Arsip Bulanan: Maret 2015

Libur : Sanggrai Kopi

Setiap orang punya kesibukan saat libur. Berlibur ke tempat-tempat wisata, nonton di bioskop, kunjungan keluarga hingga berlibur ke luar daerah. Kalo liburnyanya singkat apa yang kalian lakukan? kalo saya sih lebih suka leyeh-leyeh di rumah, nonton, menanam dihalaman sampai pergi bersnorkling dan diving di pantai dekat kota Manokwari. Belakangan saya saya mulai menjual kopi dalam jumlah kecil. mampunya masih memenuhi kebutuhan teman-teman sesa pecinta kopi.

Awalnya sih saya pesan kopi konuga (kopi hasil silang arabika dan robusta) dari Toraja dalam bentuk yang sudah disanggrai . tapi karena terkadang kopinya tidak laku jadinya saya putuskan untuk memesan kopi yang belum disanggrai. Kopi tersebut baru saya sanggrai (roasting) ketika ada yang mesan atau bahkan ketika saya lagi kehabisan stock kopi di dapur.

Meski saya lahir di keluarga petani yang memiliki kebun kopi, jujur saya tidak tahu menahu soal roasting kopi. Tidak perna merasakan menyanggrai kopi di tungku dapur kami di Toraja yang masi menggunakan kayu bakar. Nah sekarang? mau tidak mau saya harus menyanggrai sendiri kopi tersebut. berbekal pengalaman “menonton” ibu saya saat mennyanggrai kopi dulu, saya coba coba saja sendiri di dapur yang agak moderen dengan menggunakan kompor dan pan. Pertama kali saya menggunakan pan (wajan) yang indonesia banget. hasilnya tidak mengecewakan. 2 kg kopi berhasil saya sanggrai dengan baik . horeeeee

Berikut-berikutnya saya tidak menggunakan pan lagi karena panasnya kurang baik . menurut saya. Akhirnya dengan menggunakan belangan milik teman saya yang lumayan tebal saya meroasting kopi-kopi orderan saya dan yah, hasilnya semakin baik.

Featured image

Menyanggrai kopi dalam belangan 😉

Menurut saya sih dalam mennyanggrai kopi dengan manual seperti ini yang perlu diperhatikan hanya 3;

  1. Api yang digunakan nyalanya tidak boleh terlalu besar , karena akan membuat kopi gosong pada bagian luar dalam sekejap.
  2. Pan atau belanga yang digunakan harus yang tebal. ini supaya suhu yang dihasilkan lebih stabil dan tidak membuat kopi cepat gosong melainkan matang merata hingga bagian dalam.
  3. Roasting, alias menyanggrainya tidak boleh stop. tangan harus siap bekerja selama 15-20 menit nonstop memurat kopi sehingga setiap bijji  kopi matang bersamaan. tips saya sih di menit 1-10 menit, kopi diaduk berlahan saja tidak usah buru-buru. setelah kopi mulai berwarna coklat dan sudah mulai bunyi seperti saat membuat popcorn, barulah kopi diaduk lebih cepat.

Bagaiman kopi dianggap sudah matang? ini tergantung selera, di internet banyak yang menulis dan memberi petunjuk tingkat kematangan kopi. Kalo saya lebih suka yang tingkat kematangannya Setidaknya ada 7 level tingkat kematangan kopi dari level Kinnamon Hingga Italian. Selera saya sih lebih ke City Medium atau Full City. selain warnanya menarik, rasa kopinya juga tidak terlalu pahit.

Demikian salah satu aktivitias libur saya yang tidak penting 🙂

Featured image

Kopi ku sebelum dan sesudah roasting

Iklan

BTNTC oh BTNTC plus plus

Taukan Balai Taman Nasional yang paling luas se-Indonesia?, itu loh taman nasional yang menggunakan nama burung terindah dari Papua. Taman Nasional Teluk Cenderawasih dengan luas 1.453.500 Ha . kawasannya sih lebih banyak laut jadi pesonanya lebih berbau laut. Saat ini sih hiupaus (whale shark) adalah obyek wisata paling menarik perhatian para pengunjungnya.

