Arsip Bulanan: Mei 2015

Under Cover Rural Trips

Anggap saja judunya terinspirasi dari “Papua Undercover”.  kisah eh salah, Program jalan-jalan berbayar dari artis Indonesia Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen yang belakangan saya baru sadar kalo ternyata suami istri 🙂

Sejak awal mencoba ngeblog, saya memang lebih banyak menulis tentang perjalanan saya ke tempat- tempat terpencil atau kampung-kampung ada di Papua. Hal ini yang membuat saya merubah nama blog saya menjadi rural trips. Menggunakan Bahasa Inggris juga biar gaya. Kenapa menulis perjalanan ke Kampung-kampung? ya karena saya tinggal di Papua. Tidak banyak kota besar yang harus diexplor. lagian kalo mau nulis wisata urban ya harus ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali atau Makassar. Banyak pula yang sudah melakukaanya. Sementara Kampung? siapa yang mau nulis? kalaupun ada, pasti sangat jarang.

Jauh sebelum saya “rutin” melakukan perjalanan dinas ke kampung-kampung. Rupanya sejak pindah Ke Manokwari 15 rahun lalu, saya sudah sering melakukan rural trips. Entah itu ke kampung-kampung disekitar Manokwari bhakan keluar Manokwari.

Sebut saja Pulau Kaki yang pertama kali saya kunjungi tahun 2002. kala itu saya masih mahasiswa dan tinggal bersama masyarakat asli Papua di Amban. Sebuah keluarga dari Serui yang sudah saya anggap keluarga sendiri. Tiap hari libur saya sering ikut mereka ke kebun coklat yang terletak di Kampung Mandopi Pantai Utara Manowkari. Terkadang saya ikut bermalam di sana sehingga mengenal masyarakat kampung tersebut. ada 2 dua suku besar yang mendiami Kampung Mandopi. Suku Asli Manokwari yng berasal dari Suku Besar Arfak dan  Masyarakat dari Serui.

Dari penduduk Kampung Mandopi ini jugalah saya mendapat kesempatan berpetualang 3 hari 2 malam di Pulau Kaki. Pulau yang tidak berpenghuni dan hanya menjadi tempat persinggahan para nelayan Pantura. Pulau ini juga adalah salah satu lintasan daerah patahan gempa. Ngeri ngeri sedap berada di pulau ini. Waktu itu  libur semester. dan saya dengan polosnya mengikuti sebuah keluarga nelayan di Mandopi bertolak ke Pulau Kaki dengan menggunakan perahu. Selama 3 hari, kami mencari ikan dengan menggunakan jaring, tombak dan bahkan parang saat malam hari. Terdapat satu pulau kecil yang berpasir putih. hanya timbul saat air pasang. (mungkin sama dengan pulau timbul di Raja Ampat) .

Pulau Yembekiri di Wasior dekat pulau Rumberfon. awalnya saya sering salah sebut dengan Yembe Kaki Kiri. Sebenarnya pulau ini lebih dekat ke Ransiki (ibukota Manokwari Selatan) tahun 2002 atau awal 2003 aku tidak terlalu ingat. Saya bersama 4 orang Keluarga Biak tepatnya Sowek bertolak ke pulau Ymbekiri dengan perahu kayu . selam 8 jam perjalanan dan basah kuyup oleh hantaman ombak. Waktu itu saya blum mengenal sunblock. kalaupun kenal, saya pasti tidak mampu membeli 😦 jadilah saya manusia asin dan kering, kulit memerah dan panas berhari hari hingga tereklupas dari muka, leher, tangan dan kaki. yah 8 jam terpapar sinar matahari dan garam yang mengering di kulit.

Tiga malam saya habiskan bersama keluarga baru saya saat itu. dengan dimanjakan ikan segar tiapsaat. Sayang, saat itu saya tidak memiliki peralatan snorkeling dan belum terlalu menggilai pantai seperti saya sekarang. Yembekiri adlah salah satu pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Pastinya terumbukarang dan ikan sangat banyak disana. Jadi ingin memutar waktu kembali untuk lebih bisa melukis keindahan Yembekiri yang penduduknya saat itu hanya belasan KK.

Windesi, Werianggi adalah salah satu kawasan di Kabupaten Teluk Wondama yang perna saya kunjungi tanpa bekas di Blog ini. Sudah 2 kali saya berkunjung kesana dan yah tanpa bekas juga. Karena secara jadul, miskin dan lugu, kuno dll, maka dokumnetasi tertulis maupun dalam bentuk foto pun tak punya 😀

Raja Ampat yang kini sangat mahal dan tersohor itu ternyata sudah perna jadi rumah saya selama 3 bulan, loh!. Tepatnya pada awal tahun 2003. Kala itu saya magang di sebuah perusahaan mutiara milik pengusaha dari Australia. Namanya lokasi budidaya mutiara yah pasti indah. Bebas dari gelombang , teluk, selat atau wilayah kelulauan. Teluk Alui adalah lokasi yang saya maksud. daerah yang jika saya kunjungi sekarang akan menghabiskan belasan juta.

