Arsip Bulanan: Agustus 2015

Alasan Mengapa Pangala Pantas Dikunjungi

Pangala adalah Ibu Kota Kecamatan Rinding Allo, Kabupaten Tanah Toraja. Pangala teletak pada ketinggian 2400 meter diatas permukaan laut. Lokasinya yang lebih tinggi, dari Kota Rantepao memastikan Pangala bersuhu dingin. Pangala sendiri boleh dikatakan bukan destinasi wisata di Tanah Toraja. Selama ini jika ada turis “nyasar” ke Pangala , itu karena mendapat informasi tentang pesta rambu solo’ (pemakaman), digiring para tour guide atau benar-benar nyasar. Padahal jarak Rante Pao ibukota Kabupaten Toraja Utara tidaklah begitu jauh. Hanya butuh sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Lantas apakah Pangala tidak memiliki daya tarik untuk dikunjungi sehingga tidak masuk dalam destinasi wisata di Toraja? Entahlah . Saya sebagai orang Pangala yang lahir dan besar disana berbeda pendapat. Menurut saya Pangala itu sexy. Hal tersebut saya rasakan ketika meninggalkan Pangala dan merantau belasan tahun dan melihat kampung kelahiran saya itu sebagai dari luar.

Setidaknya 5 tahun belakang saya selalu menyempatkan diri kembali ke Pangala. Terbang ribuan kilo meter plus menumpangi bus 8 jam tidak menjadi penghalang. Dulu, selama tinggal di Pangala saya kurang mengeksplor kampung saya dan hal inilah yang mendorong saya untuk tetap kembali lagi dan lagi. Ingin mengenal Pangala lebih dalam. Saya sendiri sudah keluar merantau dari pangala sejak lulus SMP 17 tahun lalu.

Pangala suatu Pagi di Mei 2015

Matahari menyabut saya dipagi hari ketika pulang ke Pangala Mei 2015

Jadi apa yang menarik di Pangala?

Kuburan Pongtiku. Warga Toraja baik Kabupaten Toraja maupun Kabupaten Toraja Utara pasti mengenal siapa Pongtiku. Dia adalah pahlawan Tanah Toraja yang gugur kala bertempur melawan penjajahan Belanda di Toraja. Karena dia orang Pangala maka dimakamkanlah beliau di Pangala. Kuburannya tepat berada dipusat Pangala sehingga sangat gampang untuk ditemukan. Bagi pelancong yang menyukai sejarah, situs para pejuang selalu menarik untuk dikunjungi dan bagi saya, kuburan Pongtiku ini adalah satu saksi sejarah di Toraja.

Tak hanya kuburan Pongtiku, di wilayah barat Pangala yang dikenal dengan Rinding Allo terdapat benteng pertahanan Pongtiku. Waktu masih SD saya perna berkunjung kesana bersama teman-teman sekolah. Bentuk benteng tersebut tidak seperti benteng pada umumnya di wilayah lain di Indonesia yang biasanya berupa tembok untuk berlindung dari serangan musuh. Benteng Pongtiku ini berada di puncak perbukitan yang secara logika sangat strategis untuk memantau pergerakan musuh dari segala arah. Lokasinya dipenuhi dengan semak belukar yang tajam sehingga menjadi senjata biologis untuk melukai para musuh yang mencoba memasuki wilayah pertahanan . Disana ada beberapa lesung yang terbuat dari pahatan batu. Lesung-lesung tersebut bukalah untuk mengolah padi melainkan untuk membuat senjata. Dimana para nenekmoyang dulu menggunakannya untuk menumbuk cabai yang kemudian dibuat larutan cabai untuk menyemprot mata para musuh. Kerenkan taktiknya? Dari cerita ini jugalah muncul istilah “Pangala’ tirrik lada” yang kalau diartikan kurang lebih berarti “Pangala’ Semprotan Cabai”

Makam Pahlawan Pongtiku di Pangala

Makam Pahlawan Pongtiku di Pangala. Sumber http://www.geppmatormksr.blogspot.com

Ada gunung Tagari di Pangala. Dari kuburan Pongtiku kita dapat melihat gunung tersebut berdiri dengan kokoh. Pemandangannya spektakuler . Dari puncak gunung tidak hanya melihat wilayah keseluruhan Rinding Allo namun juga wilayah kecamatan Toraja utara seperti Rembon . pengunjung Gunung Tagari juga akan mendapat bonus menikmati hamparan sawah tera sering yang berjejer hingga perkampungan perangian.

Pencinta agrowisata juga bisa menikmati hamparan sawah di Pangala. Musim tanam padi biasanya berlangsung 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari –Maret dan September – Otober demikian juga dengan musim panen padi yang berlangsung 2 bulan -1 bulan sebelum musim tanam.