Sudah beberapa kawan saya yang perna kesana. Dan saya? entalah … sejauh ini saya sangat ingin berkunjung ke tamana nasional yang satu ini . Selain karena lokasinya dekat dari kota tempat tinggal saya, ada banyak cerita yang selalu menarik dari teluk yang sangat luas itu. bahkan tak sedikit otang yang berani membanding-bandingkan TNTC dengan Raja Ampat.

Dari beberapa pengalaman saya mengurus SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) teman yang ingin berkunjung ke TNTC (Tamana Nasional Teluk Cendrawasih) saya jadi sedikit berkesimpulan mengapa sampai wisatawan luar lebih banyak ke Raja Ampat dibandingkan ke TNTC.

Featured image

Tahun lalu, PIN atau karcis masuk wisatawan asing ke Raja Ampat hanya 500.000 IDR (sejak tahun 2015 sudah menjadi 1.000.000 IDR dan untuk wisatawan loka naik dari 300.000 IDR menjadi 500.000 IDR dan itu berlaku untuk sekali masuk dan terserah mau keluar kapan, bisa sehari, seminggu bahkan sampai tahun depannya 😀

Sementara di TNTC biaya SIMAKSI dihitung berdasarkan jumlah hari kunjungan puls plus. Untuk wisatawan asing, mereka harus membayar 150.000/hari jadi kalau mau berkunjung selama 1 minggu maka ijin masuk harus ditebus dengan 1.050.000 IDR. itu baru ijin. bagaimana dengan plus plusnya? anda masih harus membayar sendiri transportasi masuk kawasan yang nyata-nyata tidak ada transportasi regular atau transportasi publik. Di Papua tidak ada transportasi ke polosok, pulau atau pedalaman yang murah. kebayang kan? berapa juta yang anda harus tambahkan. plus-plus berikutnya adalah paket snorkel, daving dan kamera. disini bukan paket sewah melainkan membayar sendiri alat yang anda sudah persiapkan sendiri dari temapt anda. Kan lucu. sudah membawa peralatan sendiri, masih harus bayar? lah apa dong kontribusi pikah BTNTC untuk pengunjungnya? Snorkeling harus bayar 25,000 IDR// day. Menyelam harus bayar 175.000 IDR/day . kamera dan video camera juga dibayar sesuai dengan spesifikasi . arghhh. benar-benar tidak masuk diakal saya sebagai traveler kampung yang seba gratisan.

Plus plus yang berikut adalah. Kemana duit SIMAKSI? apakah kembali ke TNTC? kan ada tuh masyarakat yang tinggal dikawasan TNTC dan selalu “dipaksa” untuk menjaga laut. apa mereka mendapat bagi hasil dari simaksi dan pajak snorkeling, diving dan peralatan kamera? jangan jangan memang kembali ke TNTC tapi untuk gaji staf TNTC saja. Karena itu, kita masih harus mengeluarkan biaya plus plus untuk guide local, bagan jika harus mengunjungi hiu paus, serta penginapan entah di home stay atau di rumah warga. transportasi berkeliling TNTC bukalah transportasi yang murah. sewah perahu dan biaya bahan bakar arus anda tanggung. dan siapkalan puluhan juta jika anda ingin berkeliling dari Nabire hingga pulau Rumberpon yang terkenal dengan ikan hiu, wall dan ikan barakudanya.

TNTC oh TNTC sungguh mahal SIMAKSI plus plus mu.

Catatan. meski TNTC sendiri sering mempromosikan wisata di TNTC, selama simaksi dan plus plusnya tidak berpri kemanusiaan, maka hanya orang-orang tajir yang mampu kesana. kalaupun ada orang-orang krucuk seperti saya atau backpacker sejati, akan ada air mata haru karena harus merelakan jutaan rupiah demi sang TNTC dan Negara. atau mungkin masuk diam-diam dan keluar bersorak-sorak 😀 😀