Wisata Festival di Tanah Papua

Zaman old dan zaman now jalan-jalan sepertinya tidak lepas dari fesitval . Aneka  festival diciptakan untuk menarik dan meningkatkan pariwisata di tiap-tiap daerah tak terkecuali di Tanah Papua. Bicara Tanah Papua berarti kedua Propinsi yakni Papua dan Papua Barat.

Di tanah Papua Festifal yang sudah digelar sejak lama secara rutin adalah Festival Baliem dimana festival ini sudah digelar lebih dari 20 kali. Festival di laksanakan di Wamena Jayawijaya ini mampu menarik perhatian internasional dimana jualan utamanya adalah budaya perang di pegunungan Papua. kultur yang unik ditambah panorama alam yang memukau menjadi  dayatarik tersendiri bagi pelancong yang ingin melihatnya dari dekat.

baliem-1

Festival Baliem, Foto : adventureindonesia.com

Festival lain yang menurut saya sudah digelar sejak zaman old adalah festival Budaya Asmat. Festival ini sudah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 2014. jika setiap tahun digelar berarti 14 tahun. keunikan yang diangkat dititikberatkan pada budaya suku Asmat sendiri terutama kemahiran mengukir pada kayu yang sudah tersohor ke manca negara.

mengenal-kehidupan-suku-asmat-kanibal-dari-papua-barat-Igl0BoHJbQ

Suku Asmat (foto: Flickr)

Sementara itu beberapa kabupaten lainnya mulai menggelar festival tentunya dengan mengangkat tema dimasing-masing daerah seperti festival Danau Sentani yang mengajak pengunjungan mengenal budaya dan kehidupan orang-orang asli yang hidup di Danau Sentani di Jayapura. Ada juga festival Munara Wampasi Biak yang mengangkat tema budaya dan kearival lokal dalam menjaga kehidupan di perairan laut biak dimana puncaknya adalah pembukaan sasi dan dikenal dengan snapmoor. Ada lagi Festival Bahari Raja Ampat yang tentunya menjual keindahan lanskap dan kehidupan bawah laut Raja Ampat yang “meledak” dalam beberapa tahun terakhir.

munara wampasi biak

salah satu atraksi dalam festival munara wampasi biak yakni berjalan diatas bara batu (foto: idntimes.com)

Yang paling baru ditelinga saya adalah Festifal budaya Arfak di Pegunungan Arfak Manokwari yang tentunya mengajak pengunjung untuk melihat budaya masyarakat asli yang hidup di pengunungan Arfak serta panorama alamnya termasuk 2 danau yang ada di Kabupaten Pegunungan Arfak Danau Anggi. Ada lagi Festival Sagu dimana bukan rahasia umum lagi bahwa di kampung-kampung di pesisir dan di dataran rendah Papua, Sagu merupakan makanan Pokok. sampai pada Festival ulat sagu yang digelar di Merauke, Mappi, dan Bovendigul.

sagu

Dusun Weyunggeo, Kampung Uni, Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Lokasi penyelenggaraan Festival Pesta Ulat Sagu (Foto econusa.id)

Bagaimana, festival mana yang paling ingin kamu ikut?

Iklan

Jalan-jalan ke Anggi: berburuh kopi, sayuran

Kalo ke Manokwari salah satu daerah yang paling menarik sekaligus menantang untuk dikunjungi adalah Kabupaten Pegunungan Arfak . Saya sendiri setelah sekian lama tinggal di Manokwari baru bisa menginnjakkan kaki di Ibu kota kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Manokwari pada tahun 2012 (atau 2013 ?) . Sebelumnya perna ke Minyambow tapi saat itu Pegunungan Arfak belum dimekarkan.

