Arsip Bulanan: Januari 2011

Snorkeling pertama 2011. Maninam 26 Januari 2011

Tidak seperti biasanya, mataku melek hingga jam-jam kecil. Sejak pukul 18.00, mataku sudah sayup-sayup mirip ayam tetanggaku yang karena tidak punya halaman selalu daatang bermain mencakar kebun hingga jam 6 sore pulang tanpa pamit karena mengantuk.

Pasti karena terlalu banyak begadang. Salah. Menurutku ini karena beberapa jam saya berendam dalam air laut. Berenang dan sesekali menyelam melirik indahnya karang dan lamun serta warna-warni ikan di salah satu pulau di daerahku. Capek dan pastinya pengaruh air garam yang belum kubilas dari badanku dan memang tidak akan kubilas hingga esok hari. Baca lebih lanjut

Iklan

Pembangunan…Bingung.

Koran Cahaya Papua (salah satu koran harian di Manokwari) hari ini di halaman chaya kaimana dipenuhi dengan berita terkait dengan aktivitas gubernur Papua Barat Abraham O. Atururu di Sorong. Sepertinya ada banyak kegiatan beliau disana. Terlepas dari wacana yang banyak berkembang bahwa berbagai aktivitas gubernur akhir-akhir ini terutama yang bersinggungan langsung ke masyarakat merupakan akal untuk memuluskan perjalanan ke pemilihan gubernur selanjutnya. Yang menarik buat saya adalah salah satu kolom yang menulis tentang pengakuan gubernur yang diberi perintah langsung oleh Presiden SBY untuk memajukan Papua Barat (PB)
Apa yang terlintas dalam pikiranku adalah sejumlah pertenyaan: “emang selama ini Pak Bram naik jadi gubernur bukan untuk memajukan PB ya” kan aneh kalau untuk memajukan daerah yang bapak pimpin haru s diinstruksi lagi dari pimpinan bapak. “Lah selama ini kerjanya apa bapak?”
Katanya ada tiga sugesti dari SBY. Petama pembangunan pabrik semen di Manokwari , pengembangan Sapid an tanaman kedelai di Fak-fak dan Kebar.
Saya merasa aneh dengan pernyataan Pak baram yang dituis di Koran ini. Mengapa baru sekarang memikirkan pilihan2 untuk memajukan daerah. Bukankah sebelum bapak dipilih menjadi gubernur sudah memeiliki berbagai agenda? Atau setidaknya sesaat setelah bapak terpilih menjadi gubernur 5 tahun lalu. Mengapa orang lain yang tidak begitu mengenal daerah ini yang harus turun tangan memberikan araha. Bukan ka kita yang mengenal daerah kita: budaya, topografi sampai potensi yang bias dikembangkan untuk menunjang kemajuan daerah.
Belum lagi jika dikaitkan dengan satu gebrakan yang bapak usung “provinsi konservasi” saya masih ingat sekitar 4 bulan yang lalu ,BAPEDALDA PB melakukan sosialisasi tentang provinsi konservasi ini. Mengingat sudah beberapa aktivitas yang berpotensi merubah rona awal dari bumi PB terutama perkebunan dan pertambangan, sebut saja yang Pak baram (sapaan akrab pak gubernur) sampaikan di Koran ini bahwa Parik semen di manokwari haru berjalan dipertengahan tahun 2011, Cevron dengan tambang migas di Kaimana, BP dengan tambang gas di Bintuni serta tambang batu bara oleh Wet Papua Mining yang sedang melakukan eksplorasi di Manokwari.
Apa makna provinsi konservasi jika sejumlah aktivitar yang berpotensi mengobrak abrik lingkungan dan tatanan kehidupan masyarakat jika tidak dibarengi dengan kajian yang mendalam? Terutama kepastian dari pelaku kegiatan bahwa prinsip-prinsip konservasi tetap berlaku? Mengapa tidak program pembangunan lebih mengarah ke pengembangan yang lebih ramah lingkungan, green project, atau kearifan local?
Saya semakin pesimis dengan cita-cita untuk menwujudkan provinsi konservasi.

