Arsip Penulis: Amos Sumbung

Tentang Amos Sumbung

Suka jalan-jalan terutama ke tempat baru. Snorkeling, Baca terutama novel dan buku travel. TInggal di Manokwari Papua . Saya suka kopi. sangking sukanya, saya membuka warung kopi :D

Nonton Burung di Malagufuk

Saya bukan pecinta burung apalagi penggila burung ala bird watcher yang rela melakukan perjalan jauh yang menguras energi, waktu dan tentunya biaya untuk melihat aneka burung di dunia ini. Tapi bicara soal burung, Papua patut diperhitungkan. hal ini tidak lepas dari jumlah jenis burung yang menghuni Papua bahkan beberapa diantaranya konon hanya dapat di temukan di Papua misal Cenderawasih.

Saya sendiri setelah belasan tahun tinggal di Papua tidak perna melihat cenderawasih hidup yang tersohor itu hingga tahun 2012 saya berkungjung ke taman Burung Biak. itupun di taman burung. Tapi saya yakin, banyak diantara penduduk Papua yang bahkan belum perna melihat burung cenderawasih hidup 🙂

DSCN4847

Spot pemantauan burung cenrawasih di pinggir sungai warsumsum

Salah satu tujuan beberapa orang luar yang saya kenal datang ke Papua adalah ingin melihat cenderawasih (hidup dialam liar tentunya) karena jika hanya ingin melihat cenderawasih yang sudah diawetkan, sangat gampang. tinggal ke toko souvenir atau keacara-acara adat biasanya banyak aksesoris yang terbuat dari burung cenderawasih.

Kesempatan kedua bagi saya melihat cenderawasih adalah ketika kami melakuka expedisi hutan hidup dengan rute Sorong – Manokwari. ketika itu kami mampir disebuah kampung yan gbernama Imbuan. Disana terdapat sebuah spot pemantau burung cenderawasih yang letaknya beberapa kilometer dari kampung. untuk mencapai lokasinyapun harus tracking 3 bukit yang kemiringanya bagus untuk olahraga jantung.

Kesempatan ketiga adalah di Malagufuk. Ini adalah kampung yan gbaru saja berdiri 3 tahun lalu. Pendudukya minimalis . Hanya ada 14 KK yang sebagian besar penduduknya adalah anak-anak. Karena baru, Kampung ini minim infrastruktur. RUmah-rumah penduduk masih sangat jauh dari kata nyaman. Belokasi sekitar 3 km dari jalan poros Sorong- Tambraw dan masuk dalam wilayah administrasi Distrik Makbon.

Meski jarak dari jalan hanya 3 km tapi butuh lebih dari 1 jam untuk bisa menjangkau kampung Malagufuk dimana jalan masih merupakan jalan setapa dalam hutan yan rapat dengan pepohonan dan kondisi tana yang sebagian besar berlumpur. Musim hujan memang bukan musim yang pas untuk berkunjung ke kampung ini. pertama karena kondisi jalan dan halaman di kampung menjadi becek berlumpur dan yang kedua, kesempatan untuk mendapatkan momen cendreawasih dan burung lainnya menjadi berkurang.

Dikampung ini tidak ada hiburan selain mendengarkan kicauan burung atau melihat burung yang beterbangan dari pagi hingga sore hari. Burung cenderawasih yang biasanya jauh dari pemukiman disini bisa kita lihat hanya dengan berjalan beberapa ratus meter dari pemukiman. setidaknya ada dua jenis cenderawasih yang sudah diidentifikasi warga kampung. Cenrawasih kuning dan cendrawasih hintam atau yang biasa dikenal dengan cenderawasih belah rotan.

Untuk bisa menikmati cendrawasih dalam jumlah yang banyak 4-7 ekor dalam satu spot pantau , lokasinya lebih jauh dan harus naik turun gunung bukit. jaraknya sekitar 2,5 km dan berada dipinggira sungai Warsumsum. Ketika saya kesana, saya menyaksikan 4 ekor burung cenderawasih . Rasanya campur aduk melihat cenderawasih hidup liar di alam bebas dari jarak dekat.