Namanya Kabupaten Pegunungan Arfak berarti lokasinya berada di pegunungan. Berada di ketinggia ribuan meter di atas permukaan air laut tentu saja menjadikan daaerah ini memiliki suhu yang relatif dingin . Tentu saja tidak sedingin musim dingin di Eropa sana .

anggi1

Terdapat 2 danau yang yang berada di sekitar ibu kota kabupaten yang hampir merupakan puncak tertinggi dari Pegunungan Arfak. Adalah Danau Anggi Gida dan Danau Anggi Giji yang juga berarti danau Perempuan dan Danau Laki-laki.Berada di ketinggian 200 meter mdpl. kedua danau ini dipisahkan oleh sebuah perbukitan yang vegetasinya lebih didominasi oleh savana. Ada juga pohon yang lebih tampak seperti pohon purba dengan tegakan yang tidak terlalu tinggi, diameter pohon yang kecil dan ditumbuhi lumut .

Ada lagi beberapa air terjun yang dapat ditemui sepanjang menuju dari Manokwari ke Anggi yang tentunya bisa menjdi daya tari tersendiri. Untuk menuju ke Anggi ada dua jalur yang bisa digunakan. Melalui Manokwari selatan (Ransiki) maupun melalui Menyambow. Jika lewan Menyambow pengalaman akan semakin lengkap karena bisa melalui sebuah spot di Mokwam yang merupakan spot pemantauan burung . Paling tidak burung pintar dan burung cenderawasih menjadi obyek paling menjanjikan untuk diamati.

anggi 4

Beberapa kampung sepanjang rute perjalanan juga menjual berbagai hasil kebun. Yang paling menarik bagi saya adalah nenas yang manisnya bak campuran gula satu kg dalam tiap buahnya. muanis dan tidak asam.

Di Pegunungan Arfak sebagian besar penduduk berja dan memenuhi kebutuhan dapur dengan berkebun. sisanya biasanya dijual ke pasar terdekat terutama ke Manokwari. unggulan dari pertanian mereka adalah daun bawang, kentang dan labu siam. Merkisa juga tumbuh dubur dan dapat ditemukan disekitar pekarangan rumah penduduk.ada juga strowberi dan wortel.

anggi 3

Jalan menuju ke Anggi bagi orang yang tidak biasa akan menjadi pengalaman yang cukup memompa adrenalin. sepanjang jalan menanjak lepas dari kawasan Prafi , jalan begitu curam dan kondisi offroad. Sangking curammnya, mobil yang naik dan turun harus berkomunikasi. Angkutan umum yang semuanya berupa mobil double gardan memiliki radio komunikasi, setiap menanjak, atau menurun, sopir wajib melaporkan ke pengguna lajalan lainnya yang bisa jadi dari arah berlawanan agar menahan diri .

anggi 2

Nah waktu disana yang paling asik buat saya adalah bertemu beberapa pohon kopi yang sedang berbuah. Beruntungnya lagi, buah kopi sudah merah dan siap panen. Jadilah saya memanen kopi-kopi tersebut dan membawa kembali ke kota dan selanjutnya saya proses. Rasa kopinya sangat enak , aromanya sangat kuat dan tidak asam . sayang sekali tidak setiap saat bisa mendapatkan kopi yang menurut saya tidak kalah dengan kopi ternama di Indonesia . Sementara teman lainnya lebih berburu sayuran daya sumeringah dengan sekarung kopi 😉

 

Weekend di Raja Ampat

Sejak pindah tugas ke Sorong, saya jadi banyak kesempatan untuk berlibur ke raja Ampat. Secara Sorong adalah pintu masuk Raja Ampat. Libur weekend pun bisa kabur ke Raja Ampat.

Raja Ampat disini jangan dipikir hanya Wayag atau Piaynemo atau Misol. ketiga tempat itu adalah bagian termahal dari Raja Ampat dari segi transportasi atau penginapan. Itu karena jaraknya yang tidak dekat. Baca lebih lanjut

Jalan-jalan ke Pulau Buaya

Salah satu pulau yang terkenal namun jarang tersntuh di Sorong adalah Pulau Buaya. Lokasinya sangat dekat dan tepat berada di depan tembok berlin. Meski namanya Pulau Buaya, jangan berharap akan ketmeu buaya disana.

