Listrik Padam di Teminabuan Masih Heboh

Setelah 6 bulan tidak mengunjungi Teminabuan, Sorong Selatan akhirnya saya bisa bersua dengan kota yang dialiri sejumlah sungai berair jernih dan biru itu. Ada setidaknya dua sungai yang menjadi primadona wisata lokal karena kondisi sungai yang indah. Ditambah lagi suhu udara di Teminabuan yang panas menyebabkan penduduk lokal sering menghabiskan waktu untuk ngadem di sungai.

DCIM100MEDIADJI_0066.JPG

Salah satu sisi dari Teminabuan

Karena tahun-tahun sebelumnya saya sering berkunjung ke Teminabuan, maka saya lebih memilih transportasi udara untuk mempersingkat waktu. Biayanya juga relatif murah karena adanya program subsidi. Tahun 2016 setau saya hanya ada satu penerbangan yakni SusiAir dengan jadwal penerbangan 3 kali / minggu. Sehari sebelum keberangkatan barulah saya sadar jika sejak 2017 tidak ada lagi penerbangan ke Teminabuan. Terpaksa saya harus menggunakan moda transportasi mobil kesana dan menghabiskan setidaknya 4 jam perjalanan.

Saya tiba di Teminabuan jam 8 malam. gelap gulita kala itu. Hujan pula, sedang ada pemadaman listrik. sejam berlalu, listrik pun nyalah. Tapi itu hanya satu menit. Listrik kembali padam sampai sejam kedepan. Parahnya lagi, tidak hanya saat saya tiba. Drama padam, nyala-padam, nayala masih berlangsung hingga seminggu kedepan saya kembali ke Sorong.  Di Teminabuan, Listrik On Off rata-rata 4 kali dalam sehari. Siang, pun malam.

Tidak heran jika orang-orang rela mengupdate status di facebook tentang listrik padam meski untuk membuka facebook dan mengapload 1 status butuh 15 menit akibat jaringan internet yang lelet. Jangankan internet. SMS dan Telpon saja harus berulang-ulang baru tembus. sepertinya, Teminabuan kalah jauh dari Bintuni, Kaimana atau Raja Ampat yang merupakan kabupaten seangkatannya dari segi komunikasi. Di kabupaten tersebut, para pengguna telepon pintar bahkan bisa melakukan siaran langsung dari daerah mereka. Di Teminabuan? membuka email saja gagal sepanjang tahun!.

Masalah Listrik padam memang tidak hanya terjadi di Teminabuan. Tapi di semua kota besar pun kecil di Papua. Topik teratas setiap malam dalam akun sosial  adalah listrik padam. Jayapura yang merupakan kota terbesar di Papua tidak kalah heboh soal listrik padam. Meski bapak Presiden sudah meresmikan 6 proyek listrik pada Oktober 2016 tapi faktanya Jayapura dan sekitarnya masih saja terjadi pemadaman tiap hari.

Berbeda dengan Ibu Kota Jakarta. Beberapa kali kesana saya tidak perna merasakan ayang namanya listrik padam. Tidak ada juga penduduk DKI yang update status “DKI gelap gulita #MatiLampu”

Yaah sudahlah, semoga saja apa yang dijanjikan Pak Jokowi bahwa seluruh distrik di Papua dan Papua Barat akan terang benderang pada tahun 2019 akan terlaksana. Tapi mbok ya kalau tahun di 2017 semua kabupaten masih heboh dengan listrik mati trus gimana nasib distrik nanti?

