Arsip Bulanan: November 2011

Rahasia Pohon Kunang-kunangpohon kunang

SIapa yang belum perna melihat kunang-kunang? Pasti sudah kan? Kalau pohon kunang kunang? Blum? Pasti banyak juga yang belum melihat pohon kunang-kunang terutama kalian yang hidupnya dihabiskan di kota-kota besar. Kunang-kunang yang sebnarnya merupakan serangga termasuk dalam golongan hewan dengan bioluminescence yakni hewan yang bisa memancarkan cahya dan tanpak pada saat gelap.

Kunang-kunang akan dapat ditemukan dengan mudah di daerah-daerah yang pinggiran kota atau pedesaan terutama pada musim panas. Nah minggu lalu saya dan beberapa kawan dari daerah jawa nongkrong dan bercerita lepas di sebuah bukit di kampugn Sira Sorong Selatan. Tidak jauh dari tempat kami ngerumpi terdapat sebuah pohon. Yang menarik adalah pohon itu tampak seperti pohon natal yang dihiasi kerlap kerlip lampu. Kawan saya mengira itu hanya pantulan cahaya dar sebuah lampu atau senter ^^ padahal hampir seluruh daun dan ranting pohon tersebut dikerumuni si kunang-kunang. Dan tampak sangat indah seiring datangnya gelap malam.
Baca lebih lanjut

Iklan

Batuk 100 Hari

Lelah rasanya hari ini, tulang tulang serasa remuk setelah beraktivitas di lapangan seminggu penuh di tambah dengan perjalanan darat yang tipenya off road selama lebih dari 4 jam. Begitulah kondisinya setelah pulang berjalan-jalan di Sorong Selatan. Tapi, apapun kondisinya,tetap saja ada cerita-cerita menarik dari sebuah perjalanan. Kunjungan ke 2 saya di sebuah kampung terpencil yang berada di bagian barat Kabupaten Sorong Selatan. Dua kampung yang letaknya hanya beberapa ratus meter dengang topografi yang berbeda. Satunya di lebah dan satunya di perbukitan.

Kali ini tentang sebuah penyakit. Penyakit yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan ‘batuk 100 hari’. Entah darimana asalnya dan siapa yang menamai penyakit batuk yang umumnya menyerang anak-anak dan balita itu yang jelas selama 1 minggu berada di kampung, ada saja anak-anak atau balita yang yang terlihat setengah hidup terbatuk-batuk. Terutama menjelang dan malam hari. Sungguh ironi melihat kondisi bak wabah ini meski demikian anak-anak terkadang sedikit menlucu ketika melihat sahabatnya sedang terbatuk-batuk, yang lain akan menolok serambi berkata ‘mati sudah’. Padahal lewat beberapa menit giliran mereka yang batuk hingga air matanya keluar 
Baca lebih lanjut

PERKAM – Krisis Air Berkepanjangan

Saya ingat benar ketika 9 tahun silam saya menginjakkan kaki pertama kalinya di kompleks ini. Sebuah pemukiman di daerah pinggiran kota di ketinggian lereng Gunung Amban Manokwari. Kala itu pandangan pertama yang kusaksikan adalah sejumlah ibu-ibu dan anak-anak yang mengantre dengan puluhan jerigen di sebuah pipa kecil yang mengeluarkan air dengan debit yang hampir serupa dengan aliran air dari batang liana di tengah hutan sana.

Demikian mereka mengantri seperti mengantre minyak tanah di kios milik orang makassar di pojokan lapangan bolah amabn sana. setelah tinggal beberapa waktu, saya mengetahui bahwa tidak ada layanan air bersih bagi puluhan warga di sini. merek ayang mendapatkan air bersih adalah staff / pegawai Universitas Negeri Papua (UNIPA) yang kebetulan memeiliki perumahan di sekitar kompleks. mereka mendapatkan jatah aliran air selama 2 jam untuk tiga hari dalam seminggu. Jadi, keluarga yg bukan merupakan staff UNIPA hanay bisa mengharapkan air kelebihan dari tetangga mereka. Jika tida, mereka harus turun ke lereng bukit sejauh kurang lebih 150 m dengan kemiringan diatas 45 derajat untuk mendapatkan ari bersih dari sebuah mata air di bawah sana. Sayapun selama tinggal selama 2 tahun di komplex ini kerap turun untuk mandi dan mengambil air dengan menggunakan jerigen.

Kini setelah meninggalkan kompleks Perkam ini selama 8 tahun, kondisinya masih saja sama. Bahkan lebih parah karena penduduknya makin banyak jumlahnya. Sejak 2010, masyarakat sudah sepakat untuk mengatasi persoalan krisis air dengan membuat bak penampung di mata asir yang terdapat di bawah lereng bukit untuk dialirkan ke atas pemukiman, sayang encana tersebut masih sebatas pembangunan bak saja. Pengadaan pompa dan pipa saluran air masih terkendala hingga tahun ini. Biaya dan minimnya informasi terkait jenis pompa yang cocok untuk digunakan belum didapatkan.

Nah, saya secara emosional sangat dekat dengan warga ini. Meski tidak lagi tinggal menetap di sini, saya masih saja sering datang dan bercerita atau menginang dengan warga kompleks. Tiba -tiba saja saya teringat dengan sebuah acara di tv yang perna ditanyangkan tentang pompa yang melawan gravitasi bumi. Pastinya bisa menolong masyarakat di sini jika pompa tersebut bisa saya peroleh. Respek saja otakku ke goole dan mulai browsing kiri kanan tentang pompa hidram. pompa yang tidak menggunakan mesin dan bahan bakar . TEPAT.

Yang masih menjadi persoalan saat ini adalah, Saya belum mendapatkan informasi tentang dimana saya bisa mendapatkan pompa hidram itu. Meski saya sudah mendapatkan prinsip dasar kerja pompa, informasi alat dan bahan serta peritungannya, tetap saja saya sudah untuk merakitnya sendiri. ditambah lagi fasilitas seperti bengkel di kota saya tidak bisa merakit alat pompa tersebut.

Seorang kawan saya di Yoja sih sudah mengaku punya teman yang bisa merakit pompa. data2 yang diperlukan seperti ketinggian , debit air dan jumlah kebutuhan air yang ingin disuplay pun sudah kusampaikan. smeoga saja dia dan kawannya bisa menolong kami. Tapi jika ada dari pembaca yang sempat nongol ke blogku ini dan mengetahui informasi tentang pompa hidram itu, mohon hubungi saya di sumbung.amos@gmail.com

Saya dan masyarakat Perkam sangat membutuhkan bantuan anda sekalian dalam pengadaan pompa hiddram ini.

BAk penampungan air yang dibuat masyarakat secara swadaya menunggu pompa untuk mengalirkan ke puncak pemukiman

BAk penampungan air yang dibuat masyarakat secara swadaya menunggu pompa untuk mengalirkan ke puncak pemukiman