Tahun ini adalah tahun ke20 saya bermarkas di Papua, dulu 3 tahun saya habiskan di Kota Sorong dan hampir setiap hari saya melihat Pulau Buaya (dari kejauhan) tanpa perna sekalipun mengunjungi Pualau Buaya. Hingga akhirnya hari ini tepat di hari lahir saya saya mendapat kesempatan untuk berkunjung kesana.

Kebetulan hari libur dan ada kolega dari luar negeri yang sedang berkungjung jadi bisa sekalian ngajak mereka jalan-jalan. Diawali dari tawaran tamu tersebut untuk jalan-jalan ke Taman WIsata Alam yang terletak di kilo meter 14. Sama dengan Pulau Buaya, saya belum perna berkunjung ke TWA yang satu intu. Meski letaknya dalam kota sepertinya tidak terlalu menarik untuk dikunjungi.

TWA sorong

TWA Kota Sorong

Entahlah mungkin bagi kita yang sudah lama dan dekat dengan TWA atau apapun itu, tempat yang bagi orang baru selalu menarik untuk dikunjungi, tidak lagi menarik buat kita. padahal belum tentu kita tahu apa saja yang bisa dilihat disana.

Saat treking dalam TWA tiba-tiba saya teringat dengan Pulau Buaya  jadilah saya menawarkan untuk kepulau buaya kepada teman saya dan direspon positif. Siang hari kami sudah menuju Pulau Buaya.

Musim angin selatan di sorong menjadikan laut sedikit berombak saat menuju Pualau, syukurnya sisi timur dari pulau ini telrindung dari ombak dan angin dan cocok untuk mandi, snorkeling bahkan pengunjung yang saat itu berada dilokasi mengatakan jika ada goa bawa air yang bagus untuk penyelam. menarik untuk diexplore selanjutnya.

Beberapa jam di pulau buaya hanya kami gunakan untuk leyeh-leyeh di pantai pasir putih, berenang dan sesekali melirik banyaknya sampah plastik yang bertebaran dimana-mana. Penyakit memang jika bicara soal sampah. terutama bagi pulau yang dekat dnegan kota seperti Pulau Buaya ini, meski penduduknya tidak banyak, sampahnya ribuan kali lipat akibat sampah yang dibawa arus dan ombak dari kota.

pulau buaya 4

Pantai Pulau Buaya

Meski pantai cantik, sampah mengurangi indahnya pemandangan.syukurnya air laut bening dan tidak terkontaminasi dengan sampah-sampah yang ada jadi masih layak untuk mandi.

semoga saja suatu saat ada perubahan dalam hal penanganan sampah di Kota ini

Nonton Burung di Malagufuk

Saya bukan pecinta burung apalagi penggila burung ala bird watcher yang rela melakukan perjalan jauh yang menguras energi, waktu dan tentunya biaya untuk melihat aneka burung di dunia ini. Tapi bicara soal burung, Papua patut diperhitungkan. hal ini tidak lepas dari jumlah jenis burung yang menghuni Papua bahkan beberapa diantaranya konon hanya dapat di temukan di Papua misal Cenderawasih.

Saya sendiri setelah belasan tahun tinggal di Papua tidak perna melihat cenderawasih hidup yang tersohor itu hingga tahun 2012 saya berkungjung ke taman Burung Biak. itupun di taman burung. Tapi saya yakin, banyak diantara penduduk Papua yang bahkan belum perna melihat burung cenderawasih hidup 🙂

DSCN4847

Spot pemantauan burung cenrawasih di pinggir sungai warsumsum

Salah satu tujuan beberapa orang luar yang saya kenal datang ke Papua adalah ingin melihat cenderawasih (hidup dialam liar tentunya) karena jika hanya ingin melihat cenderawasih yang sudah diawetkan, sangat gampang. tinggal ke toko souvenir atau keacara-acara adat biasanya banyak aksesoris yang terbuat dari burung cenderawasih.

