Arsip Bulanan: Agustus 2011

Terapi Lintah di Kampung Dusner

Kampung Dusner berada di selatan Wasior Ibukota Kabupaten Teluk Wondama. Kalau di peta, lokasinya berada pada tenggara Teluk Wondama. Ada beberapa kampung di daerah tersebut. Tersebar dari pesisir hingga daerah perbukitan. Dusner sendiri berada di pesisir pantai. Nah. Kali ini saya akan menginap beberapa malam di kampung berada di pinggir muara.

Tiba di kampung, langsung menuju rumah kepala kampung. Bapak kepala kampung yang sering di panggil ‘Desa’ maksudnya kepala desa, sudah tampak tua. Meski demikian, anak-anaknya masih ada yang berumur 9 atau 10 tahun. Rumahnya berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Bahan kayunya tidak bagus-bagus amat. Hanya beberapa bagian rumah yang menggunakan kayu merbau. Pada hal, daerah ini sangat terkenal dengan hasilnya yang hingga saat ini masih dikuras habis oleh beberapa perusahaan.

Basa-basi perkenalan berlangsung mulus dan mama desa membuatkan kami beberapa piring sagu forno dengan campuran parutan kelapa yang sangat berasa. Ini sebenarnya kedatangan saya yang kedua di kampugn yang berpenduduk tak lebih dari 50 kk ini. Saya perna datang setahun sebelumnya dan menyaksikan bagaimana kehidupan mereka yang sangat tergantung sama alam. Hutan sebagai sumber protein hewani hingga obat-obatan. Sungai menjadi satu-satunya sumber air bersih untuk memasak, mandi mencuci dan mencari ikan dan udang. Demikian juga dengan laut. Sebagian dari penduduk memiliki jaring, alat pancing dan perahu. Sedemikian dekatnya mereka kepada alam terutama laut dan hutan maka, ada beberapa daerah yang dikeramatkan.

Salah satu daerahnya berada di kepala air (daerah hulu) sungai kecil yang mengalir di belakang rumah bapak desa.hari kedua, adik bapak desa mengantar saya dan seorang kawan saya ke sana. Menyelusuri sungai dan sesekali mengambil jalan pintas melewati hutan tropis yang basah lembab tidak tersentuh matahari. Meski sepanjang jalan hanya beberapa pohon besar yang sempat saya jumpai. Dan usai berjalan 4 jam, akhirnya kami tiba di kepala air. Beberapa ritual adat dilakukan adik sang kepala kampung. Maklum kami berdua, orang baru dan pertama kali menginjak hutan tersebut. Caranya begini : adik sang kepala kampung mengucapkan kata setengah berbisik tanpa saya ketahui maknanya kemudian menyutuh kami menombakkan sebatang kayu menyerupai tombak yang sudah disiapkan sebelumnya kearah gumpalan tanah liat di sebuah tebing di samping kami. Saya melihat ada puluhan tombak di sana. Artinya ada banayak orang batu lainnya yang sudah perna ke sini seblum kami.

Hmmmm sebenarnya perjalanan ini sangat menyehatkan. Sepanjang jalan menuju Kepala Air, kami melewati tempat yang basah dan lembab. Ditumbuhi berbagai macam, rumput, pohon dari kecil hingga besar, lumut dan pakis. Belum lagi hujan seing mengguyur daerah ini. Tahu kan? pacet? Biasa juga di sebut lintah. Yang jelas bukan litah darat. Ini asli lintah sang penghisap darah segar maupun darah kotor. Ahhhh sepanjang jalan kenangan saya dikerumuni lintah terutama lintah daun. Lintah berukuran kecil yang menempel di daun. Meski sepanjang jalan saya selalu memperhatikan daerah-daerah rawa gigitan, ada saja lintah yang berhasil menghisap darah saya. Mau di betis, paha, lengan, leher bahkan bagian perut.
Yah mau bagai mana lagi. Padahal sudah menggunakan baju lengan panjang, kaus kaki panjang dan sepatu boat. Anggap saja terapi lintah seperti pengobatan tradisional yang lagi marak di kota-besar. Untuk regenarsi sel darah, darah tua harus keluar dari tubuh, lintah mebantu mengeluarkannya. Hehehe daripada lari ketakutan atau berteriak histeris karena jijik =)) mendingan, nikmati saja perjalanan dengan terapi lintah . gratissssssssss lagi.