Screen Shot 2017-07-18 at 19.50.53

Surga, ketika menyaksikan burung surga

Malagufuk sendiri mencoba berkomitmen untuk mendorong ekowisata dengan komodistas andalan burung cenderawasih . Terbukti sejak awal sudah dibangun satu rumah turis, semacam homestay dengan kapasitas tamu 2 orang. Sejak dibuka, sudah ada beberapa warga asing yang berkungjung ke Malagufuk untuk melihat cenderawasih dialam bebas .

DSCN4836

Awis, Kasuari Malagufuk

Bagi saya Malagufuk sendiri patut dikunjungi para bird watcher. ada begitu banyak jenis burung disana. tidak hanya jenis tapi jumlahnya juga melimpah. Warga begitu berkomitmen hingga tidak ada aktivitas berburu burung. Bahakan ada seekor burung kasuari liar yang tiap hari datang di kampung terutama pagi dan sore hari untuk mencari makan. warga kampung juga sudah menyiapkan pisang sebagai makanan dari kasuari yang diberi nama Awis.

Meski warga Malagufuk berkomitmen untuk menjaga ekosistem hutan mereka, ancaman tetaplah ada. terbukti ketika kesana saya melihat sendiri beberapa pohon kayu merbau sudah digergaji dekat dengan spot pemantauan burung cendrawasih. karena jaraknya jauh dari kampung aktivitas penebangna pohon di hutan jadi susah terkontrol. belum lagi sitem kepemilikkan komunal. ada saja pribagi -pribadi yang ingin mejual pohon bagi para pelaku bisnis kayu. Sore itu saya melihat sebuah perahu yang belakangan milik pemisnis kayu dikota sorong yang masuk melalui Sungai Warsumsum dan mengangkut kayu merbau hasil gergajian mereka tepat disebelah spot pemantauan burung cenderawasih.

DSCN4867

Bisnis kayu masih menjadi salah satu ancaman bagi keberlangsungan hidup burung liar di Papua. tidak hanya habitat, para pembalak suka berburu dengan menggunakan senapan angin

Lagi-lagi saya merekomendasikan kampun gini bagi para bird watcher .  Meski saya orang awam, saya sangat terhibur melihat dan mendengar beragam kicauan burung sejak selama di kampung Malagufuk. Semoga saja perjuangan warga Malagufuk untuk menjaga hutan mereka dan mendorong ekowisata bisa tercapai suatu saat nanti.

Biak Memanggil : Munara Wampasi 5

Festival Biak Munara Wampasi 5 baru saja berakhir kemarin. Itu artinya trip saya ke Biak akan segera berakhir pula. Sudah 6 hari saya meninggalkan Manokwari dan melakukan perjalanan di Biak. Sebuah pulau yang bersejarah di Tanah Papua. Terakhir saya mengunjungi Biak sekitar 5 tahun lalu dan kerinduan untuk melihat kembali keindahan pulau ini pun muncul sejalan dengan adanya kesempatan Munara Wampasi festival yang ke lima 2017.

biak2enshot_76-404x300

Jika dulu saya bersama teman saya ke Biak dengan menggunakan kapal fery ala back packer kali ini saya beruntung bisa ngetrip dengan sedikit elit. Sebut saja begitu meski dana yang saya keluarkan lebih sedikit dengan trip back packer saya 5 tahun sebelumnya. Kenapa bisa? Iya karena saya menumpang sebuah kapal phinisi yang istilah kerennya sekarang LOB (live on board) jadi 6 malam dibiak termasuk perjalanan saya habiskan di kapal kayu bernama Kurabesi Eksplorer. Bukannya LOB lebih mahal? Tepat sekali. Kalo dirata-ratakan, biaya LOB perhari bisa 3 jutaan rupiah tapi karena ini kapaal milik senior yang sudah seperti saudara sendiri ya gratislah J . kosekuensinya saya harus tau diri dengan membagi waktu untuk sedikit melakukan pekerjaan di atas kapal.