Lolai, Negeri Di Atas Awan

Seperti biasa, setiap Desember saya memilih untuk pulang kampung jika tidak ada pekerjaan yang urgent. Tahun 2016 ini saya akhirnya pulang kampung 2 minggu sebelum pergantian tahun. Meski sering pulang kampung, tak banyak daerah wisata yang perna saya kunjungi di daerah asal saya yang nota bene masuk dalam salah satu destinasi wisata di Indonesia. Toraja, yang menurut saya perkembangan wisatanya biasa-biasa saja bahkan kalah dari daerah wisata lain yan gbaru muncul di tanah air semisal Raja Ampat atau Wakatobi. Namun ada satu daerah wisata ‘baru’ yang tak boleh saya lewatkan dalam trip pulang kampung kali ini. Lolai, Negeri Di Atas Awan.

kabut-menghampiri-lempe

Lempe, tampak dari Billa

Sejak tahun 2015, Daerah Lolai, Kabupaten Toraja Utara menjadi buah bibir. Tidak hanya di kalangan warga Toraja  dan Sulawesi Selatan. Bahkan ditingkat Nasional daerah yang menambah jumlah tempat wisata di Toraja tersebut kian terkenal. Bahkan pada Ahustus 2016, Ibu negara sempat berkunjung kesana. Baca lebih lanjut

Pulau Um “hotel” yang tidak perna kosong

Pertengahan November 2016 akhirnya bisa kabur dan melakukan perjalan dari Sorong – Manokwari menelusuri pesisir utara Papua Barat dengan menggunakan kapal. Dalam perjalanan saya menemukan sebuah ‘hotel’ yang tidak perna sepih dari penghuni.

img_1905

Kelelawar bergelantungan memenuhi pohon cemara di Pulau Um

Tepat di depan Kampung Malaumkarta, distrik Makbon, Kabupanten Sorong terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal dengan Pulau Um entah apa artinya.  Yang jelas pulau tersebut unik dan indah. Kami tiba pada soreh hari pukul 5 dan disambut dengan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler. Tidak hanya itu, pulau Um yang berada di depan tempat kapal berlabuh, menambah keindahan soreh itu. Bagaimana tidak ribuan keleawar berukuran besar yang juga dikenal dengan megabat beterbagan keluar dari Pulau Um.

Pukul 8 malam kami menuju Kampung Malaumkarta dengan speedboat. Berhubung November-Desember adalah musim ombak di bagian utara Papua maka tim sangat berhati-hati saat akan sandar di pantai. Sebagian dari kami memang sangat tegang sesaat sebelum sandar di pantai. Bagaimana tidak, ombak dengan ketinggian sekitar 1,5 meter sambung menyambung hancur dipinggiran pantai. Rasa was-was makin menjadi ketika para warga kampung yang menyambut heboh dan berteriak memberikan instruksi bagi driver boat dalam kegelapan . Syukurnya kami semua aman-aman saja hingga kembali lagi ke kapal.

Penasaran dengan Pulau Um, pagi-pagi buta, beberapa anggota tim sudah merapat ke pulau yang sebagian ditumbuhi banyak pohon cemara itu. Dari jauh, bauh menyengat sudah tercium. Dan itu adalah bauh dari kotoran para burung penghuni pulau yang ukurannya tidak seberapa itu. Dari cerita semalam bersama warga. Pulau Um bak hotel bagi beberapa jenis burung. Baik siang pun malam, pulai Um selalu full booked . pagi ini itu kami disambut segerombol burung kecil sejenis burung wallet yang bergerombol mengintari pulau dan sesekali sembunyi dibalik pepohonan.

Adalah Kelelawar yang menghuni “hotel” um pada siang hari. Beberapa pohon cemara yang tinggi penuh sesak dengan kelelawar yang bergelantungan dan tidur nyeyak. Mereka sepertinya mereka tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran kami. Meski kami mengoborol normal, para hewan nokturanl itu larut dalam mimpi.