Kesempatan kedua bagi saya melihat cenderawasih adalah ketika kami melakuka expedisi hutan hidup dengan rute Sorong – Manokwari. ketika itu kami mampir disebuah kampung yang bernama Imbuan. Disana terdapat sebuah spot pemantau burung cenderawasih yang letaknya beberapa kilometer dari kampung. Untuk mencapai lokasinyapun harus tracking 3 bukit yang kemiringanya bagus untuk olahraga jantung.

Kesempatan ketiga adalah di Malagufuk. Ini adalah kampung yang baru saja berdiri 3 tahun lalu. Pendudukya minimalis . Hanya ada 14 KK yang sebagian besar penduduknya adalah anak-anak. Karena baru, kampung ini minim infrastruktur. Rumah-rumah penduduk masih sangat jauh dari kata nyaman. Belokasi sekitar 3 km dari jalan poros Sorong- Tambraw dan masuk dalam wilayah administrasi Distrik Makbon.

Meski jarak dari jalan hanya 3 km tapi butuh lebih dari 1 jam untuk bisa menjangkau kampung Malagufuk dimana jalan masih merupakan jalan setapak dalam hutan yan rapat dengan pepohonan dan kondisi tanah yang sebagian besar berlumpur. Musim hujan memang bukan musim yang pas untuk berkunjung ke kampung ini. pertama karena kondisi jalan dan halaman di kampung menjadi becek berlumpur  .  kedua, kesempatan untuk mendapatkan momen cendreawasih dan burung lainnya menjadi berkurang.

Dikampung ini tidak ada hiburan selain mendengarkan kicauan burung atau melihat burung yang beterbangan dari pagi hingga sore hari. Burung cenderawasih yang biasanya jauh dari pemukiman disini bisa kita lihat hanya dengan berjalan beberapa ratus meter dari pemukiman. Setidaknya ada dua jenis cenderawasih yang sudah diidentifikasi warga kampung. Cenrawasih kuning dan cendrawasih hintam.

Untuk bisa menikmati cendrawasih dalam jumlah yang banyak 4-7 ekor dalam satu spot pantau , lokasinya lebih jauh dan harus naik turun bukit. jaraknya sekitar 2,5 km dan berada dipinggiran sungai Warsumsum. Ketika saya kesana, saya menyaksikan 4 ekor burung cenderawasih . Rasanya campur aduk melihat cenderawasih hidup liar di alam bebas dari jarak dekat.

Screen Shot 2017-07-18 at 19.50.53

Surga, ketika menyaksikan burung surga

Malagufuk sendiri mencoba berkomitmen untuk mendorong ekowisata dengan komodistas andalan burung cenderawasih . Terbukti sejak awal sudah dibangun satu rumah turis, semacam homestay dengan kapasitas tamu 2 orang. Sejak dibuka, sudah ada beberapa warga asing yang berkungjung ke Malagufuk untuk melihat cenderawasih di alam bebas .

DSCN4836

Awis, Kasuari Malagufuk

Bagi saya Malagufuk sendiri patut dikunjungi para bird watcher. ada begitu banyak jenis burung disana. tidak hanya jenis tapi jumlahnya juga melimpah. Warga begitu berkomitmen hingga tidak ada aktivitas berburu burung. Bahakan ada seekor burung kasuari liar yang tiap hari datang di kampung terutama pagi dan sore hari untuk mencari makan. warga kampung juga sudah menyiapkan pisang sebagai makanan dari kasuari yang diberi nama Awis.

Meski warga Malagufuk berkomitmen untuk menjaga ekosistem hutan mereka, ancaman tetaplah ada. Terbukti ketika kesana saya melihat sendiri beberapa pohon kayu merbau sudah digergaji dekat dengan spot pemantauan burung cendrawasih. karena jaraknya jauh dari kampung aktivitas penebangna pohon di hutan jadi susah terkontrol. Belum lagi sitem kepemilikkan komunal. Ada saja pribadi -pribadi yang ingin mejual pohon bagi para pelaku bisnis kayu. Sore itu saya melihat sebuah perahu yang belakangan saya ketahui milik pebisnis kayu di kota sorong yang masuk melalui Sungai Warsumsum dan mengangkut kayu merbau hasil gergajian mereka tepat disebelah spot pemantauan burung cenderawasih.