Munara Wampasi sendiri berarti pesta adat atau pesta rakyat pada musim pasang surut terendah. Total festival dilaksanakan 4 hari dengan berbagai acara di tempat yang berbeda. Dari Festival ini, Biak berhasil memecahkan rekor muri Tifa terbanyak pada hari pertama. Dimana ribuan tifa dimainkan oleh penduduk Biak.

Ada juga atraksi budaya yang masuk dalam nominasi atraksi budaya terpopuler di Indonesia yakni Apen Beyeren. Atraksi ini diadopsi dari cara orang Biak memasak tradisional dengan menggunakan batu panas. Dimana makanan dimasak dalam lobang tanah dengan menggunakan batu yang dibakar hingga merah.. dalam atraksi ini sekelopok orang mengelilingi batu yang sudah dibakar hinga merah membara dan beberapa orang ditangahnya berjalan diatas batu yang pansa tersebut tanpa alas kaki. Ngeri!

Ada juga acara menyelam di spot paling popular di Biak yakni wreck catalina. Pesawat yang jatuh pada perang dunia kedua tepat didepan Kota Biak di kedalaman 29 meter. Tidak banyak pesertanya karena ini merupakan acara loba poto grafer bawa laut. Ada lagi pameran aggrek secara Biak terkenal dengan anggreknya. Bahkan se tanah Papua, hanya Biak yang memiliki taman anggrek.. ada lagi lomba 10 k.

Ada lagi trip Padaido. Pemerintah menyiapkan 1 buah kapal cepat kea rah kepulauan padaido yang sangat indah. Acaranya sih kebali sama. Hanya kumpul-kumpul dan taritarian adat trus pulang. Kan rugi, jauh-jauh ke padaido trus hanya kumpul-kumpul di satu pulau penuh sesak dengna manusia bak pasar dari pagi sampai soreh , dengar music dan sedikit tarian adat tanpa melihat keindahan pulau – pulau lainnya. Karena kami pergi dengan kapal sendiri kami jadi bisa merasakan sedikit tour Padaido dengan singgah di beberapa pulau untuk snorkeling, berenang dan menyelam.

Inti dari festival sesuai namanya adalah Snap More. Sebuah wialyah laut yang sudah disasi secara adat selama beberapa tahun dibuka dan semua warga diundang untuk ikut dalam “panen raya” hasil laut tentunaya dengan menggunakan alat tangkat tradisional . Snap Mor tahun ini diadakan di wilayah Biak Barat tepatnya di Kampung Karnindi. Sayang acara yang mestinya menarik ini buat saya tidak terlalu seheboh yang saya bayangkan sebelumnya. Memang yang terlibat banyak tapi tidak terlihat semeriah acara nyaleh di Lombok. (bisa jadi karena saya tiba terlambat) belum lagi panggung hiburan yang disediakan dengan stile modern. Beberapa biduan menghibur peserta dengan lagu-lagu yang modern. Kacau!

Semoga saja dengan festival tahunan Biak Munara Wampasi ini bisa menembalikan kejayaan pasriwisata Biak yang terkuak diakhir tahun 90 an lalu. Tapi juga Pemda harus meningkatkan kualitas dari festival itu sendiri agar mampu menarik wisatawan luar untuk datang ke Biak.

Sayonara deh.

 

Nyasar di Gam, Raja Ampat

Bulan lalu saya akhirnya memutuskan untuk solo trip ke Raja Ampat. Secara saya lama absen dari jalan-jalan terkecuali melakukan perjalan pulang pergi Sorong – Manokwari dengan modal tiket gratis hasil tukar miles. Baru percaya kalo dulu saya muat kartu member maskapai ada gunanya misal, saya bisa pulang Manokwari hanya dengan membayar tax.

