Arsip Bulanan: November 2016

Pulau Um “hotel” yang tidak perna kosong

Pertengahan November 2016 akhirnya bisa kabur dan melakukan perjalan dari Sorong – Manokwari menelusuri pesisir utara Papua Barat dengan menggunakan kapal. Dalam perjalanan saya menemukan sebuah ‘hotel’ yang tidak perna sepih dari penghuni.

img_1905

Kelelawar bergelantungan memenuhi pohon cemara di Pulau Um

Tepat di depan Kampung Malaumkarta, distrik Makbon, Kabupanten Sorong terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal dengan Pulau Um entah apa artinya.  Yang jelas pulau tersebut unik dan indah. Kami tiba pada soreh hari pukul 5 dan disambut dengan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler. Tidak hanya itu, pulau Um yang berada di depan tempat kapal berlabuh, menambah keindahan soreh itu. Bagaimana tidak ribuan keleawar berukuran besar yang juga dikenal dengan megabat beterbagan keluar dari Pulau Um.

Pukul 8 malam kami menuju Kampung Malaumkarta dengan speedboat. Berhubung November-Desember adalah musim ombak di bagian utara Papua maka tim sangat berhati-hati saat akan sandar di pantai. Sebagian dari kami memang sangat tegang sesaat sebelum sandar di pantai. Bagaimana tidak, ombak dengan ketinggian sekitar 1,5 meter sambung menyambung hancur dipinggiran pantai. Rasa was-was makin menjadi ketika para warga kampung yang menyambut heboh dan berteriak memberikan instruksi bagi driver boat dalam kegelapan . Syukurnya kami semua aman-aman saja hingga kembali lagi ke kapal.

Penasaran dengan Pulau Um, pagi-pagi buta, beberapa anggota tim sudah merapat ke pulau yang sebagian ditumbuhi banyak pohon cemara itu. Dari jauh, bauh menyengat sudah tercium. Dan itu adalah bauh dari kotoran para burung penghuni pulau yang ukurannya tidak seberapa itu. Dari cerita semalam bersama warga. Pulau Um bak hotel bagi beberapa jenis burung. Baik siang pun malam, pulai Um selalu full booked . pagi ini itu kami disambut segerombol burung kecil sejenis burung wallet yang bergerombol mengintari pulau dan sesekali sembunyi dibalik pepohonan.

Adalah Kelelawar yang menghuni “hotel” um pada siang hari. Beberapa pohon cemara yang tinggi penuh sesak dengan kelelawar yang bergelantungan dan tidur nyeyak. Mereka sepertinya mereka tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran kami. Meski kami mengoborol normal, para hewan nokturanl itu larut dalam mimpi.

Sore harinya kami masih sempat mampir disekitar pulau Um. Sepulang dari Kampung Kuadas yang lokasinya tidak jauh dari Malaum Karta,  kami makin terkagum-kagum dengan Pulau Um. Bagaimana tidak, sore itu pukul 6 dan kami menyaksilakn langsung proses chekin dan chek out di “Hotel” Um ratusan burung camar beterbangan di atas pulau Um sementara ribuan kelelawar chekin untuk mencari makan . sungguh pemandangan luar biasa. Baru yakin dengan cerita beberapa warga kampung bahwa Pulau Um dihuni burung Camar Pada Malam hari dan Keleawar pada Siang Hari. Pagi dan soreh adalah waktu pergantian menginap . Saya jadi yakin, cleaning service “hotel” Um tsangat kewalahan sehingga hotel tersebut sangatlah bau .