DSCN4867

Bisnis kayu masih menjadi salah satu ancaman bagi keberlangsungan hidup burung liar di Papua. tidak hanya habitat, para pembalak suka berburu dengan menggunakan senapan angin

Kampung Malagufuk ini ampung ini recomended bagi para bird watcher .  Meski saya orang awam, saya sangat terhibur melihat dan mendengar beragam kicauan burung  selama berada di kampung . Semoga saja perjuangan warga Malagufuk untuk menjaga hutan mereka dan mendorong ekowisata bisa tercapai suatu saat nanti.

Biak Memanggil : Munara Wampasi 5

Festival Biak Munara Wampasi 5 baru saja berakhir kemarin. Itu artinya trip saya ke Biak akan segera berakhir pula. Sudah 6 hari saya meninggalkan Manokwari dan melakukan perjalanan di Biak. Sebuah pulau yang bersejarah di Tanah Papua. Terakhir saya mengunjungi Biak sekitar 5 tahun lalu dan kerinduan untuk melihat kembali keindahan pulau ini pun muncul sejalan dengan adanya kesempatan Munara Wampasi festival yang ke lima 2017.

biak2enshot_76-404x300

Jika dulu saya bersama teman saya ke Biak dengan menggunakan kapal fery ala back packer kali ini saya beruntung bisa ngetrip dengan sedikit elit. Sebut saja begitu meski dana yang saya keluarkan lebih sedikit dengan trip back packer saya 5 tahun sebelumnya. Kenapa bisa? Iya karena saya menumpang sebuah kapal phinisi yang istilah kerennya sekarang LOB (live on board) jadi 6 malam dibiak termasuk perjalanan saya habiskan di kapal kayu bernama Kurabesi Eksplorer. Bukannya LOB lebih mahal? Tepat sekali. Kalo dirata-ratakan, biaya LOB perhari bisa 3 jutaan rupiah tapi karena ini kapaal milik senior yang sudah seperti saudara sendiri ya gratislah J . kosekuensinya saya harus tau diri dengan membagi waktu untuk sedikit melakukan pekerjaan di atas kapal.

Munara Wampasi sendiri berarti pesta adat atau pesta rakyat pada musim pasang surut terendah. Total festival dilaksanakan 4 hari dengan berbagai acara di tempat yang berbeda. Dari Festival ini, Biak berhasil memecahkan rekor muri Tifa terbanyak pada hari pertama. Dimana ribuan tifa dimainkan oleh penduduk Biak.

Ada juga atraksi budaya yang masuk dalam nominasi atraksi budaya terpopuler di Indonesia yakni Apen Beyeren. Atraksi ini diadopsi dari cara orang Biak memasak tradisional dengan menggunakan batu panas. Dimana makanan dimasak dalam lobang tanah dengan menggunakan batu yang dibakar hingga merah.. dalam atraksi ini sekelopok orang mengelilingi batu yang sudah dibakar hinga merah membara dan beberapa orang ditangahnya berjalan diatas batu yang pansa tersebut tanpa alas kaki. Ngeri!

Ada juga acara menyelam di spot paling popular di Biak yakni wreck catalina. Pesawat yang jatuh pada perang dunia kedua tepat didepan Kota Biak di kedalaman 29 meter. Tidak banyak pesertanya karena ini merupakan acara loba poto grafer bawa laut. Ada lagi pameran aggrek secara Biak terkenal dengan anggreknya. Bahkan se tanah Papua, hanya Biak yang memiliki taman anggrek.. ada lagi lomba 10 k.

