Arsip Bulanan: April 2014

Rice is Life?

Beberapa hari lalu ketika mengikuti sebuah kegiatan, seorang rakan menggunakan kaos dengan tulisan bahasa Inggris yang kalau tidak salah artinya : Nasi Untuk Kehidupan, harusnya bisa diperoleh dengan gratis. sontak pikiranku mengalir ke masa-masa kecilku ketika masih tinggal di daerah bersama orang tua yang setiap harinya mengurusi sawah dan kebun. masih sangat segar ingatanku bagaimana susahnya para petani sawa di daeahku untuk menghasilkan padi – beras. bahkan kala itu hanya bisa produksi 1 kali dalam satu tahun.

Lah, ini tulisan kok maunya mendapatkan beras dengan gratis???? kataku dalam hati. Memangnya gampang apa mendapatkan beras? cucuran keringat sang petani tidak punya arti ya? tidak pantas dihargai?

Tidak penting. toh itu hanya tulisan dan tidak akan memaksa keluargaku dan para petani lainnya untuk memberikan beas secara gratis.. tih saya tahu kema tuntuan dalam tulisan itu diarahkan.

Hmmmmmmmmmmm jika Beras adalah kehidupan, berarti memang beras sudah berhasil menggeser sumber makanan pokok lainnya. yang lain tinggal menjadi makanan tambahan, pelengkap dan mungkin pajangan dan cerita masa lalu.

lihat saja gambar yang satu ini

seolah tanpa beras tak ada lagi kehidupan.
tapi memang demikianlah kondisinya….. toh pemerintah juga mendorong kita untuk mendewakan beras. pengembangan pertanian diarahkan pada perluasan sawa. Tengok wilayah selatan Papua yang dalam beberapa waktu mendatang akan menjadi pusat perkebunan tanaman pangan termasuk padi yang diharapkan mampu menyuplai beras ke seluruh indonesia bahkan luar negeri. padahal Papua tidak mengenal padi sejak dahulu kala. Masyarakat pribumi papua hanya mengandalkan sagu dan ubi-ubian. lah bagaimana ceritanya dengan program ketahanan pangan lokal. ayolah! beras bukan satu-satunya sumber penghidupan manusia , tanpa nasipun kita bisa hidup 😉