Iklan

Diperkosa Kembang Kampung

hiiii jangan porno dulu! ini cerita lucu, seruh dan gokil habis dari sebuah kampung kecil di bagian barat Kota Rusa Merauke selatan Papua. Saya menyebutnya Kampung Texas. Seperti apa kampung ‘texas’ tersebut? Kalau saya beri julukan kampung texas maka anggap saja semua tentang kampung itu ‘buruk’.. tidak semua sih tapi saya sudah terlanjur menilai seperti itu. Hampir 8 jam saya naik motor dengan menumpang seorang ojek yang usianya sudah kepala 6 tapi masih juga nekat mengantar ke kampung texas. “Sudah pengalaman”, akunya. ya sudah daripada diantar orang tidak berpengalaman melewati jalan offroad yang penuh ‘ranjau’. Berangkat pagi-pagi benar dan melintasi puluhan kampung dan dua badan sungai yang besar sangat melelahkan. Meski demikian, mata segar dengan pemandangan padang rumput nan jauh… sejauh mata memandang yang dihiasi dengan beberapa pohon akasia. Tak ketinggalan kerajan semut berupa rumah semur yang menjulang tinggi hapir sepanjang perjalanan. 1/4 dari perjalanan ini bukan jalan offroad lagi, melainkan jalan pasang surut. Melewati pinggiran pantai pada saat air surut dan harus ngebut takut keburu air laut pasang. Baca lebih lanjut

Kampung – Beoga

Distrik Beoga terletak di Pegunungan Tengah Papua sekarang wilayahnya masuk dalam administrasi Kabuapten Puncak Jaya yang ibukotanya di Mulia. Saya sempat tinggal selama hampir 2 tahun di kampung ini pada tahun 2004. Kampung yang selalu mengingatkan pada tempat kelahiran saya di Tana Toraja. Yah mungkin karena topografi yang berbukit-bukit dan berada di ketinggian ribuan meter dari permukaan air laut dan sudah pasti suhu di sana dingin hampir sepanjang hari.
Untuk mencapai kampung ini, hanya bisa dengan menggunakan pesawat berbadan kecil jenis baling-baling 2 atau satu. Medan extrim dimana kampung-kampung termasuk ibukota distriknya berada di lembah-lembah dan di kelilingi gunung yang tinggi. Lapangan terbang pun belum beraspal lebih mirip lapangan sepak bola. lucunya?. lapangan terbangnya tidak datar tapi miring atau menanjak. Ujung landasan berada di dekat sungai dan yujung yang satunya berada di tengah pemukiman ibukota distrik yang kalau dipikir-pikir juga masih kampung. Tidak ada motor apalagi mobil. Jadi siapkan kaki untuk berjalan menuruni bukit dan gunung jika kesana.
Pesawat bisa diakses melalui Nabire, atau Timika. Jika ingin rute panjang bisa lewat Jayapura karena akan melewati Wamena dan Mulia. Pada saat itu tarif pesawat sekitar 1 jutaan rupiah lewat Nabire dan 500 ribu lewat Timika. pemerintah daerah memberikan subsidi jadi lebih muran dan penerbangan lebih lancar. Setiap Senin, pasti ada penerbangan. Terkecuali jika kendala cuaca. Karen penerbangan ke Begoga maksimal kedatangan jam 11.30. berikutnya,Pesawat akan bertabrakan dengan angin dan awan yang tebal atau mungkin juga gunung. Cerita lain kalau naik pesawat kedaerah pedalaman seperti Beoga dan lainnya, penumpang harus di timbang terlebih dahulu 😀 biar posisi duduk disesuaikan untuk menjaga keseimbangan pesawat.
Distrik Beoga dihuni oleh penduduk asli papua dari Suku Damal. Mereka menggunakan Bahasa Damal, tapi, jangan khawatir, mereka sebagian besar mengerti Bahasa Indonesia. Selain bahasa Damal, Mereka juga bisa berbahasa Dani. Mungkin karena batas wilayah mereka berbatasan dengan Suku Dani yang terletak di dataran Ilaga dan di antara mereka sudah ada yang kawin mawin.
Ibu kota DIstrik (Beoga) hanya di huni oleh sekitar 300 penduduk. Semuanya merupakan penduduk asli terkecuali petugas distrik (kecamatan), petugas keamanan (Polsek dan Koramil) serta beberapa orang guru. Kala itu jumlah pendatang tidak lebih dari selusin. Untuk sekolah hanya ada SD dan SMP.
Rumah-rumah berjejer dari pinggir sungai ke arah gunung yang terbuat dari kayu. Kayunya pun bukan di gergaji rapi. Bahkan kantor Kantor Polsek, Koramil dan Distrik pun masih menggunakan kayu. Itu karena biaya pesawat yang mahal untuk memuat material dari kota. Kalau penerbangan regular bisaanya kita harus membayar 15.000 rupiah sampai 20.000 rupiah per kg. lagian siapa juga yang mau mengangkat semen jauh-jauh . sudah begitu, pasir mau dapat dari mana coba?.. masih tersedia kayu dari sekitar mengapa tidak. Toh tetap indah dan kokoh.
Honai? Banyak…. Meski sudah punya rumah papan dengan model sedikit modern, tetap saja ada honai di bagian belakang rumah-rumah penduduk. Bahkan jumlahnya lebih dari satu. Honai membantu masyarakat untuk menghindar dari ‘mati kedinginan’ kala malam hari atau hujan. Ngomong-onmong soal dinging, di Pegunungan seperti Beoga suhu akan semakin dingin jika bulan purnama atau cuaca sedang tidak hujan.
Makanan pokok berupa ubi-ubian, terutama ubi jalar. Masyarakat Papua pada umumnya mengenal dengan nama betatas. Ada juga kentang, tapi, kebanyakan diolah menjadi sayuran bersama jeni sayur lainya seperti kol dan wortel serta timun dan labu siam. Yang saya perhatikan (bisa nebeng makan juga), betatas jarang direbus tapi dibakar dalam tungku di tengah honai. Manis, gurih dan harum …. Nyum nyam nyam…
Entah berapa jumlah kampung di Distrik Beoga. Tersebar di ujung bukit, lembah dan seterusnya. Biasanya penduduk kampung akan terlihat ramai di ibu kota ditrik saat hari pasar(Selasa dan Jumat) atau saat ada urusan penyelesaian masalah di Polisi Sektor (Polesek). Urusan di Polsek bukan ngurus surat kelakuan baik, surat kehilangan atau melapor sesuatu melainkan sebagian besar urusan percintaan wkwkwkwkwk. Seruh!!
Hmmm yang berikut adalah kostum. Sama halnya dengan beberapa suku di Papua, orang Damal masih cukup bertahan Dengan budaya mereka termasuk berpakaian. Koteka dan rok rumbai-rumbai yang terbuat dari akar kayu atau daun-daunan masih melekat pada badan mereka. Tapi saya yakin banyak juga dari mereka yang sudah punya pakaian. Pakaian hanya akan digunakan di hari-hari tertentu saja. Kalo ditanya mengapa menggunakan koteka? Lebih simple pakai koteka. Katanya….. iya juga sih. Pikir – pikir tidak akan perna menjahit pakaian yang robek, tidak akan pernah mencuci dan tidak usah beli sabun cuci. Hemat kan?.
Bangun pagi di Beoga selalu menjadi hal yang menarik bagiku. Keluar rumah dengan perlengkapan lengkap. Topi, jaket tebal, trening tebal dan kaus kaki. Bisaanya tambah lagi dengan selimut. Duduk berjemur di batu-batu besar dipinggir jalan sambil melihat halimun yang menutupi sebagain lembah distrik brrrrrrrrr. Tambah secangkir kopi jahe. Dan jangan lupa minta satu buah betatas-bakar dari bapak gembala di samping rumah 
Acara barapen (bakar batu) pun sering dilakukan. Terutama acara di gereja. Tapi para pemuda/i juga sepertinya suka iseng. Barapen tanpa danging pun lancar dilakukan para cewek2. Yah begitulah, biar bisa ngundang pemuda dari kampung lain. Tidak ada acara malam mingguan seperti di kota jadi barapen jadi ajang pecaran =)).
Saya suka dengan mama-mama dan bapa-bapa Beoga, meski bapa-bapa lebih sering malas-malasan diabanding mama-mama, tapi urusan kerja fisik seperti mengambil kayu di gunung jangan tanya lagi …. Amolongo nerekh, amolongo mingo 😀
*amolongo- salam ketika berjumpa dengan orang banyak, amole untuk memberi salam kepada 1 orang