Ada lagi trip Padaido. Pemerintah menyiapkan 1 buah kapal cepat kea rah kepulauan padaido yang sangat indah. Acaranya sih kebali sama. Hanya kumpul-kumpul dan taritarian adat trus pulang. Kan rugi, jauh-jauh ke padaido trus hanya kumpul-kumpul di satu pulau penuh sesak dengna manusia bak pasar dari pagi sampai soreh , dengar music dan sedikit tarian adat tanpa melihat keindahan pulau – pulau lainnya. Karena kami pergi dengan kapal sendiri kami jadi bisa merasakan sedikit tour Padaido dengan singgah di beberapa pulau untuk snorkeling, berenang dan menyelam.

Inti dari festival sesuai namanya adalah Snap More. Sebuah wialyah laut yang sudah disasi secara adat selama beberapa tahun dibuka dan semua warga diundang untuk ikut dalam “panen raya” hasil laut tentunaya dengan menggunakan alat tangkat tradisional . Snap Mor tahun ini diadakan di wilayah Biak Barat tepatnya di Kampung Karnindi. Sayang acara yang mestinya menarik ini buat saya tidak terlalu seheboh yang saya bayangkan sebelumnya. Memang yang terlibat banyak tapi tidak terlihat semeriah acara nyaleh di Lombok. (bisa jadi karena saya tiba terlambat) belum lagi panggung hiburan yang disediakan dengan stile modern. Beberapa biduan menghibur peserta dengan lagu-lagu yang modern. Kacau!

Semoga saja dengan festival tahunan Biak Munara Wampasi ini bisa menembalikan kejayaan pasriwisata Biak yang terkuak diakhir tahun 90 an lalu. Tapi juga Pemda harus meningkatkan kualitas dari festival itu sendiri agar mampu menarik wisatawan luar untuk datang ke Biak.

Sayonara deh.

 

Nyasar di Gam, Raja Ampat

Bulan lalu saya akhirnya memutuskan untuk solo trip ke Raja Ampat. Secara saya lama absen dari jalan-jalan terkecuali melakukan perjalan pulang pergi Sorong – Manokwari dengan modal tiket gratis hasil tukar miles. Baru percaya kalo dulu saya muat kartu member maskapai ada gunanya misal, saya bisa pulang Manokwari hanya dengan membayar tax.

Kembali ke solo trip Raja Ampat. Siapa yang tidak tergoda dengan keindahan destinasi bahari yang kalau saya boleh bilang jadi no 1 dunia saat ini? sebulan sebelum trip saya juga melakukan trip bersama beberapa kawan ke Raja Ampat tempatnya tidak jauh-jauh dari Waisai ibukota Raja Ampat tapi dari trip itu saya jadi tahu jika ternya bagian barat dari waisai ini sudah banyak resort dan homestay. hebatnya, sudah bisa dijangkau dengna mobil atau motor jadi bisa lebih irit atau tetap bisa piknik pada musim ombak . Menurut informasi yang saya tahu, musim ombak di perairan Raja Ampat dimulai pada bulan juli sampai akhir Agustus. Wajar saja kalau banyak kapal live a board minggat keluar Sorong pada bulan Juli.

Buat traveler yang budgetnya pas-pasan kayak saya, homstay adalah pilihan tepat untuk menginap. Rata-rata homestay di Raja Ampat dibandrol dengan harga 350 k rupiah sudah termasuk 3 kali makan per hari. Homestay pun sudah menjamur dari tempat yang biasa-biasa saja sampai yang WOW. Tentunya harga bermain pada keindahan tempat dan fasilitas. termasuk juga “kesenioran” homstay Info yang paling pas untuk memperoleh daftar homstay termasuk harga, fasilitas, cara kesana dan peta lengkap di website stayrajaampat.com disna juga sudah ada revew para pengunjung sebelumnya yang tentunya sangat membantu bagi para calon pengunjung untuk menentukan pilihan. Nomor HP tidak ketinggalan termasuk untuk booking kamar.