Kembali ke solo trip Raja Ampat. Siapa yang tidak tergoda dengan keindahan destinasi bahari yang kalau saya boleh bilang jadi no 1 dunia saat ini? sebulan sebelum trip saya juga melakukan trip bersama beberapa kawan ke Raja Ampat tempatnya tidak jauh-jauh dari Waisai ibukota Raja Ampat tapi dari trip itu saya jadi tahu jika ternya bagian barat dari waisai ini sudah banyak resort dan homestay. hebatnya, sudah bisa dijangkau dengna mobil atau motor jadi bisa lebih irit atau tetap bisa piknik pada musim ombak . Menurut informasi yang saya tahu, musim ombak di perairan Raja Ampat dimulai pada bulan juli sampai akhir Agustus. Wajar saja kalau banyak kapal live a board minggat keluar Sorong pada bulan Juli.

Buat traveler yang budgetnya pas-pasan kayak saya, homstay adalah pilihan tepat untuk menginap. Rata-rata homestay di Raja Ampat dibandrol dengan harga 350 k rupiah sudah termasuk 3 kali makan per hari. Homestay pun sudah menjamur dari tempat yang biasa-biasa saja sampai yang WOW. Tentunya harga bermain pada keindahan tempat dan fasilitas. termasuk juga “kesenioran” homstay Info yang paling pas untuk memperoleh daftar homstay termasuk harga, fasilitas, cara kesana dan peta lengkap di website stayrajaampat.com disna juga sudah ada revew para pengunjung sebelumnya yang tentunya sangat membantu bagi para calon pengunjung untuk menentukan pilihan. Nomor HP tidak ketinggalan termasuk untuk booking kamar.

Sejak trip rombongan saya yang mnimalist budget sebelumnya, saya memutuskan untuk menjelajah Raja Ampat secara bertahap dari arah barat Waigeo – Misool. jadi saya memilih akan stay di sebuah homestay yang latknya tidak jauh-jauh di utara Kampung Saporkren. semalam sebelumnya saya confirmed akan nginap dan pemilik homstay bersedia menjemput saya di dermaga Waisai. Pagi harinya saya menuju pelabuhan rakyat dan bertolak ke Waisai dengan kapal cepat. taklupa saya mengingatkan pemilik homstay untuk menjemput saya 2 jam setelah kapal lepas tali.

Tiba di waisai saya menunggu jemputan sekitar 30 menit dan tak ada tanda-tanda saya akan dijemput. sementara pengunjung Raja Ampat hari itu tidak banyak. rata-rata hanya penduduk lokal dan satu dua turis lokal. termasuk saya. karena tak sabar ingin segera melihat pantai disekitar homestay bookingan saya, saya menelpon lagi sipemilik homstay dan nomor yang adan tuju sedang tidak aktif. saya masih tenang. Berpikir bahwa mungkin saja mereka masih dalam perjalanan ke pelabuhan. sejam berlangsung dan tersisa saya dan petugas di pelabuhan tiba-tiba sebuah pesan masuk hp saya. nomor baru dengan isi “master (red-mister) nanti batu lima yang jemput” . ok pikir saya ini batu lima dalah nama perhau. 30 menit kemudian belum ada perahu dengan nama batu lima yang nongol. mulai panas hati saya. saya menelpon nomor baru yang mengirimkan pesan singkat tadi, saya sudah tunggu dipelabuhan dan 15 menit kemudian sebuah perahu kayu masuk . tanpa nama, tanpa cat.. usang. seorang bapak dengan anak gadisnya. Yah batu lima. dia adalah bapak pemilik Homstay Batu Lima.

SIngkat cerita saya diopor dari homstay yang sbelumnya saya booking ke homstay lain tanpa ada pembertiahuan lebih dulu. alasannya juga tidak jelas. Persoalan lainnya, Batulima berada dilokasi yang lebih jauh. bahakan berada dipulau terpisah dan harga dan transpor beda. lebih mahal. setelah sedikit basa-basi saya dengan luguhnya berterusterang jika saya turis lokal yang datang degan budget pas-pasan. semua sudah dihitung sesuai dengan budget di homstay yang saya booking. kalo bapak mau bawa saya dengan harga segitu saya ikut. kalo tidak saya akan pulang kesorong atau ke homstay yang jaraknya bisa dengan 50 k rupiah dengan ojek . Eh tidak diduga sih bapak mau dan ya, saya beruntung. secara ongkos transport ke lokasinya duakali lipat dari budget yang saya siapkan 🙂

