Arsip Bulanan: September 2014

Manokwari Water Front City

Istilahnya kerenen “water fornt city” ini hanya istilah pinjaman dari kalangan orang – orang hebat penyusun tata ruang dan para pakar pebangunan. Sebuah istilah untuk menyatakan sebuah posisi kota yangberbatasan langsung dengan lautan. Saya yaktu masih kuliah di Jurusan Perikanan Universitas Negeri Papau juga perna mendengar seorang dosen Unipa yang juga pakar konservasi dan pakar karang menerangkan soal ini. Saya sih tidak ingin mengulik apa itu water fornt city tapi saya ingin menceritakan Kota Manokwari yang kecil ini namun begitu indahnya.

Sangking indahnya sampai-sampai seorang penulis jalan-jalan di majalah terbitan Garuda Indonesia (saya lupa edisi bulan berapa, yang jelas di awal tahun 2014) menggabarkan bahwa suatu saat Manokwari akan lebih indah daripada Rio Dejainero – Brasil . Saya sendiri jika ditanya, mengapa begitu betahnya tinggal di Manokwari? Jawabannya simple. Kota (kecil) ini indah. Pake paket lengkap. Artinya akses ke gunung dan lautnya sangat mudah. Sebuah kota yang hijau dan biru. Sangat cocok untuk anda yang suka dengan alam.

Pertanyaan saya, sejauh apa Manokwari bisa menjadi sama dengan Rio atau lebih? Jawabannya sejauh langit ke tujuh. Manokwari memang indah. Lautnya, pulau Mansinamnya, Pulau Lemonnya, Pulau Raimutinya, Pulau Kakinya, Gunung Mejanya, Gunung Arfaknya hingga Danau Angginya. Sempurna. Sayang. Sepertinya samahalnya nasib Manokwari akan sama dengan kota-kota di Indonesia pada umumnya. Kumuh, sembraut, kotor dan pemandangan jalan yang penuh dengan sampah. Parahnya lagi.. Manokwari juga sudah mengenal banjir.

Tahun 2013. Manowkari dengan banggahnya menerima penghargaan “kota terbersih” dengan piala Adipura. Saya heran saja. Dari mana kriteria yang dipenuhi hingga piala bergengsi itu bisa diraih Manokwari? Secara dari segi kebersihan tidak perna saya melihat Manokwari bersih secara utuh. Masyarakatnya sja masih seenaknya mebuang samapah bahkan dalam jumlah yang banyak di jalan-jalan utama. Di jalan arteri? Jangan Tanya lagi. Banyak TPA disanan. Taman kota yang juga dibuat (meski dalam skala kecil tidak perna terurus dengan baik. Tak ada warga kota yang menggunakannya . ada sih tapi para penikmat alcohol. Satu lagi yang lebih parah adalah ketika awal tahun 2014. PLN membabat habis pohon di pinggir jalan reremi deppan kator Distrik Manokwari Barat. Hanya karena mau memasang tiang listrik. Kenapa tidak tianggnya dibuat di seberang jalan yang tidak ada pohonnya? Memang pohon itu usiannya berapa coba?

Kembali ke sampah. Saya hanya heran. Sekian lama merdeka dan membangun tapi hanya satu dua saja kota di Indonesia yang bisa mengelola sampahnya dengan baik. Di manokwari inimisalnya. Buat apa ada dinas PU dan sebentar lagi ada dinas kebersihan kota? Jika yang hanya diurus adalah sampah di tempat-tempat tertentu. Itupun tidak dilakukan setiap saat jadi jangan heran jika anda melewati tempat umum seperti pasar dan menemukan gundukan sampah yang sudah lebih tinggi dari Gunung Meja.

Sejatinya Pemerintah Manokwari harus bisa mengelola jumlah sampah yang hanya sedikit itu. Misalnya dengan membangun tempat sampah di semua kompleks, lorong atau jalan sehingga para pwarga (terutama yang ngekos) tak lagi keluar malam dan melemparkan kantong sampah mereka di pinggijalan atau ke sungai. Sleanjutnya menyiapkan truk sampah dan kryawan yang memadai sehingga sampah bisa diangkut ke TPA setiap hari tanpa harus menunggu para anjing dan babi membongkar seluruh isi kantong sampah berhamburan di Jalan. Dana OTSUS di papua Cukup banyak untuk memberli ratusan mobil truk pengangkut sampah. Takperlulah kita berpikir untuk mendaur ulang samapah. Toh sampaah kita tidak seberapa dibading dengan kota Jakarta atau Bandung. Yang terpenting saat ini adalah sampah tidak taburan bak bunga bakung di pinggir jalan melainkan sampai di TPA.

Jika sampah bisa teratasi maka dengan sendirinya, Manokwari akan jadi kota ‘water fornt city” yang baik. Tak aka nada lagi kali konto (kentut) taka aka nada lagi banyak sampah di teluk Sawaibu atau Pulau Lemon dan Mansinam dan barulah Manokwari bisa mendapatkan Adipura. Tidak usah berharap berhasil mengatur dan mengelola daerah jika sampah saja belum bisa di atur dengan baik.

Wisata Bulu Babi di Kepulauan Seribu

Saya sudah 2 kali mengunjungi daerah Kepulauan Seribu. Ada beberapa pulau sempat saya kunjungi sambil membanding – bandingkan pulau yang ada di Papua (gk usah dibandingkan juga kaleeee. hasilnya sudah bisa ditebak) buat saya rasanya kurang saja jika berada si pantai atau suatu pulau tanpa berenang dan snorkeling. Bisa Menyelam itu nilai bonus. secara menyelam adalah hobbi sekaligus olahraga mahal .

Saat berkunjung ke resort atau pulau-pulau yang dikelola di kepulauan seribu hal pertama yang akan dijelaskan  sang pemilik pulau adalah jangan perna menginjakkan kaki kedalam air disekitar pantai tanpa menggunakan alas kaki bootis. karna apa? apa lagi kalau bukan karena si bulu babi. hewan yang berwarna hitam berbentuk bulat dengan ditumbuhi banyak duri di seluruh tubuhnya. Bulat tapi kok namanya buluh babi ya? mungkin juga karena bentuk durinya ini seperti buluh pada babi. hitam dan lurus.

Banyak juga orang yang sering kena “ranjau” alam yang juga menjadi indikator kondisi termbu karang ini. faktor utamanya adalah karena belum terbiasa berenang di pantai. yang kedua karena kurang hati-hati dan yang pasti lagi beruntung bisa merasakan enaknya disengat bulu babi.

bagaimana dengan anda? pakah merinding dan merasa ketakutan mendengar nama bulu babi? lah yang sedikit menghibur hati saya ketika berada di pulau Kotok , pulau Macan dan pulau-pulau lainnya adalah  buluh babi loh! sangking banyaknya terpaksa saya harus bersnorkel sambil menikmati pemandangan bawa laut yang menkjubkan dengan hamparan buluh babi. lama-lama koloni bulu babi jadi menarik juga untuk diperhatikan. Mulai dari gerakan durinya, warna pada bagian pusat dari bulu babi hingga ujung durinya yang super tajam.

Bulu babi sebenarnya bisa di pegang loh. caranya dengan meletakkan bagian bawa bulu bagi diatas telapak tangan dengan. mungkin karena bagian ini berfungsi sebagai kaki bagi si buluh babi sehingga durinya lebih tumbul dan tdak beracun.

kesimpulannya, bulu babi bisa mejadi altrenatif obyek wisata 😀