Sore harinya kami masih sempat mampir disekitar pulau Um. Sepulang dari Kampung Kuadas yang lokasinya tidak jauh dari Malaum Karta,  kami makin terkagum-kagum dengan Pulau Um. Bagaimana tidak, sore itu pukul 6 dan kami menyaksilakn langsung proses chekin dan chek out di “Hotel” Um ratusan burung camar beterbangan di atas pulau Um sementara ribuan kelelawar chekin untuk mencari makan . sungguh pemandangan luar biasa. Baru yakin dengan cerita beberapa warga kampung bahwa Pulau Um dihuni burung Camar Pada Malam hari dan Keleawar pada Siang Hari. Pagi dan soreh adalah waktu pergantian menginap . Saya jadi yakin, cleaning service “hotel” Um tsangat kewalahan sehingga hotel tersebut sangatlah bau .

Bis ke Toraja Bisa Booking Online

bis-torajaBeberapa waktu lalu saya mampir lagi ke Toraja. Perjalanan saya dari Jakarta ke Papua jadinya terhenti beberapa hari di Sulawesi . 2 hari sebelum terbang ke Makassar, saya mengatur jadwal terbang saya agar tidak terlalu tertaut jauh dengan jadwal keberangkatan bis. Bis Makassar- Toraja ada pagi sekitar jam 9 dan Malam jam 9.

Karena saya was-was taku tidak dapat kursi bis , saya segera browsing bis rute Makassar-Toraja untuk mencari nomor kontak . Di om Google sendiri semua bis sudah ada datanya. Lengkap. Tapi ada satu bis yang bikin saya tertarik. Bis tersebut bisa di booking oline bahkan memiliki aplikasi smartphone. Jadilah saya membeli ticket bis seperti membeli ticket pesawat . Keren.  Sayang kembalinya saya harus naik bis obrok karena satu-satunya bis yang melayani trip siang Toraja-Makassar. Operator bis tersebut adalah Primadona. Konon waktu Ibu Peresiden Jokowi ke Toraja bulan lalu, beliau menggunakan bus tersebut.

Ada lagi yang perlu dicoba jika bepergian ketoraja. Infonya sih cuman dapat di Internet jika salah satu bis milik operator Bintang Prima  memiliki pelayanan baru yakni beberapa tempat tidur . wah jadi bisa sloyoran tidur sepanjang perjalanan ya. Hanya bagi saya ini tidak direkomendasikan bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke Toraja. sensasinya bakalan kurang 😀

Meski pelayanan bis ke toraja semakin OK, saya tetap bermimpi bahwa dataran tinggi tersbut kelak memiliki bandara yang bisa dilayani pesawat berukuran standart dengan direct flight ke kota-kota besar di jawa, Kalimanta dan Papua. Masa sih datara tinggi yang sudah dibagi menjadi 2 kabupaten tidak bisa memiliki bandara yang layak.

 

Jalan (jalan) di Tempat

Dua bulan absen dari tulis tentang jalan-jalan berarti hampir 2 bulan tidak jalan alias jalan di tempat. Rasanya sedih tidak lagi banyak jalan-jalan tapi bukan berarti saya tidak jalan-jalan. Sebenarnya 2 bulan terakhir saya sempat ke Sorong Selatan 5 hari dan ke perjalanan sehari ke Ransiski, Kabupaten Manokwari Selatan, dan perjalan sehari ke Pantura Manokwari. eh Bukan jalan di tempat dong 😀

Tapi itulah yang saya rasa. Serasa jalan di tempat. Untungnya, saya ketemu dengan 3 traveler dari luar. Kami bisa saling share dalam 2 minggu di Manokwari. Ceritanaya berawal ketika iseng kami mendaftarkan rumah tinggal kami yang memiliki dive center kesebuah situs booking online airbnb . Disitu kami jelaskan bahwa pelanggan diving bisa sekaligus nginap di rumah kami  😀 . Rejeki tidak kemana. dalam waktu bersamaan 3 orang dari negara berbeda,  membooking 2 kamar untuk 3 hari tinggal + 1 hari diving.

13228092_10207636541404727_46797797_n

Hang out for dinner

Entah terhipnotis atau apalah, mereka jadinya menambah jadwal tinggal mereka di Manokwari. Yang bapak-bapak jenius dari Amerika (aslinya Colombo) ngnap dari 3 hari menjadi 5 hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat. sementara yang cewe 2 extended dari 3 hari menjadi 2 minggu 😀 luar biasa.