Off Road to Anggi Lake (masih gagal)

Perjalanan kali ini sudah direncanakan setidaknya satu bulan sebelumnya. Sejak melihat Danau Anggi dari pesawat yang kutumpangi saat menuju Kaimana dan melintas tepat diatas kedua danau Laki-laki dan Perempuan tersebut. Foto-foto yang sempat terekam kala itu mendorong hasrtat untuk ingin bertemu dan memnyentuh ciptaan sang Pencipta alam semesta yang masih jarang terjamah tangan manusia itu.
Setelah tertunda karena liburan Natal dan tahun baru, akhirnya tim yang terdiri dari beberapa anggota Komunitas Pesisir Universitas Negeri Papua sepakat berangkat tanggal 3 Januari 2010. Saya bersama, Maya, Agus, Usman, Maros, Panji, Galing, Kuncoro dan Novi mempersiapakan logistik dan sepeda motor yang akan kami gunakan. tidak terlu banyak persiapan. Hanya mengecek kondisi motor baik mesin maupun ban dan rem. Logistik pun seadanya, matras, sleeping bag dan baju hangat sudah cukup serta beberapa makanan instan. cukup. mengingat medan yang akan dilalui sedikit berat (pikiran kami sebelum berangkat) krn semua anggota tim blum perna ada yang naik ke Anggi menggunakan kendaraan sepeda motor.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Tanggal 3 Januari 2010 pagi , semua anggota tim sudah berkumpul di villa nature KOMPES Amban. Kondisi cuaca tidak begitu baik, gerimis dan mendung menyelimuti Kota Manokwari bahkan saat bertolak menuju Ransiki, hujan sudah mulai turun dengan agak deras. Semangat yang tinggi mampu menepis rintangan hujan. Motor kami meraung-raung dan menembus celah-celah hujan yang kian membasahi wilayah Manokwari. 1/4dari perjalanan menuju Ransiki diguyur hujan, tetapi gas motor tetap stabil 🙂
Dalam 4 jam, kami bisa tiba di Ransiki dengan selamat. Normalnya, dengan kecepatan rata-rata 75 km /jam kami bisa tiba dalam waktu 3 jam namun karena salah satu motor mengalami kerusakan pada ban maka kami harus ringgah di Oransbari untuk memperbaikinya seklain berwisata kuliner di komplex pasar Oransbari.
Jam telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 14:15 kala tiba di Ransiki. Hanya beristirahat 15 menit tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Anggi 😀
Sepertinya tim memang siap menuju Danau yang berada pada ketinggian 7297 kaki dari permukaan laut dengan jarak dari ransiki sekitar 50 km.

Awal perjalanan dari Ransiki semuanya baik-baik saja.Ttidak ada hambatan yang berarti karena kondisi jalan masih cukup baik hingga melewati kampung beberapa kampung.
href=”https://jelajahpapua.files.wordpress.com/2010/12/danau-anggi-plesteran.jpg”>
Keindahan danau yang dingin itu mulai terbayang disetiap kami,,, hingga akhirnya kami tiba di tanjakan ke 2. Seblumnya kami sudah melewati satu tanjakan yang kondisi jalannya belum diaspal namun motor masih bisa mendaki dengan kondisi stabil. Hingga akhirnya kami tiba di tanjakan ke 2. kondisi jalan yang licin dengan kemiringan sekitar 35 derajat dan terus menerus menanjak ditambah bebatuan dan kerikil serta pasir membuat semua motor yang kami kendarai mulai meraung-raung seolah-olah memarahi jalan yang tak ingin dilaluinya. Beberapa motor harus mendapat bantuan dengan didorong oleh teman lain dan akhirnya setela bersusah payah kami berhasil melewati tanjakan 2 ini. Sejenak beristirahat karen sepertinya tenaga kami banyak terkuras untuk melewati sebuah jalanan menanjak yang jaraknya sekitar 50 m tersebut. 😉
Setelah merasa cukup pulih, kami melanjutkan perjalanan yang masih terus menanjak.. kemiringan sedikit kurang dan kondisi jalan lebih baik dari tanjakan 2 . sayang hanya berjarak sekitar 50 m kami harus kembali mendorong motor kami, semakin keatas, tanjakan semakin menanjak dengan jarak yang lebih jauh. Kondisi jalan berbatu dan cukup licin karena basah akibat diguyur hujan 1 atau 2 hari sebelumnya. ini adalah tanjakan ke-3 . tim masih semangat meski harus ngos-ngosan karena harus bersusah payah untuk mengendarai motor menuju puncak. hingga pada tanjakan ke 4 beberapa motor harus jatuh bangun untuk mencapai jalanan yang sedikit rata.

