Arsip Tag: Bosnik

Biak, Tetap Menarik Hingga Kini dan Nanti

Siang ini rasanya masih sangat mengantuk.  Pasalnya semalam saya hanya memejamkan mata sekitar 4 jam . Itupun  dalam kondisi duduk. yah duduk dalam sebuah kapal perintis yang membawah saya dan 2 teman saya serta penumpang lainnya kembali dari liburan singkat di sebuah daerah kepulauan di utara Pulau Papua. Pulau Biak. Seblum larut dalam rutinitas selanjutnya, saya akan ingin menuliskan kisah perjalanan singkat iti J

Minggu lalu saya memutuskan untuk berlibur ke Biak. Tepatnya Biak Timur. Setelah beberapa kali terunda akhirnya hari keberangkata itu datang. Saya bersama teman saya Maya menuju ke pelabuhan rakyat yang berada di kompleks Marampa Sowi senin sore. Saya sendiri baru mengetahui keberadaan pelabuhan kecil itu satu minggu sebelumnya.

Kapal Perintis ; Dari tidur beralaskan Kasbi  hingga tiket 20 ribu

Sepertinya kami salah dalam menjadwalkan perjalanan kami. Saat ini merupakan musim liburan ditambah lagi dengan musim wisata rohani. Sejak memasuki deck pertama kapal Kasuari Pasifik IV yang merupakan kapal perintis yang beroperasi lintas Manokwari – Biak, kami sudah kesulitan bergerak . Dengan susah paya kami bergerak kearah belakang kapal dan akhirnya kami hanya bisa meletakkan tas dan beberapa barang bawaan kami di bawah tangga kemudian berdiam diri sejenak berharap nanti jika kapal berangkat, akan ada sedikit ruang untuk kami bisa duduk atau berbaring. Perjalanan dari Manokwari ke Biak membutuhkan waktu sekitar 12 jam dan pelayaran dilakukan pada malam hari.

Sesaat setelah kapal berangkat, kondisi penumpang di atas kapal takkunjung berkurang. Sepertinya kami akan berada pada satu titik dalam 12 jam kedepan. Maya sudah memilih tangga sebagai daerah kekuasaan dia. saya masih saja berdiri dan sesekali duduk di pintu ruang mesin sembari memerhatikan pera penumpang lainnya yang berusaha memanjat tempat sekoci, dan beberapa ruang kosong di atas kamar anak buah kapal.

Takhanya manusia ayng tumpah ruah dalam kapal yang kami tumpangi ke biak, diatasnya banyak sayuran, cabe dan yang paling banyak adalah buah pisang. Saya baru tahu kalau di Biak itu susah menemukan pisang  samapai-sampai bertruk-truk buah pisang ini nekat menyebrang dari Manokwari menuju Biak .

Gambar

Sesaat setelah kapal berangkat. petugas melakukan pemeriksaan tiket. Tiket ekonomi  menuju Biak seharga Rp. 82,000 dan VIP Rp. 102,000 . saya dan Maya tentu sudah mengantongi ticket meski hanya ekonomi karena tiket VIP hanis, ternyata saat pemeriksaan tiket sepertinya hanya kami berdua di deck 1 yang memiliki ticket ?? sisahnya tidak memiliki ticket dan hanya mengeluarkan uang sekitar Rp 20,000 – 25,000 per orang  yg diserahkan kepada petugas kapal  sebagai ganti tiket. Jumlah petugas pemeriksa tiket sekitar 6 orang . Salah satu dari mereka yg tampak seperti  bossnya membawa amplop coklat dan semua uang hasil sawerannya masukkan kedalam amplop coklat tersebut. Jadi menyesal membeli tiket 80 ribu rupiah dan bahkan untuk duduk saja susah 😛

Karena tidak mendapatkan tempat tidur, kami dengan susah payah mengusir ngatuk, bahkan tidur di tangga, di atas tumpukan karung yang berisi singgkong, di atas motor . Penumpang lainnya yang tidak mendapat tempat memilih  tidur di atas tumpukan buah pisang. Syukur saja kondisi laut selama berlayar relative tenang sehingga tidak menambah persoalan. Bisa kebayang jika dalam kondisi penumpang yang tumpah ruah ini terjadi penyakit menular mabuk laut. Wong mau ke toilet aja suah !

Wisata Pantai di Biak (Timur)

Akhirnya, kami sampai juga di Biak. selamat datang! tidak ada rencana untuk hari pertama. sepertinya kami hanya ingin mengisi perut dan mencari tempat untuk tidur.

Kami beristirahat di sebuah kampung dibagian timur Biak. Misi utama adalah wisata pantai. Di kampung yang menjadi  markas kami terdapat sebuah pantai. Pantainya panjang berpasir putih dengan vegetasi kelapa yang banyak. Karena penduduknya semua adalah nelayan maka banyak perahu berjejer di pinggir pantai. Sore hari, Perahu nelayan akan kembali dari laut dan para mama-mama menunggu suami mereka purang memancing.

