Arsip Bulanan: Maret 2014

Mimpi di Awal Januari

Siang ini saya berada di puncak bukit Sira. sebuah kampung yang letaknya 20 km arah timur “Kota Sepanggal” Teminabuan, Ibukota Kabupaten Sorong Selatan. Masih dalam suasan Tahun baru, dan usai besalaman dengan seluruh penduduk kampung saya memandangi dataran hutan yang terhampar hingga muara Seremuk nun jauh disana. Sejuta mimpi telah terbangun bersama para warga pribumi disini dan jika saya saat ini berada disini maka itu adalah karena mimpi bersama masyarakat Suku Kna yang mendiami 4 kampung di Distrik Saifi ini. Sepanjang perjalanan menuju Kampung ini begitu banyak lamunan ; udara, mobil hingga motor. Salah satu mimpi yang sering membangunkan saya dalam setiap saat adalah mimpi yang ingin saya bagikan kepada teman-teman sekalian . Kali-kali saja ada ayng memiiki mimpi yang sama maka kemungkinan untuk menjadi kenyataan akan semakin besar.

Saya sudah menghabisakan 16 tahun hidup di Papua, Belajar dan bekerja. Saya begitu jatuh cinta dengan tanah yang penuh dengan pesona ini. Meski demikian saya tidak bisa memungkiri bahwa saya aslinya berasal dari sebuah kampung yang berada di tengah-tengah Pulau Sulawesi. Kampung yang berada pada ketinggian lebih dari 1500 meter diatas permukaan air laut. Dan saya juga punya mimimpi tentang kampung tersebut. Kampung dimana tali pusat saya ditanam.

Saya bermimpi memiliki sebuah rumah bambu. Dahulu kala, nenek moyang kami Orang Toraja menggunakan bambu dalam banyak hal, termasuk dalam membuat rumah hunian mereka. Saya sendiri tidak tahu menau apasih arti bambu bagi orang Toraja. Yang jelas pasti ada filosophi besar sehingga nyaris setiap rumah, setiap halaman dan setiap pemukiman ditumbuhi rumpun bambu. bagi Suku Knas di Sorong Selatan “bulu tui” sebuatan bagi sejenis bambu berukuran kecil dan tipis (masyarakat papua mengenalnya dengna sebutan bambu kalawai)merupakan simbol perdamaian. dan hingga kini, rekam jejak bambu masih bisa terlihat di beberapa lokasi di Toraja. Misalnya saja daerah wisata Ke’te Kesu. rumah toraja yang atapnya menggunakan bambu. atau didaerah pedalaman dimana beberapa lumbung padi mansih terbuat dari Bambu. Tak hanya itu, disetiap acara besar, bambu menjadi alat masak yang praktis dan itu masih kita jumpai hingga saat ini.

Kembali kerumah Bambu. sejak lulus kuliah saya sering browsing “rumah bambu” beragam gambar rumah bambu saya koleksi dan sepertinya saya tergila-gila dengan arsitek bambu. Beberapa situs yang muatannya adalah bambu menjadi boomark pada kommputer saya. beberapa halaman bertemakan bambu di Facebook pun sukses saya “like” dan ide membuat ryumah bambu (full bambu) sempat saya kemukakan ke orang tua saya dalam beberapa kali kesempatan. Meski tidak begitu mendapat tanggapan namun saya masih optimis, mimpi memiliki rumah bambu kmasih bisa tercapai. Modernisasi telah merubah pola berpikir oran tua dan para pen duduk kampung bahwa rumah batu lebih baik, lebih moderen dan memiliki nilai status sosial yang lebih tinggi sehingga tak ada lagi yang mau menggunakan bambu sebagai bahan bangunan rumah mereka.

Saya Bermimpi memiliki sebuah rumah / Bengkel Budaya. Terlalu naif mungkin jika saya menyebutnya bengkel budaya. Memang siapa? budayawan? bukan, Sastrawan? bukan. bahkan boleh dikata saya orang yang tidak paham budaya. secara sejak kecil sudah harus eksodus ke Papua dan tinggal dengan keluarga rantau hingga mandiri tanpa bimbingan budaya. so tau apa tentang budaya?.