Bebebrapa Ojek yang lewat dan mencoba berbuat baik kepada kami menyarankan untuk berbalik arah ke Ransiki dan memperbaiki motor yang kami gunakan. menurut mereka, gear yang digunakan harus sesuai medan. dan harusnya itu yang kami lakukan 🙂 . kondisi jalan semakin parah, sepertinya kendaraan kami juga sudah kelelahan terlebih kami yang mengendarainya dan harus jatuh bangun. Aroma pegunungan mulai terasa , suhu udarah mulai berasa dingin dan kabut terlihat menutupi kanopi-kanopi pohon yang menutupi lembah dan bukit sejauh mata memandang. Sudah sore dan kami mulai berdiskusi apakah perjalanan masih bisa dilanjutkan atau tidak. Waw semanagat masih ada rupanya (mungkin juga sekedar membesarkan hati) keputusannya lanjut dan jika kemalaman di tengah jalan, kami akan tidur di pinggiran jalan di tengah hutan berpenghuni makhluk liar…..
href=”https://jelajahpapua.files.wordpress.com/2010/12/yo-tancap-gas.jpg”&gt;Sepeda motor kami harus jatuh bangun melewati jalan yang menanjak terus menerus tanpa ujung licin dan berbatu cadas<a
Sesaat setelah mencapai puncak ke 4 mata kami melotot melihat sebuah tanjakan baru yang kemiringannya bisa mencapai 45 derajat. semangat pun kian menurun dan hanya bisam enari napas panjang. Sedikit menggunakan logika denganpertimbangan waktu, kondisi cuaca, kondisi kendaraan dan keselamatan anggota maka kami memutuskan untuk berbalik arah dan bertolak menuju Gunung botak untuk bisa beristirahat. Butuh sekitar 3 jam hingga akhinya kami bisa tiba di Gunung Botak melalui Ransiki. kami tiba sekitar pukul 19.30 dan langsung mengurus konsumsi krn perut kami sudah keroncongan. Tak berpikir panjang, semua anggota tim beristirahat dengan beralaskan matras dan beratapkan langit bertabur bintang 🙂
Anggi Lake, above 7000 ft  from sea level & 50 km from Sub Distric Ransiki - Manokwari<a
Niat hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. demikian nasip kami yang hanya bermodalkan nekat (nekat mati kali yee) tapi tak ada rotan , akar pun jadi, kondisi perairan/ pantai di sekitar Gunung Botak cukup menghibur hati. 2 Jam berputar-putar mengelilingi daerah ini kala pagi tiba, cukup untuk menghibur kekecewaan hati anggota tim. hingga akhirnya kami pulang ke Manokwari dengan penuh rasa penasaran . sebagian tim masih berjanjiakan kembali dengan persiapan yang lebih matang suatu hari nanti….
Danau Anggi yang teridir dari 2 bagian danau (danau Laki-laki dan danau Perempuan) saat ini kami tidak bisa menggapai dan menikmati pesonamu tapi satu hari nanti, kami akan datang dan menikmati pesonamu 🙂