dalam 45 menit kedepan. saya berhasil landing di Pulau Gam, pulau yang mestinyanya jadi target kesekian dalam rencana trip Raja Ampat saya  karena masih ada Friwen dan Kri yang lebih dekat. Gam sendiri cukup luas dan pada trip saya ini saya di Gam bagian timur. 3 hari cukuplah untuk mengeksplore Gam bagian timur dan benar saja. karena gelombang mulai kurang baik di Raja Ampat, tidak banyak turis yang wara wiri. di Gam bagian timur sendiri yang homstaunya lebih dari 5 semuanya dalam keadaan kosong. jadilah saya pengunjung satu-satunya selama disana. Sarapan sendiri, makan siang sendiri, makan malam sendiri, snorkeling sendiri, berenang sendiri. serasa pulau sendiri. syukurnya pemilik homstay mau ajak saya keliling di 2 kampung yang berda dekat dari homstay jadi saya tidak berasa sedang di planet lain. Makan malam terakhirpun saya balik mengundang pemilik homstay dan keluarganya untuk menemani saya makan malam bersama 😀 sok kaya!

Saya bersyukur karena saya bisa nyasar ke Gam. Meski di cancel oleh homstay yang awalnya saya booking, tidak lagi jadi soal dan tidak akan perna jadi soal. malah membantu menghemat 30% budget yang harus saya keluarkan jika saja tujuan saya ke GAM 😉

19366216_10211016534022430_2604774046113553264_n

Halaman Homstay yang eksotis

 

 

Listrik Padam di Teminabuan Masih Heboh

Setelah 6 bulan tidak mengunjungi Teminabuan, Sorong Selatan akhirnya saya bisa bersua dengan kota yang dialiri sejumlah sungai berair jernih dan biru itu. Ada setidaknya dua sungai yang menjadi primadona wisata lokal karena kondisi sungai yang indah. Ditambah lagi suhu udara di Teminabuan yang panas menyebabkan penduduk lokal sering menghabiskan waktu untuk ngadem di sungai.

DCIM100MEDIADJI_0066.JPG

Salah satu sisi dari Teminabuan

Karena tahun-tahun sebelumnya saya sering berkunjung ke Teminabuan, maka saya lebih memilih transportasi udara untuk mempersingkat waktu. Biayanya juga relatif murah karena adanya program subsidi. Tahun 2016 setau saya hanya ada satu penerbangan yakni SusiAir dengan jadwal penerbangan 3 kali / minggu. Sehari sebelum keberangkatan barulah saya sadar jika sejak 2017 tidak ada lagi penerbangan ke Teminabuan. Terpaksa saya harus menggunakan moda transportasi mobil kesana dan menghabiskan setidaknya 4 jam perjalanan.

Saya tiba di Teminabuan jam 8 malam. gelap gulita kala itu. Hujan pula, sedang ada pemadaman listrik. sejam berlalu, listrik pun nyalah. Tapi itu hanya satu menit. Listrik kembali padam sampai sejam kedepan. Parahnya lagi, tidak hanya saat saya tiba. Drama padam, nyala-padam, nayala masih berlangsung hingga seminggu kedepan saya kembali ke Sorong.  Di Teminabuan, Listrik On Off rata-rata 4 kali dalam sehari. Siang, pun malam.

Tidak heran jika orang-orang rela mengupdate status di facebook tentang listrik padam meski untuk membuka facebook dan mengapload 1 status butuh 15 menit akibat jaringan internet yang lelet. Jangankan internet. SMS dan Telpon saja harus berulang-ulang baru tembus. sepertinya, Teminabuan kalah jauh dari Bintuni, Kaimana atau Raja Ampat yang merupakan kabupaten seangkatannya dari segi komunikasi. Di kabupaten tersebut, para pengguna telepon pintar bahkan bisa melakukan siaran langsung dari daerah mereka. Di Teminabuan? membuka email saja gagal sepanjang tahun!.