Sejak trip rombongan saya yang mnimalist budget sebelumnya, saya memutuskan untuk menjelajah Raja Ampat secara bertahap dari arah barat Waigeo – Misool. jadi saya memilih akan stay di sebuah homestay yang latknya tidak jauh-jauh di utara Kampung Saporkren. semalam sebelumnya saya confirmed akan nginap dan pemilik homstay bersedia menjemput saya di dermaga Waisai. Pagi harinya saya menuju pelabuhan rakyat dan bertolak ke Waisai dengan kapal cepat. taklupa saya mengingatkan pemilik homstay untuk menjemput saya 2 jam setelah kapal lepas tali.

Tiba di waisai saya menunggu jemputan sekitar 30 menit dan tak ada tanda-tanda saya akan dijemput. sementara pengunjung Raja Ampat hari itu tidak banyak. rata-rata hanya penduduk lokal dan satu dua turis lokal. termasuk saya. karena tak sabar ingin segera melihat pantai disekitar homestay bookingan saya, saya menelpon lagi sipemilik homstay dan nomor yang adan tuju sedang tidak aktif. saya masih tenang. Berpikir bahwa mungkin saja mereka masih dalam perjalanan ke pelabuhan. sejam berlangsung dan tersisa saya dan petugas di pelabuhan tiba-tiba sebuah pesan masuk hp saya. nomor baru dengan isi “master (red-mister) nanti batu lima yang jemput” . ok pikir saya ini batu lima dalah nama perhau. 30 menit kemudian belum ada perahu dengan nama batu lima yang nongol. mulai panas hati saya. saya menelpon nomor baru yang mengirimkan pesan singkat tadi, saya sudah tunggu dipelabuhan dan 15 menit kemudian sebuah perahu kayu masuk . tanpa nama, tanpa cat.. usang. seorang bapak dengan anak gadisnya. Yah batu lima. dia adalah bapak pemilik Homstay Batu Lima.

SIngkat cerita saya diopor dari homstay yang sbelumnya saya booking ke homstay lain tanpa ada pembertiahuan lebih dulu. alasannya juga tidak jelas. Persoalan lainnya, Batulima berada dilokasi yang lebih jauh. bahakan berada dipulau terpisah dan harga dan transpor beda. lebih mahal. setelah sedikit basa-basi saya dengan luguhnya berterusterang jika saya turis lokal yang datang degan budget pas-pasan. semua sudah dihitung sesuai dengan budget di homstay yang saya booking. kalo bapak mau bawa saya dengan harga segitu saya ikut. kalo tidak saya akan pulang kesorong atau ke homstay yang jaraknya bisa dengan 50 k rupiah dengan ojek . Eh tidak diduga sih bapak mau dan ya, saya beruntung. secara ongkos transport ke lokasinya duakali lipat dari budget yang saya siapkan 🙂

dalam 45 menit kedepan. saya berhasil landing di Pulau Gam, pulau yang mestinyanya jadi target kesekian dalam rencana trip Raja Ampat saya  karena masih ada Friwen dan Kri yang lebih dekat. Gam sendiri cukup luas dan pada trip saya ini saya di Gam bagian timur. 3 hari cukuplah untuk mengeksplore Gam bagian timur dan benar saja. karena gelombang mulai kurang baik di Raja Ampat, tidak banyak turis yang wara wiri. di Gam bagian timur sendiri yang homstaunya lebih dari 5 semuanya dalam keadaan kosong. jadilah saya pengunjung satu-satunya selama disana. Sarapan sendiri, makan siang sendiri, makan malam sendiri, snorkeling sendiri, berenang sendiri. serasa pulau sendiri. syukurnya pemilik homstay mau ajak saya keliling di 2 kampung yang berda dekat dari homstay jadi saya tidak berasa sedang di planet lain. Makan malam terakhirpun saya balik mengundang pemilik homstay dan keluarganya untuk menemani saya makan malam bersama 😀 sok kaya!

Saya bersyukur karena saya bisa nyasar ke Gam. Meski di cancel oleh homstay yang awalnya saya booking, tidak lagi jadi soal dan tidak akan perna jadi soal. malah membantu menghemat 30% budget yang harus saya keluarkan jika saja tujuan saya ke GAM 😉

19366216_10211016534022430_2604774046113553264_n

Halaman Homstay yang eksotis