Arsip Bulanan: Juni 2015

Lampion, Sisi Lain dari Borobudur Saat Perayaan Waisak

Perayaan Hariraya Waisak tahun ini menjadi menarik bagi saya. Kebetulan bulan Juni 2015 ini saya sedang di Jakarta sehingga mendorong saya untuk mengambil beberapa hari cuti dari pekerjaan. Niatnya jalan-jalan minimal 1 kota di Jawa yang kalau harus memulai perjalanan dari Papua akan sangat menguras isi dompet. Jadilah saya berlibur selama 1 minggu dengan pilihan Yogyakarta. Mengapa Yogya? karena saya belum perna ke Jogja sebelumnya. heheh, kasian juga saya. Jogja yang begitu terkenal baru bisa saya kunjungi di tahun 2015.

Sebenarnya alasan utama saya ingin mengunjungi Jogja selain hal di atas tadi adalah karena waktu libur saya bertepatan dengan hari raya Wasisak. Artinya, saya akan mendapat nilai plus ketika berkunjung ke candi Borobudur . Nilai plusnya adalah menyaksikan para penganut agama Buddah merayakan hari besar mereka yang biasanya ditutup dengan sebuah atraksi penerbagan ribuan lampion.

Sebelumnya saya belum mengetahui jika di Borobudur juga melakukan rutinitas penerbangan lampion pada puncak perayaan Waisak. Yang saya tahu adalah penerbagan ribuan lampion hanya ada di Tahilan pada waktu yang sama. Sebelum ke Jogja, saya browsing sejenak tentang apa saja yang bisa saya dapat dalam perjalanan singkat saya ke kota gudeg itu. Dan hasilnya cukup membuat saya semakin bersemangat. Menemukan beberapa artikel yang menuliskan acara penerbangan lampion tiap tahun perayaan Waisak datang lengkap dengan gambar-gambar dari peryaan sebelumnya. Spektakuler menurut saya. Meski banyak juga yang menuliskan sisi negatif dari berwisata ke Borobudur pada hari perayaan Waisak namun saya tetap saja penasaran ingin menyaksikan langsung penerbagan lampion itu. Toh waktu saya berkunjung sudah bertepatan dengan hari yang khudus bagi umat Buddha.

Jika kebanyakan orang berkunjung ke Borobudur pada pagi hari dengan harapan melihat matahari terbit yang indah, makan hari itu, 2 Juni 2015 tidak bagi saya dan puluhan ribuh wisatawan lainnya. Saya sendiri bergerak dari kota Jogja menuju Kabupaten Magelang dengan menggunakan motor sewaan tepat pukul 3 PM. Butuh 2 jam untuk menjangkau Candi Borobudur . Karena keasikan jalan di kota Jogja, saya tidak lagi membaca koran, menonton berita di TV hingga tidak mengetahui kabar bahwa hari itu, Presiden Jokowi hadir di Borobudur untuk ikut merayakan hari Waisak. Dampaknya adalah kami smeua yang ingin masuk dalam lokasi candi tidak diperbolehkan oleh petugas.

Setelah menunggu sekitar 6 jam, barulah para pelancong yang berasal dari berbagai daerah dan nega diperbolehkan masuk. Antrean yang tidak lagi tertur ini mirim dengan para penonto bola yang memasuki stadion tanpa karcis. saling berdesakdesakan pake dorong mendorong. Bisa dimaklumi. Secara, kami semua sudah menunggu untuk masuk candi Borobudur selama berjam-jam. Sisi positif dari kehadiran Jokowi ini adalah tidak banyak orang yang masuk dalam daerah borobudur sehingga para umat Buddha yang beribadah tidak terganggu dengan para wisatawan yang tidak bisa dipungkiri banyak yang tidak paham bertoleransi antar umat beragama. Belum lagi para wartawan atau gang fotografer yang beringas dengan moment-moment tertentu.

Setelah berhasil masuk dalam candi Borobudur, kami tidak langsung bisa menikmati suasana dalam candi karena ada tali pembatas yang dibuat untuk membatasi pergerakan para pengunjung non Budha. ini juga mungkin pelajaran dari kejadian-kejadian tidak mengenakkan sebelumnya. Meski tetap saja para pengunjung mengganggu acara ibadah karena suara mereka yang bising.

MC darri jauh terdengan memberitahukan bahwa acara penerbangan lampion akan dilakukan tepat pada jam 12 tengah malam. Terlihat panitia sibuk mempersiapkan lokasi dan peralatan. buth wkatu lama bagi mereka untuk mempersiapkannya. Jelas, pantianya hanya berjumlah belasan orang. Sementara lampion yang akan diterbangkan jumlahnya 1200 buah yang akan diterbangkan 3 tahap.

Saya jadi menarik sesimpulan dini bahwa, cerita tentang hilangnya kesakralan perayaan Waisak akibat pengunjung Borobudur tidaklah sepenuhnya benar. Toh panitia memang mengundang tamu dari luar (yang mau membayar) untuk ikut berpartisipasi dalam menerbangkan lampion. Panitia juga menjelaskan bahwa puncak peryaan Wasisak adalah peryaan bersama. Dan tidak tertutup bagi orang luar yang ingin bergabung. Jadi? memang seperti itulah yang diharapkan. Banyak yan gikut merayakan Waisak .

Pukul 1 dinihari adalah penerbangan pertama 400 lampion. setelah MC menghitung mundir 5,4,3,2,1 lampion yang sudah menyala dan penuh dengan angin pans dilepaskan keudara dan WOW. pemandangan malam di Borobudur begitu spektakuler. CUaca yang cerah, bulan purnama dengan ratusn cahaya lampion yang meredup kelangit bagaikan ratusan bintang yang berada tepat diatas candi Borobudur.

1200 lampion diterbangkan dalam penutupan perayaan Waisak di Borobudur 2015

1200 lampion diterbangkan dalam penutupan perayaan Waisak di Borobudur 2015

Saya merasa beruntung , meskipun harus antri berjam-jam untuk bisa menyaksikan pemandangan kelas dunia ini. Jika para turis asing saja rela tiduran di halaman luar Borobudur hanya untuk bisa menyaksikan acara ini. Bahkan yang ikut menrbangkan lampion juga banyak turist asing. Tidak salah jika liburan singkat saya kali ini saya habiskan di Jogja.

Iklan