Pantai ini cukup komplit untuk sebuah wisata pantai. Selain pasir putih, kami juga bisa bersnorkling riah melihat indahnya terumbu karang yan gberupa tubir terjal sehingga terumbu tamapk seperti dinding (wall) ikannya banyak dari segi jenis, jumlah hingga ukuran. arusnya cukup kuat sampai-sampai masyarakat setempat memberi istilah “arus kedengaran” untuk menggambarkan derasnya arus air laut. karena berarus kencang, suhu airnyapun lebih dingin ditambah dengan sejumlah mata air tawar  yang keluar dari balik batuan karang.

Gambar

Masih banyak pantai menarik di bagian timur Biak namun yang sempat kami kunjungi adalah Pantai Bosnik dan Pantai Anggaduber. Pantai Bosnik cukup panjang. sayang pantai ini buat saya tidak sempurna karena dangkal dan berbatu sehingga sulit untuk melakukan aktivitas berenang atau snorkeling. Nilai tambahnya adalah, terdapat talud yang panjang (mirip tembok berlin di Sorong) jadi bisa leyeh-leyeh sambil memandangi pulau-pulau di depannya .

Gambar

Di Pantai Bosnik juga terdapat  pasar Bosnik yang buka 3 kali smeinggu (Selasa, Kamis dan Sabtu) mulai pukul 9 pagi hingga siang hari. Ada banyak nelayan dari kepulauan Padaido yang datang menjual hasil melaut mereka. Ikan-ikan segar dengan harga yang murah  akan diperebutkan pembeli dari Kota Biak. yang menarik buat saya adalah Gurita dan Siput laut yang diasap. warna dan bentuk nya sangat menarik. rasanyapun cukup enak. Dalam trip kami ke Biak kali ini, gurita dan siput asap merupakan satu-satunya oleh-oleh yang bisa kami bawa pulang 😀

Gambar

Pantau Aggaduber terletak agak jauh dari Kota Biak. Meski jauh , pantai ini sangat indah. Pasir putih dan perairannya yang dalam menjadikan lokasinya cocok untuk berenang. Hanya beberapa meter dari bibir pantai, dasar laut berubah drastic menjadi tubir yang dalam sehingga memberi  perubahan warna airyang menyolok. Terdapat batu karang besar di ujung pantai. banyak pengunjung melakukan antraksi lompat indah di sana. Saya sih hanya berharap memiliki perlengkapan menyelam dan ingin menyelusuri tubir yang sepertinya banyak membentuk goa di bawa sanah. hmmmmmmm penasaran .

Kepulauan Padaido

Faktor keberuntungan sudah membawa kami ke jejeran kelupauan Padaido. Saya sendiri tidak terlalu berharap akan sampai di Padaido dalam perjalanan kali ini. secara, trip kali ini bisa dibilang bermodalkan NEKAT. Kami beruntung, menemukan orang yang tepat yang bisa membawa kami ke kawasan yang sempat tenar ditahun 90 an itu.

Kepulauan Padaido merupakan salah satu tempat, yang memiliki keragaman hayati ekosistem koral terbesar di dunia. Karang di kepulauan ini menyimpan 95 spesies koral, dan 155 spesies ikan, seperti berbagai jenis hiu karang dan gurita serta berbagai kekayaan maritim lainnya.

Gambar

Dari data Pemda tahun 2005, Kepulauan Padaido merupakan gugusan pulau-pulau karang dengan 30 pulau, yang berada di Samudera Pasifik pada sisi sebelah timur Pulau Biak. Gugusan pulau-pulau tersebut memiliki keindahan pantai dan berbagai jenis habitat seperti atol, karang tepi, dan goa-goa bawah laut .

Kepulauan Padaido memiliki luas terumbu karang untuk reef flat sekitar 9.252,1 ha2 dan deep reef 328,2 ha.Pantas saja ikan yang dijual di Pasar Bosnik buanya dan harganya relative murah. kerang laut, gurita hingga pari pun diperjual belikan 🙂

Gambar

Gambar

Itulah Padaido, gugusan pulau-pulau yang sudah membuat kami “lupa diri” selama sehari berada disana. Oya, dua lagi yang menarik dari Padaido pertama disana ada yang namanya Pulau Nusi. kata orang-orang sekitar, para “penjinak bom” banyak loh disana, sangking mahirnya banyak juga yang jari atau tangannya putus akibat “menjunakkan bom”. yang kedua banyak produksi minuman local (beralkohol) minuman yang berasal dari pohon kelapa ini di sebut anyos. Rasanya lumayan enak. dan untuk anda yang mau “fly” tidak perlu mahal untuk itu. asal jangan sampai tidak tahu jalan pulang.

