Arsip Bulanan: Februari 2011

Apolos; Anak Pulau

Menurut cerita pace, sejak pulau ini berpenghuni hingga menjadi kabupaten dan ibukota propinsi. Bahkan kekhususan daerah pun tak mampu memberikan sepercik cahaya kala kegelapan datang.

————–
Pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, biasanya mace membangunkan saya dengan meneriaki atau bahkan memaksa dengan menarikku dari selembar tikar lusuh tempat tidur saya kemudian menyuruhku mandi dalam keadaan setengah sadar. Tapi hari ini bahkan mace masih di kamar sebelah yang saya tau juga tidak menggunakan kasur atau pun ranjang, saya sudah bangun.
Orang-orang di pulau kecil ini memang bangun pagi kecuali pace-pace yang pulang pagi dari laut memancing ikan. Selain karena gelap karena tidak ada listrik, anak-anak biasanya kecapean bermain sampai sore hari hingga memaksa mereka untuk tidur kala gelap mulai datang.
Habis mandi dengar air sumur yang salobar, saya langsung sarapan dengan kasbi rebus dan segelas teh manis yang mace siapkan saat saya pergi mandi tadi. Tak lama terdengar suara dari samping rumah “Apo… Apolos, tempo”, “io”, jawabku singkat dan belalu keluar rumah usai pamitan dengan mace dan pace yang duduk dekat tungku api yang terus-menerus mengeluarkan asap. Sangking buru-burunya saya lupa membawa sebuah alat yang wajib saya bawa panggayu secepat kilat saya kembali berlari mengambil sebuah panggayu kecil dan kemudian menuju sebuah perahu dayung bersama Isak, Naomi dan Petrus. Mereka bertiga yang berteriak memanggil saya saat sarapan tadi. Baca lebih lanjut

Iklan