Masalah Listrik padam memang tidak hanya terjadi di Teminabuan. Tapi di semua kota besar pun kecil di Papua. Topik teratas setiap malam dalam akun sosial  adalah listrik padam. Jayapura yang merupakan kota terbesar di Papua tidak kalah heboh soal listrik padam. Meski bapak Presiden sudah meresmikan 6 proyek listrik pada Oktober 2016 tapi faktanya Jayapura dan sekitarnya masih saja terjadi pemadaman tiap hari.

Berbeda dengan Ibu Kota Jakarta. Beberapa kali kesana saya tidak perna merasakan ayang namanya listrik padam. Tidak ada juga penduduk DKI yang update status “DKI gelap gulita #MatiLampu”

Yaah sudahlah, semoga saja apa yang dijanjikan Pak Jokowi bahwa seluruh distrik di Papua dan Papua Barat akan terang benderang pada tahun 2019 akan terlaksana. Tapi mbok ya kalau tahun di 2017 semua kabupaten masih heboh dengan listrik mati trus gimana nasib distrik nanti?

Lolai, Negeri Di Atas Awan

Seperti biasa, setiap Desember saya memilih untuk pulang kampung jika tidak ada pekerjaan yang urgent. Tahun 2016 ini saya akhirnya pulang kampung 2 minggu sebelum pergantian tahun. Meski sering pulang kampung, tak banyak daerah wisata yang perna saya kunjungi di daerah asal saya yang nota bene masuk dalam salah satu destinasi wisata di Indonesia. Toraja, yang menurut saya perkembangan wisatanya biasa-biasa saja bahkan kalah dari daerah wisata lain yan gbaru muncul di tanah air semisal Raja Ampat atau Wakatobi. Namun ada satu daerah wisata ‘baru’ yang tak boleh saya lewatkan dalam trip pulang kampung kali ini. Lolai, Negeri Di Atas Awan.

kabut-menghampiri-lempe

Lempe, tampak dari Billa

Sejak tahun 2015, Daerah Lolai, Kabupaten Toraja Utara menjadi buah bibir. Tidak hanya di kalangan warga Toraja  dan Sulawesi Selatan. Bahkan ditingkat Nasional daerah yang menambah jumlah tempat wisata di Toraja tersebut kian terkenal. Bahkan pada Ahustus 2016, Ibu negara sempat berkunjung kesana. Baca lebih lanjut

Pulau Um “hotel” yang tidak perna kosong

Pertengahan November 2016 akhirnya bisa kabur dan melakukan perjalan dari Sorong – Manokwari menelusuri pesisir utara Papua Barat dengan menggunakan kapal. Dalam perjalanan saya menemukan sebuah ‘hotel’ yang tidak perna sepih dari penghuni.

img_1905

Kelelawar bergelantungan memenuhi pohon cemara di Pulau Um

Tepat di depan Kampung Malaumkarta, distrik Makbon, Kabupanten Sorong terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal dengan Pulau Um entah apa artinya.  Yang jelas pulau tersebut unik dan indah. Kami tiba pada soreh hari pukul 5 dan disambut dengan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler. Tidak hanya itu, pulau Um yang berada di depan tempat kapal berlabuh, menambah keindahan soreh itu. Bagaimana tidak ribuan keleawar berukuran besar yang juga dikenal dengan megabat beterbagan keluar dari Pulau Um.

Pukul 8 malam kami menuju Kampung Malaumkarta dengan speedboat. Berhubung November-Desember adalah musim ombak di bagian utara Papua maka tim sangat berhati-hati saat akan sandar di pantai. Sebagian dari kami memang sangat tegang sesaat sebelum sandar di pantai. Bagaimana tidak, ombak dengan ketinggian sekitar 1,5 meter sambung menyambung hancur dipinggiran pantai. Rasa was-was makin menjadi ketika para warga kampung yang menyambut heboh dan berteriak memberikan instruksi bagi driver boat dalam kegelapan . Syukurnya kami semua aman-aman saja hingga kembali lagi ke kapal.