Wisata Daratan

Berkunjung ke Biak tidak melulu harus di laut. Jadi anda yang tidak suka laut, tidak suka hitam, tidak suka berenang atau lebih tepatnya tidak tahu berenang bisa juga mendapatkan bagian.

pertama adalah wisata perang dunia ke II. Biak adalah saksi sejarah Perang Dunia II sehingga banyak situs peninggalan PD II. kami sempat mengunjungai Goa Jepang, gia dimana para tentara jepang bersembunyi dan menjadi benteng pertahanan terakhir dari serangan sekutu kala itu, sayannya pada goa yang sama, mereka juga dibom  habis-habisan. berada di goa jepang ini serasa kembali pada Perang Dunia, selongsong peluru, senjata dan Bom sisa sisa perang disusun rapai dalam sebuah taman. Terdapat juga beberapa baju, foto hingga cincin dan kacamata yang digunakan para tentara kala itu.

Gambar

Selain Goa Jepang, terdapat monument PD II di Biak. Monument ini sepertinya baru di renovasi sehingga tampak masih kinclong dan  bersih.

Yang menarik juga di kota yang menurut saya memiliki perkembangan yang cukup lambat dibanding beberapa kota lainnya di Papua ini adalah Taman Burung & Taman Anggrek. keduanya berada dalam satu lokasi. Di taman ini saya baru tahu kalau ada begitu banyak jenis burung nuri dan kaka tua. lagi-lagi sayang, koleksi anggeknya tidak terlalu banyak.

Gambar

Sebanrnya masih ada satu lagi lokasi yang wajib dikunjungi di biak. yaitu Hotel Marau. Hotel Marau merupakan hotel berbintang standart internasional yang dibangun pada awal tahun 90an untuk mengimbangin pariwisata Biak yang mulai berkembang kala itu. dibukanya penerbangan langsung dari Amerika dan status Bandar udara Frans Kaisepo sebagaia bandara internasional mendorong bangkitnya pariwisata Biak kala itu. Sayang Krisis monerter meruntuhkan megahnya hotel marau.

Gambar

Kami sempat berkunjung ke lokasi dimana dulu hotel marau berdiri kokoh. taka da lagi bangunan. Kini hanya ada sebuah kolam berisi air berwarna coklat. Kemegahan hotel masi berasa pada jalan dari arah pantai menuju kolam. Jalan itu tersusun dari batu alam. luasnya koolam juga seolah-olah membuat kami bisa merasakan elitnya hotel marau.

Wisata di Biak Serba 20 ribuan

Ini mungkin hanya keluhan dari seorang traveler kere seperti saya. Namun berharp banyak , ini tidak akan saya jumlai lagi ketika berkunjung ke Biak di masa mendatang.

Sebelum berkunjung ke Biak, saya mencoba membrowsing tentang Biak, meski terbatas hasilnya, saya menemukan sebuah blog yang ceritanya tentang jalan-jalan dibiak dan semuanya serba 2o ribu rupiah. Awalnya saya tidak terlalu percaya dan berpikir mungkin teman ini hanya sial atau mungkin tampangnya yang tampak asing.

Gambar

Ternyata, oh ternyata wisata di Biak memang serab 20 ribuan namun ini hanya berlaku di beberapa tempat yang menurut saya cukup krusial dalam wisata Kota Biak. di pintu angina, jalan menuju Goa Jepang, jika anda parker dan melakukan akifitas duduk untuk memandangi pemandangan dibawahnya atau memotret anda harus membayar Rp 20,000 ke masyarakat yang memiliki rumah di sekitar situ. Di Goa jepang juga pengunjung (WNI) harus membayar 20 ribu rupiah per orang tapi itu “jelas”  lengkap dengan karcis.

Di monument PD II kami mendapat palak dari anak-anak kecil. sesaat setelah kami akan meninggalkan monument, mereka meminta kami uang sebesar 30 ribu rupiah, setelah bersusah paya bernegosisasi, akhirnya saya  membayar 25 ribu rupiah.

Saya sih tidak merasa berat memberikan uang sebesar itu kepada penduduk sekitar. Akan tetapi, situs sejarah seperti monument PD ini dibangun pemerintah daerah, jika memang harus ada restribusi dari pengunjung mbo ya harus yang jelas dong. Apa susahnya membuat karcis masuk dan traif yang jelas agar uang yang masuk pun jelas arahnya kemana. Bukannya jadi bisnis keluarga atau pemilik hak ulayat. Lain lagi ceritanya jika lokasi wisatanya memang memiliki fasilitas yang dibangun secara pribadi atau swadaya . Lagian ini seperti jebakan batman, tidak ada peringata dini bahwa untuk masuk kekawasan monument , atau untuk berfoto-foto harus membayar sebesar rp…..

Bagaimana pun itu, penderitaan tidur beralskan singkong, tidur dalam posisi duduk jongok, sudah terbayar dengan indahnya pantai Biak bagian timur,sudah terbayar dengan indahnya kepulauan Padaido, sudah terbayar dengan nikmatnya ikan bakar dan beberapa gurita asap. sudah terbayar dengan indahnya taman anggrek dan taman burung. Terbayar dengan seramnya goa jepang. Terbayar dengan ramahnya penduduk Kampung Soryar.

Akhirnya, Supiori menunggu untuk perjalanan berikutnya.

Iklan