Selama 2 minggu bersama kami, ada banyak pengalaman yang kami bagi. sejak dari bangun pagi hingga kembali tidur pada malam hari, kami banyak menghabiskan waktu bersama. jarak sebagai tuan rumah dan tamu pun hampir tidak ada, kami sering sarapan bareng, makan siang baren hingga makan malam baren bak sebuah keluarga.

Karen mareka berdua adalah traveler berpengalaman, tak kami sia-siakan untuk belajar dari mereka yang suka backpaker tapi tidak kere-kere amat. buktinya mareka mau tinggal bersama warga lokal dan berjalan-jalan dengan transport publick tapi juga punya cukup budget untuk diving yang menurut saya cukup menguras dompet. Apa lagi mereka dalam traveling 6 bulan di Indonesia .

13187892_10207636543684784_1264207566_n

Perpisahan di Pondok Kopi

Dari cerita bersama, saya bisa menyimpulkan seperti apa kecintaan terhadap Nusan tara ini. bahkan salah satu dari mereka sempat bercanda jika dia akan mati jika kembali ke negara mereka. dia akan mcari cara bagimana pun untuk bisa kembali ke Indonesia yang sudah dia jelajahi hampir sebagian.

Berbeda lagi dengan cewe yang satunya. dia dari Rusia tapi bekerja di Bangkok. dia sangat tertarik untuk kerja-kerja sosial di Papua. bahkan sebenarnya mereka sudah menjadi relawan untuk konservasi karang di Raja Ampat selama 2 bulan sebelum ke Wamena dan Manokwari.

Salutlah atas pembelajaran dari mereka yang low profile . Apa lagi kami bisa saling berbagi tentang diving, pariwisata, lingkungan hingga kopi. tak lupa saling mengajarkan bahasa. Mereka mengajar kami bahasa Inggris dan kami mengajarkan mereka Bahasa Indonesia yang katanya terlalu ribet untuk dihafalkan satu-persatu 😀

Cerita jalan-jalan mereka di Manokwari dapat disimak di blog pribadi Marthe

so pengalaman jalan-jalan tidak harus dirasakan langsung, bisa juga dengan belajar jalan-jalan dari orang yang sedang jalan-jalan 😀

Jalan Di Manokwari Rusak, Dimana PU?

Jalan rusak di Puncak Reremi

Kondisi jalan di Reremi penuh lubang, membahayakan para pengendara. Foto Amos (16/3/2016)

Siang ini saya ke daerah Sanggeng, Manokwari, Ibu Kota Propinsi Papua Barat.  Dengan menggunakan speda motor saya berkendara dari arah Amban dengan kecepatan yang sedang-sedang saja 😀 . Selain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya juga bisa mendapat kesempatan untuk mengamati sekitar.

Sepanjang jalan dari Amban menuju Sanggeng, banyak jalan yang rusak, banyak juga sampah yang berserakan di badan jalan. Tapi kali ini saya fokus ke jalan yang rusak. Secara, bulan depan saya harus membayar pajak motor lagi untuk ke 4 kalinya. Dan sebagai warga negara yang rutin bayar pajak baik pajak penghasilan pun pajak kendaraan saya wajib mengetahui kemana uang yang saya bayar kepemerintah itu. Baca lebih lanjut

7 Bandara Terbaik di Papua

Meski jauh di ujung timur Indonesia, pembangunan infrastruktur penerbangan kian membaik. Dulu, hanya 2 atau 3 bandar udara (bandara) yang layak dari segi keamanan untuk sebuah penerbangan maka saat ini sudah ada setidaknya 7 bandara yang “baik” bahkan unik di Papua (Papua dan Papua Barat).

Berikut adalah 7 bandara tersebut, saya urutkan berdasarkan panjang landasan pacu. Baca lebih lanjut