Oleh sebab itu saya ingin memiliki sanggar, rumah , bengkel atau apalah namanya yang di dalamnya ada proses belajar:

  • Massura‘ : Artinya mengukir. Kalian Pasti taulah bahwa rumah dan lumbung orang Toraja sebagian besar diukir. dan proses mengukirnya tampak rumit dan yang pasti dengan mengunakan tangan alias handmade. tidak banyak anak Toraja yang tahu menahu dengan proses mengukir tersebut. Hanya ada satu dua orang. dan sebagai warisan budaya kondisinya sepertinya sangat memprihatinkan. Saya sendiri merasa sangat tidak beruntung tidak memiliki ketrampilan mengukir tersebut. Saya berpikir mestinya Proses mengukir ini menjadi ketrampilan mutlak diketahui setiap putra tanah toraja. Entah itu mau dikembangkan atau tidak yang jelas wajib mengetahui dasar-darat pembuatan dan nama serta arti dari setiap ukiran yang ada. Kedepan Bengkel budaya saya akan mengajarkan hal ini 🙂 satu lagi saya ingin proses pewarnaan dalam pengukiran tersebut tidak menggunakan pewarna toko melainkan pewarna alami .
  • Manganan : Menganyam. masalah hasil anyaman ada di beberapa daerah. Di toraja yang saya tahu ada beberapa hasi lanyaman :
  1. Ale : artinya tikar. dulu jaman anak2 saya mengenal ada dua jenis ale. Duua-duanya terbuat dari daun. namun yang umum saya jumapai dan biasa dibuat oleh mama saya adah tikar yang dirajut dari sejenis rumbput seperti tali berukuran rata-rata 1 meter. Dalam beberapa tahun terakhir ketika saya pulang kampung, sudah tak ada lagi ibu-ibu yang mengerjakan pekerjaa menganyam tikar. Entah apa penyebabnya namun yang jelas budaya yang unik ini nyaris sirna. sangat disayangkan jika kedepan tak ada lagi yang bisa menganyam tikar. Jadi di Bengkel budaya saya akan ada para Ibu-ibu sebagai guru pengajar dan naka-anak usia remaja menjadi murid2nya.
  2. Berua’ : artinya Keranjang. keranjang ini macam-macam jenis dan ukuranya. seingat saya ada kerannyang untuk emnympan daging, ada untuk tempat peneluran ayam, ada juga untuk mengurung ayam dan semuanya terbuat dari bambu.
  3. Kapipe : Artinya bakul , rajutan bakul ini berbahan dasar sama dengan tikar dan sepertinya sudah punah. saya sangat berharap masih ada orang tua yang bisa membuatnya sehingga pengetahuannya bisa ditransfer ke generasi muda yang ada.
  • Ma’Pompang : ini adalah sebuah alat musik tradisional yang katanya asli dari toraya. belajar alat musik pompang sangat penting bagi generasi muda kampung saya. adanya pengaruh budaya luar yang begitu cepat, membuat drumband dan musik rock lebih disukai dibanding belajar musik tradisional. Bayangkan saja jika musik pompang, alat musik yang terbuat dari bambu ini bisa mendunia seperti kolintang apa tidak bangga? . tak hanya itu banyak kesenian toraja lainnya yang bisa dipelajari anak2 kampung saya nantinya di sekolah saya. Manimbong, Ma’dandan dan Mangellu. pasti akan memnbuat kampung semakin ramai.

Jadi hubungannya apa? Rumah Bambu dan Bengkel Budaya? yah belajar membutuhkan ruang. dan Rumah bambu itu akan menjadi tempat belajar . Kira-kira nama apa yang cocok ya? saya punya ide untuk itu. “ALE SURA” ale berarti tikar sura ‘ berarti ukir. ale bisa berarti wadah atau tempat, sura ‘ bisa diartikan belajar ataupun diartikan seni. Yuk sebelum catatan saya semakin ngaur dan tidak enak untuk dibaca kita kahiri saja mimpi ini dengan menjadikannya NYATA 😉
sira

 

Sira 23 Januari 2014

Iklan