Arsip Bulanan: Desember 2014

Membangun Setengah Hati

Minggu ini saya sangat sibuk dengan urusan browsing pompa air tenaga surya. Tak hanya membrowsing tapi juga mengongtak beberapa rekan yang memang expert dibidang perpompaan dan solar panel. Sebenarnya sih bukan baru minggu ini, sudah sejak lama saya meriset (cie riset) yang namanya pompa air. Maklum, salah satu kampung yang sering saya kunjungi di Kabupaten Sorong Selatan sana sangat sulit untuk mendapatkan air bersih. Sulit dalam artian saya harus mengangkat air dari sumur ketika ingin BAB . bagaimana tidak, di kampung itu ada 2 buah WC umum berlabel program nasional PNPM Mandiri . Tapi, setiap mau BAB, harus turun ke sumber air yang jaraknya sekitar 100 m . lah kalau kebelet? Bisa berka celana kan? . syukurlah, saya sudah mendapatkan hasil dari browsing dan riset saya.

Kembali kepersoalan pompa. Saya sangat tertarik dengan yang namanya pompa hydram. Ituoh pompa yang tidak menggunakan energy listrik dan hanya mengandalkan gaya grafitasi . saya juga perna menuliskan diblog saya kenapa saya ingin sekali menggunakan pompa ini. Alsannya klasik, banyak daerah di Papua yang masyaraktnya hidup di lereng gunung dengan sumber ari berada dibagian lembah. Parahnya, sampai hari ini saya belum bisa mendatangkan satupun pompa hydram. Cuihhh. Perna sih bereksperimen dengan memberli serangkaian sambungan pipa dan embel-embelnya di toko bangunan. Dengan modal guru mr.youtube, alhasil hasilnya NOL besar 😀

DI kampung Siradan Manggroholo sebenarnya sudah punya pompa air. Bantuan PNPM Mandiri juga. Tapi saying, pompa yang menurut masyarakat dibeli dengan harga lebih dari 20 juta itu, hanya berfungsi selama 6 bulan. Itupun tidak setiap hari. Karena pompa menggunakan listrik agar bisa beroperasi. Bicara listrik, memang kampung mana sih di Papua yang tidak memiliki generator set alias genset? Bahakan di kota-kota banyak keluarga yang memiliki genset. Samapi-sampai di Sosel terkenal dengan “Kabupaten Genset” kenapa? Karena listrik padam tiap hari . di kota saja listrik padam tiap hari apa lagi di kampung? Yang management pengelolaan listriknya abur adul?

Heran saja dengan program pemerintah yang saya bisa bilang begitu banyak dan mahal di daerah-daderah di Papua. Jika dihitung kasar, 1 kampung rata-rata memperoleh kucuran dana segar sebesar 250 jt pertahun. Kecil sih tapi jika disbanding dengan luas dan jumlah penduduk kampung yang tidak begitu banya, 250 juta ini bisa saja berdampak besar bagi perubahan di kmapung. Sanyang seribu saying, pemerintah masing mencintai program PEMBANGUNAN SETENGAH HATI.

Jika memang pemerintah berniat melakukan perubahan di kampung. Harusnya bantuan listrik, air dan jalan disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Program penerangan kmapung dengan pengadaan genset berbahan bakar solar? Solar di kampung harganya tidak kurang dari Rp 15.000 / liter . berapa sih pendapatan warga kampung? Belum lagi jika mesin ngadat? Bisa-bisa satu kampung menjadi mekanik mesin genset .

Jika memang pemerintah berniat baik dalam pengadaan air bersih, kenapa harus memberikan bantuan pompa air yang menggunakan listrik? Kan gensetnya tidak nyala karena tidak mampu beli solar. kan gensetnya tidak nyala karena rusak. Kenapa tidak menggunakan pompa hydram atau pompa tenaga surya? Aneh

Jika memang pemerintah berniat memperbaiki infrastruktur kampung. Biasanya sih yang dibangun dikampung adalah jalan dalam kampung yang rabat (Benton) . beberapa kmapung yang aneh menurut saya adalah kampung yang berada di sepanjang jalan poros Sorong-Sorong Selatan. Kampung-kampung tersebut berjejer dipinggir jalan yang sudah di aspal. Entah darimana idenya, bantuan dana PNPM digunakan untuk membagun jalan cor (lagi) didepan rumah yang sudah ada jalan besar beraspal. Lah untuk apa? Buat jalan mobil? Toh motor saja tidak ada. Eh malah bangun jalan cor sampai di depan pintu rumah.

Bicara jalan rabat, makin banyak ni jalan gang, jalan arteri yang di cor. Termasuk jalan depan pondok tempat kami ngator dan tinggal saat ini. Barusaja seminggu lalu di cor. Akhirnya motor saya ridak lagi kesleo karena selalu berjalan diatas jalan berbatu dan berlubang. Semoga saja kualitasnya bagus dan tidak sama nasibnya dengan jalan rabat di jalan masuk asrama merauke di sebelah. Jalan itu usianya belum 1 tahun. Tapi apa? Kondisinya sudah rusa, berlubang sana sini dan rasanya tidak jauh berbeda melewatinya saat dulu sebelum di rabat.

Di Mankowari banyak pasar rakyat kecil-kecil yang dibangun. Cotoh pembangunan pasar rakyat yang setengah hati adalah, pasar di Anggori. Bangunannya cukup bangur, tapi selama usia saya hidup di Ibukota Propinsi Papua Barat ini, tak satupun penjual ada di sana. Malah ada sapi yang jualan tainya yang bulat-bulat disana. Pasar rakyat ini juga sedang banyak dibangun di kmapung-kampung. Entah dari mana ide mebuat pasar di kampung-kampung. Bagus sih, bisa mendongkrak perputaran ekonomi kampung. Pertanyaannya adalah, siapa yang mau datang belanja di pasar yang letaknya 25 km dari pusat kota. Sudah jarknya jauh, jalannya hancur cuman mau beli kangkung 2 ikat. Amit-amit!

Saya rasa benar apa yang dituliskan wartawan kompas dalam buku hasil Ekspedisi Mereka di Papua beberapa tahun silam. Pembangunan di Papua adalah Pembangunan Setengah Hati.

Iklan