Penasaran dengan Pulau Um, pagi-pagi buta, beberapa anggota tim sudah merapat ke pulau yang sebagian ditumbuhi banyak pohon cemara itu. Dari jauh, bauh menyengat sudah tercium. Dan itu adalah bauh dari kotoran para burung penghuni pulau yang ukurannya tidak seberapa itu. Dari cerita semalam bersama warga. Pulau Um bak hotel bagi beberapa jenis burung. Baik siang pun malam, pulai Um selalu full booked . pagi ini itu kami disambut segerombol burung kecil sejenis burung wallet yang bergerombol mengintari pulau dan sesekali sembunyi dibalik pepohonan.

Adalah Kelelawar yang menghuni “hotel” um pada siang hari. Beberapa pohon cemara yang tinggi penuh sesak dengan kelelawar yang bergelantungan dan tidur nyeyak. Mereka sepertinya mereka tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran kami. Meski kami mengoborol normal, para hewan nokturanl itu larut dalam mimpi.

Sore harinya kami masih sempat mampir disekitar pulau Um. Sepulang dari Kampung Kuadas yang lokasinya tidak jauh dari Malaum Karta,  kami makin terkagum-kagum dengan Pulau Um. Bagaimana tidak, sore itu pukul 6 dan kami menyaksilakn langsung proses chekin dan chek out di “Hotel” Um ratusan burung camar beterbangan di atas pulau Um sementara ribuan kelelawar chekin untuk mencari makan . sungguh pemandangan luar biasa. Baru yakin dengan cerita beberapa warga kampung bahwa Pulau Um dihuni burung Camar Pada Malam hari dan Keleawar pada Siang Hari. Pagi dan soreh adalah waktu pergantian menginap . Saya jadi yakin, cleaning service “hotel” Um tsangat kewalahan sehingga hotel tersebut sangatlah bau .

Bis ke Toraja Bisa Booking Online

bis-torajaBeberapa waktu lalu saya mampir lagi ke Toraja. Perjalanan saya dari Jakarta ke Papua jadinya terhenti beberapa hari di Sulawesi . 2 hari sebelum terbang ke Makassar, saya mengatur jadwal terbang saya agar tidak terlalu tertaut jauh dengan jadwal keberangkatan bis. Bis Makassar- Toraja ada pagi sekitar jam 9 dan Malam jam 9.

Karena saya was-was taku tidak dapat kursi bis , saya segera browsing bis rute Makassar-Toraja untuk mencari nomor kontak . Di om Google sendiri semua bis sudah ada datanya. Lengkap. Tapi ada satu bis yang bikin saya tertarik. Bis tersebut bisa di booking oline bahkan memiliki aplikasi smartphone. Jadilah saya membeli ticket bis seperti membeli ticket pesawat . Keren.  Sayang kembalinya saya harus naik bis obrok karena satu-satunya bis yang melayani trip siang Toraja-Makassar. Operator bis tersebut adalah Primadona. Konon waktu Ibu Peresiden Jokowi ke Toraja bulan lalu, beliau menggunakan bus tersebut.

Ada lagi yang perlu dicoba jika bepergian ketoraja. Infonya sih cuman dapat di Internet jika salah satu bis milik operator Bintang Prima  memiliki pelayanan baru yakni beberapa tempat tidur . wah jadi bisa sloyoran tidur sepanjang perjalanan ya. Hanya bagi saya ini tidak direkomendasikan bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke Toraja. sensasinya bakalan kurang 😀

Meski pelayanan bis ke toraja semakin OK, saya tetap bermimpi bahwa dataran tinggi tersbut kelak memiliki bandara yang bisa dilayani pesawat berukuran standart dengan direct flight ke kota-kota besar di jawa, Kalimanta dan Papua. Masa sih datara tinggi yang sudah dibagi menjadi 2 kabupaten tidak bisa memiliki bandara yang layak.