Suhu dan tanah subur menjadikan Pangala sebagai salah satu penghasil kopi kelas dunia. Salah satu perusahaan kopi terbesar di Toraja bahkan membuka perkebunan dan pabrik kopi disana. Jenis kopi yang banyak dijumpai di Pangala adalah kopi Robusta dan Kopi Conuga yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama kopi barana. Saya sering mengbayangkan para turis pada musim tanam / panen padi atau panen kopi berbondong-bondong ikut berpartisipasi.

Salah satu invent yang sering menarik wisatawan asing adalah proses pemakaman (rambu solo’) sayangnya informasi yang menyebar bagi wisatawan tentang jadwal dan lokasi rambu solo’ yang diselenggarakan di Pangala sepertinya kurang terekspos sehingga tidak terlalu banyak wisatawan yang hadir pada setiap rambu solo’. “Musim” rambu solo di Pangala biasanya berlangsung dalam bulan Agusuts- Oktober. Meski demikian tetap saja ada yang melakukan upacara rambu solo’ sampai bulan Desember bahkan Januari.

Buadaya Toraja yang juga ada di Pangala adalah Mangrara Bannua . Acara ini merupakan bentuk syukur keluarga yang berhasil membagun atau merehab sebuah rumah adat (tongkonan). Mangrara Banua kebanyakan berlangsung pada bulan Desember.

Ada lagi Ma’nene’ (upacara penggantian baju mayat) Di Pangala setiap bulan Agustus- September sering terjadi ritual Ma’nene’. Saying tak banyak wisatawan yang yang menyaksikan karena kurangnya informasi bagi mereka. Ma’nene’ adalah ritual mengganti pakaian mayat yang biasanya sudah puluhan tahun dimakamkan. Selain Mengganti pakaian mayat, biasanya juga dilakukan pemindahan mayat dari kuburan lama ke kuburan baru.

Ritual Manene' yang dilaksanakan pada pertengahan tahun 2014 di Pangala

Ritual Manene’ yang dilaksanakan pada pertengahan tahun 2014 di Pangala

Malasah infrastruktur jalan tidak perlu dikawatirkan. Terakhir kali saya ke pulang kampung pada bulan Mei 2015 lalu, jalan dari Rantepao sudah cukup baik. Terdapat satu losmen murah meriah dengan letak yang strategis namanya Losmen Sando. Bahkan jika pelancong ingin merasakan tidur di rumah adat Tongkonan , tingggal permisi saja kepada warga Pangala, tidak akan ditolak . Beberapa turis asing yang perna menginap di Pangala lebih memilih menumpang dirumah tongkonan milik warga setempat. Tak usah ragu dan bimbang, warga pangala terkenal dengan kebaikan dan keramah-tamahaanya.

Takut soal makanan? Meski jauh dari kota, di Pangala sudah ada warung makan yang buka sampai tengah malam, bahkan mereka melayani cost of delivery.

Masalah komunikasi juga tidak lagi menjadi penghabat di Pangala, sebagian besar pemuda bahkan ibu-ibu sudah menggunakan smartphone. Memiliki akun facebook bahkan instagram. Mereka sangat aktif di media social. Menariknya, mereka gemar mengupload foto, status saat melakukan aktivitas berat seperti menanam dan memanen padi. Artinya, jaringan data dan telepon selular cukup memadai.

Jadi tunggu apa lagi? Jika anda traveling ke Toraja, sempatkanlah diri anda untuk mengunjungi Pangala’ . Anda tidak akan rugi melainkan akan mendapat cerita baru dan sisi lain dari Toraja.

Manokwari belum Merdeka dari Air Bersih

Hari ini 17 Agustus hari kemerdekaan Republik Indonesia . Tahun 2015 ini sudah yang ke70 tahun loh!. Kalo diibaratkan manusia, negara ini sudah seperti opa-opa. pasti sudah punya banyak rumah, tanah dan tabungan. Mungkin juga anak dan cucu -cucunya sudah berhasil dan menyabar dimana-mana.

Hari ini juga saya baru kembali dari jalan-jalan ke pelosok sambil kerja . 2 Minggu berada di pelosok yg suasana 17 belasanya kurang , membuat rasa yang beda ketika keluar bandara Rendani dan melihat banyak bendera sepanjang jalan menuju rumah. yah rasanya semua sedang bergembira merayakan HUT RI 70. Tepat ketika mobil yang saya tumpangi melewati jalan dipusat Kota Manokwari di depan Supermarket HADI, saya melihat sedikitnya 6 mobil tangki air bersih sedang mengantri air dari sebuah sumur bor milik masyarakat disekitar Kampung Bou. Memang sudah lebih dari 3 bulan musim panas melanda Manokwari, meski tumbuhan tidak sampai mati kekeringan, namun warga sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Baca lebih lanjut