Arsip Bulanan: Mei 2012

Bangunan Megah tak Berhuni

Hmmmm sedikit seram jika membayangkan sebuah rumah atua gedung dengan ukuran besar tapi tak berpenghuni. Saya jadi teringat sebuah catatan saya tentang sebuah rumah sakit yang dibangun di Kaimana tapi menjadi kandang sapi. Juga beberapa Puskesmas Pembantu di Papua yang menjadi rumah hantu karena tidak digunakan sebagaimana mestinya alias KOSONG.

nah, akhir bulan April 2012 kemaren, saya kembali berkunjung ke Teminabuan, Ibukota Sorong Selatan dan mampir di beberapa Kantor SKPD. kebetulan kantor dinas-dinas, BAPEDA dan Kantor bupati berada pada satu kompleks perkantoran. Dari jalan masuk kompleks, trotoar hingga taman jalan dan bangunan kantor, tampak cukup mewah dengan berbagai fasilitas termasuk Internet.

Akan tetapi, betapa kagetnya saya ketika ingin menemui beberapa orang di beberapa dinas dan tak satupun dari mereka yang saya dapati. Padahal jam saya sudah menunjukkan pukul 10.30 am. begitu banyak ruang yang kosong berisi meja, lemari dan kursi didalmnya. hahaha ternya tidak hanya di dinas-dinasnya… samapi di kantor bupati yang luasnya setengah lapangan bola dan berlantai 2 itu pun sama saja. lah kemana PNS yang direkruit tiap tahun? bukannya jumlah PNS yang diterima ratusan?

Salah satu ruangan di kantor bupati Sorong Selatan. tampak tidak ada aktifitas di dalamnya

Iklan

Setitik Harapan Hutan dari Selatan Sorong

Mangroholo Sira – Setitik Harapan Hutan dari Selatan Sorong
“Hutan untuk kehidupan” demikian ungkapan salah seorang masyarakat Kampung Mangroholo yang kini mekar menjadi dua kampung yakni Mangroholo dan Sira. Kampung yang terletak jauh di selatan Kota sorong ditengah rimbunnya kanopi pepohonan hutan alam dan nyaris tak tersentuh. Dua kampung yang saling melengkapi : Mangroholo di lembah dan Sira di perbukitan, Mangroholo berbatu dan Sira berpasir.
Bertengger di puncak bukit kampung Sira adalah hal yang mankjubkan bagi saya, pemandangan yang hijau sejauh mata memandang hingga terbentur pada perbukitan Kakas. Gugusan embun di pagi hari hingga sinar surya yang memerah di sore hari dapat saya nikmati di sini. Kampung yang penduduknya menggantungkan hidupnya pada hutan adat mereka turun temurun.
Bersama Greenpeace, saya bisa hadir di kampung ini melaui sebuah perjalan panjang yang melelahkan. 5 jam perjalanan darat dengan kondisi jalan yang offroad cukup melonggarkan tulang belulang. namun, Greenpeace sudah hadir di sini jauh sebelum kendaraan menembus Manggroholo dan Sira. Dan saya bisa membayangkan sulitnya perjalanan pendahulu-pendahulu saya menuju kampung ini. Greenpeace mencoba memberikan solusi dan membantu masyarakat Mangroholo untuk memnafaatkan hutan mereka secara berkelanjutan.
Saya baru 3 kali berkesempatan mengunjungi kampung Mangroholo dan Kampung Sira yang letaknya berdekatan. Tapi dari 3 kali kunjungan saya tersebut, saya bisa menyaksikan bagaimana hutan menghidupi masyarakat kampung. Sagu yang menjadi makanan utama adalah sagu yang diambil dari sagu alam. demikian juga dengan berbagai jenis hewan buruan dan sayuran mereka peroleh dari hutan disekitar kampung. Papeda hasil olahan dari sagu akhirnya berhasil menyuplai kebutuhan karbohidrat saya pada kunjungan kedua selama 2 minggu.
Tak hanya itu, berbagai jenis penyankit warga kampung dan tidak mendapatkan perawatan medis karena tidak adanya tenaga medis di kampung bisa diatasi dengan menggunakan obat-obatan tradisional dari hutan.
Hutan di Mangroholo-Sira tidak hanya memberi makan bagi masyarakat Kampung. Hasil hutan lainnya dimanfaatkan untuk kebutuhan membangun rumah. Dari tiang, rangka, dinding hingga atap semuanya berasala dari hutan. Bahkan budaya mereka tidak terlepas dari keberadaan hutan yang sudah sekian lama menjadi ‘rumah” bagi mereka. Liahat saja peralatan rumahtannga mereka. Mulai dari dapur hingga kamar hampir semuanya merupakan peralatan yang dibuat dari bahan-bahan dari hutan. Lagu-lagu daerah yang diciptakan dan dinyanyikan para pemuda dan anak-anak kampung tidak jauh dari tema alam hutan.
Meski hutan disekitar Mangroholo-Sira tampak tenang, hewan-hewan liar bisa hidup alami namun, di luar sana berbagai perusahaan HPH dan Perkebunan menyerang hutan-hutan Papua, tidak luput juga hutan-hutan yang berada di sekitar Kampugn Mangroholo dan Sira yang konon akan dijadikan lahan perkebunan sawit. Dusun sagu kini berganti dusun sawit.
Saya teringat suatu hari di tahun 2009, masyarakat kampugn Mangroholo dan Kampung Mlaswat menggelar sebuah aksi di ditengah hutan mereka dan mengundang pemangku kebijakan di kabupaten Sorong Selatan . Aksi tersebut bertujuan untuk meminta pemerintah tidak mengijikan perusahaan atau mencabut izin perusahaan yang sudah ada dari hutan adat mereka.
Entah sampai kapan hutan – hutan perawan di Kampung yang terpencil di bagian barat Teminabuan ibukota Kabupaten Sorong Selatan ini bertahan. Bagi saya, semangat masyarakat kampung Mangroholo Sira untuk tetap menjaga hutan mereka demi kehidupan adalah setitik harapan bagi hijaunya hutan Papua.