanjut