Arsip Bulanan: Desember 2012

Ada Proyek Siluman di Kampungs

Bukan rahasia lagi kalau ada begitu banyak program yang turun dari pusat ke Papua (Papua dan Papua Barat) entah itu prgogram yang memang ingin memajukan tanah yang “panas” ini atau sekdar sebagai lahan proyek guna meraup keuntungan karena “sexy”nya tanah ini. Sangking banyaknya sampai-sampai masyarakat kampung bingun untuk mengingat apa saja dan darimana program pembangunan itu.

Jumlah dan jenisnya banyak sehingga berwarna warni menyerupai warna pelangi pada permen lolipop 😀
Dari perjalanan saya ke kampung-kampung saya menemukan satu proyek dari pemerintah pusat yakni Kementrian Informasi dan Komunikasi (KEMENINFO KOM) yang saya namai proyek siluman.

project siluman

Persoalannya adalah semua kampung di Papua mendapatkan bantuan berupa satu set pesawat telepon yang terdiri dari antena satelit, resiver, pesawat telepon dan solar panel lengkap dengan batrey.
Entah apa tujuan dari pemasangan telepon umum di setiap kampung ini . Demikian pertananyaan beberapa warga kampung ketika saya bertanya kepada mereka tentang mengapa dipasang telepon di kampung mereka. Parahnya lagi, “orang-orang’ yang datang di kampung dan memasang alat tersebut tidak menjelaskan darimana asala mereka, tujuan memasang telepon dan cara mengoperasikannya.

Jadi apakah ini termasuk proyek hambur-hambur duit dan bagi-bagi keuntungan dari sebuah proyek berlabel penginkatan pembangunan dan pelayanan masyarakat?
Coba saja hitung berapa biaya dari pengadaan alat telepon umum tersebut? Sementara sudah 1 tahun pemasangan tak satupun dari alat tersebut difungsikan katrena tadi, keterbatasan informasi oleh masyarakat. Selain itu ada sejumlah kampung yang sudah dijangkau signal privder telepon selular. So?

Ayolah pemerintah ,, kita tidak akan perna maju kalau program yang turun kekampun hanya asal-asal dan sekedar hambur-hambu rduit dan sekedar pasang LOGO.

Iklan

Mimpi Pompa Hydram

Panas terik selalu menjadi hal yang tidak menyenangkan berada di kampung ini. Kampung Sira. Letaknya yang berada di perbukitan berpasir membuat suasana gerah. Meski letaknya berada ditengah hutan belantara tetap saja panas terik matahari membakar kulit plus udara yang panas.

Saya baru saja menghabiskan 2 jam di perigi berukuran ± 1 m2 letaknya kira-kira hanya 1 meter dari pemukiman dan berada dilembah. Matairnya memiliki debit air yang kecil sehingga teman saya memperkirakan tidak cukup untuk kebutuhan mandi 3 orang sekaligus. Faktanya tidak demikian , meski 5 orang yg mandi disana sekaligus airnya akan cukup juga. Mandi dan mencuci beberapa helai pakaian pun sukses saya lakukan sembari menikmati teduhnya pepohonan.

Saya bermimpi: 3 buah pompa hidram (hydolic pump) dipasang pada pancuran yang berada dilembah seberang. Disana ada pancuran yang debit airnya lebih besar dan aktivitas mencuci, mandi dan mengambil air bersih hampir semuanya dilakukan masyarakat kampung di pancuran itu. Ke-3 pompam hidram itu dihubungkan dengan 3 selang berdiameter 1/4 inci menuju bak penampung yang berbeda. 1 bak penampung berada di puncak bukit. Diatas puncak ada 7 rumah. Bak penampung itu akan menjadi sumber air bersih bagi ke tujuh rumah itu.
Pompa yang kedua akan mengalirkan air ke bagian tengah kampung ada 8 rumah yang akan menikmati air bersih dari pompa yang mengandalkan tekanan air tersebut. Pompa yg ketiga akan mensuplay air ke bagian ujung kampung. Ada 5 rumah disana dan anak-anak mereka bisa mandi sepuasnya dan berharap mereka bisa mandi 2 kali sehari 🙂

Setiap 3 bulan sekali, masyarakat yang hobbinya ngerumpi di puncak bukit pada pagi hari ini akan mengecek selang-selang yang mengalirkan air bersih ke bak penampung. Membersihkan selang dari lumut-lumut, memperbaiki kebocoran dan memastikan bahwa pompa bekerja maximal.

Selanjutnya saya ingin kampung Komanggarek, kampung Mlaswat dan Kampung Kwowok. Mereka adalah kampung tetangga yang juga sumber airnya berada dibawah pemukiman memiliki pompa yang sama. Mama-mama tidak lagi capek memikul jerigen dari sumber air ke rumah mereka. Anak-anak jadi ranjin mandi dan terhindar dari penyakit kulit yang menurut saya banyak diderita masyarakat kampung karena kurang bersih alias jarang mandi. Terlebih lagi, wc umum yang sudah dibangun pemerintah bisa difungsikan karena tersediannya air.

Saya termasuk orang yang sangat tertarik dengan pompa hidram. Tertarik dengan teknologi tepat guna terutama yang sifatnya hemat operasional dan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat kampung yang memiliki penghasilan dari segi uang sangat rendah. Mereka biasanya lebih mengutamakan bahan makanan dibanding mencari uang dan saya rasa mereka akan selalu gagal jika menggunakan pompa listrik. Lihat saja kampung-kampung yang memasang disel untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Kebanyakan kampung mengalami kesulitan dalam memenuhi pasokan bahan bakar. Selain karena keterbatasan suplay dari suplayer, warga kampung juga tidak memiliki uang yang cukup untuk selalu membeli BBM tiap minggunya. Jadi jika ada yang gratisan, mengapa harus membayar?

Jet Lag di kampung-kampung

Jet lag. saya sendiri blum perna mengalami penyakit traveler lintas benua yang satu ini. Tapi kononn katanya penyakit jat lag trjadi akibat perbedaan waktu yang menyolok seperti Indonesia dan Amerika atau Eropa yang perbedaan watunya belasan jam. Dampaknhya adalah mengantuk, lapar atau berasa buang air pada jam yang kebalikan 😀 ….

Biar trveler kampung seerti saya juga terlihat keren karena mengalami jetlag maka saya mau berbagi seperti apa jetlag yang saya alami sebagai orang yang suka jalan-jalan tapi jalan-jalannya ke daerah 🙂

Begini ceritanya: saya sering berkunjung ke kampung-kampung di Papua rata-rata waktu saya untuk traveling adalah 1-2 minggu. Tau kan kalau di kampung kondisinya seperti apa? Kondisinya serba berbeda dari kota mulai dari ketersediaan air bersih, WC hingga makanan.

Sebagian besar kampung di Papua tidak memiliki fasilitas air bersih. Mereka umumnya memenuhi kebutuhan air bersih dengan memanfaatkan mata air atau sungai yang berada dekat pemukiman bahkan ada beberapa kampung yang hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih.

Untuk urusan buang air jangan berharap banyak bahwa anda akan menemukan sebuah toilet berkeramik di kampung-kampung yang ada wc alam beratapkan langit dan berdindingkan pohon atau semak hehehe.. Tapi jangan khawatir anda akan selalu menememukan WC umum di hampir setiap kampung di papua berlabel PNPM Mandiri atau OTSUS probemnya adalah WC umum yang dibangun dengan dana puluhan juta itu banyak yang kekeringan alias tidak memiliki instalasi air. Lah gimana dong kalau buang air?

Umumnya orang indonedia mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Tak heran jika ada kalimat “belum kenyang kalau belum makan nasi” yah begitulah faktanya. Segalah macam ubi-ubian , sagu atau jagung yang dulunya menjadi makanan pokok moyang kita sudah disangkal dan hanya menjadi makanan pelengkap saja. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras (busuk) dan program beras miskin (raskin) yang mendorong masyarakatnya untuk tetap bergantung dengan beras. Sykurnya masih ada kampung-kampung yang bertahan hidup dengan makanan lokal mereka. Di pegunungan tegah misalnya, ubi jalar masih menjadi makanan pokok dan pengalam saya di bulan ini yang membuat sayamengidap pepnyakit “jatlag”

Jadwal saya ke Sorong selatan kali ini untuk berkunjung ke kampung-kampung yang ada di Distrik Saifi. Awalnya saya rencanakan untuk berkunjung selama 2 minggu dan karena beberapa hal saya harus tinggal lebih dari waktu tersebut. Biasanya setiap berkunjung saya selalu membawa beras apa lagi jika waktu berkunjung mencapai 1 minggu. Kali ini saya tidak membawa beras. Alasannya simpel saya menggunakan motor dari ibukota kabupaten (Teminabuan) dan itu membuat saya kesulitan untuk membawa berbagaimacam logistik . Agar penrjalanan semakin nikmat, saya hanya membawa satubuah tas ransel kecil dan bumbu masak 😀

Seminggu berlalu, “Jetlag” pun menjemput. Perut saya berasa aneh. Perasaan kurang enak dan akhirnya butuh perawatan medis. Spekulasi bahwa mungkin saja penyakit lambung saya kumat, atau janga-jangan usus buntu ,ewarnai pikiran selama perjalanan kembali ke Teminabuan. Setelah susah paya mencari dokter praktek yang ternyata tidak ada di kota sepanggal tersebut akhirnya saya bisa konsultasi dengan seorang dokter di rumahsakit umum. Vonisnya saya tidak apa-apa, hanya gangguan pencernaan dan kurang vitamin. Lah kok?

Apa karena saya seminggu ini dari pagi siang dan malam hanya mengkonsumsi Papeda? Bisa ya bisa tidak tapi demikian keadaannya. Mungkin perut saya sedikit mengalami jatlag karena biasanya mengkonsumsi papeda terus menerus selama seminggu belum perna saya lakukan. Ha akhirnya saya memutuskan untuk mengganti pola makan. 2 hari papeda : 1 hari nasi 🙂

Jetlag lainnya adalah buang air besar. Normalnya saya buang air 1-2 kali sehari tapi setiap ke daerah yang sumber air dan wcnya susah malah berbalik 2 hari sekali 🙂 . Mungkin karena pikiran selalu membayangkan repotnya mencari tempat untuk memenuhi panggilan alam jadi otomatis perasaan untuk memenuhi panggilan alam juga tertahan 😀