Sangkin indahnya tempat ini, saya tidak merasa sedang jauh dari kota, teman atapun keluarga. bahkan saya banyak mendapat teman baru selama berada disana terutama di camp (…) luapa namanya yang jelas camp ini berada jauh dalam teluk dimana banyak karyawan bekerja diatas kapal pembersih tiram termasuk para karyawan yang tiap harinya mengoperasi ratusa tiram agar bisa menghasilkan mutiara. Para pekerja banyak berasal dari Timor (Flores) kangen juga sama mereka terutama kapten kapal pemebrih tiram yang sekamar dengan saya. Tiap minggu saya ikut ibadah di gereja yang letaknya jauh. kadang di Kampung Sepele atau di Kampung Salio (semoga tidak salah namanya)

Beberapa kampung yang terpencil di Fak-fak juga pern saya kunjungi di tahun 2005. saat itu saya baru tahu kalo ada daerah trans di Fak-fak. penduduknya sedikit. anhenya lagi merek hidup diwilayah yng tidak ada sumber air bersihnya???? lah kok bisa ditempatkan disana para transmigran itu ya? gigi mereka pada ompong karena hanya mengkonsumsi air hujan. termasuk pak guru yang menjadi host saya waktu itu. Bertugas menjadi guru di daerah trans selama bertahun-tahun membuat giginya keropos, hitam dan akhirnya ompong . Korban keasaman air hujan.

Jalan-jalan ke kampung daerah terpencil memang tidak kalah dari jalan-jalan ke kota. bedanya paling hanya di oleh-oleh saja . walaupun saya tidak mengenal yang namanya oleh-oleh 🙂

Semoga saya masih bisa kembali mengunjungi daerah-daerah tersebut kelak :*  sambil menghayal flassh back di balcon apartemen Aston Rasuna Jakarta 23 /5/2005

berikut peta lokasi teluk Aljui, Pulau Kaki dan Pulau Yembekiri

Teluk Aljui, Raja Ampat

Teluk Aljui, Raja Ampat

Lokasi, Pulau Yembekiri, Ransiki

Lokasi, Pulau Yembekiri, Ransiki

Lokasi, Kampung, Mandopi, dan Pulau Kaki , Manokwari

Lokasi, Kampung, Mandopi, dan Pulau Kaki , Manokwari

Wonderful Raja Ampat Part I

Setelah 5 tahun tidak mengunjungi salah satu tempat paling populer di Dunia Raja Ampat, akhirnaya kesempat itu datang juga. “Mayday”, ya tepat di hari buruh sedunia saya bertolak dari Kota Sorong dengan menggunakan perahu fiber berukuran kecil bertenaga mototr tempel 15 PK 2  buah menuju Kampung Solol di selat Sagawin distrikk Salawati Utara. Selat Sagawin sediri merupakan selat yang diapit oleh pulau Batanta dan pulau Salawati yang merupakan pintu masih dari pelayaran yang masuk ke wilayah Papua. 3 hari berada di daerah ini saja saya menyaksikan beberapa kapal pelni, pesiar, konteiner hingga kapal tanker lalu lalang di selat ini.

otw solol 2

Perjalanan menuju salawati

Dua jam tidak terasa, perahu sudah memasuki kampung kecil yang berada di tepi pantai dengan latar belakang perbukitan hijau dengan hutan perawannya. Solol, kampung kecil berpenduduk lebih dari 100 kepala keluarga. Sore itu dengan cahaya matahari tenggelam yang terpapar di bukit belakang kampung semakin memperindah suasana kampung yang penduduknya hampir 100 % berasal dari Raja Ampat.

Salawati memang tidak sesohor Batanta Utara, Waigeo Barat atau pulau-pulau kecil yang tersebar di bagian utara sana, tapi hal ini yang menjadi  motifasi saya berkunjung kesana. Memang masih banyak tempat yang tersembunyi di Raja Ampat. Selain itu ada kalanya kita butuh tempat yang privasi seperti ini. Seolah-olah kita adalah pemilik dari sebuah pantai berpasir putih lembut dengan air laut yang tenang tanpa gelombang dan bisa berenang, norkeling, diving tanpa ada pesaing.

lala2

Perjalanan menuju salawati

Pantai indah berjejer sepanjang Sawalati utara. Dari Pulau Salawati juga kita bisa menyaksikan pantai-pantai yang terbentang di pulau Batanta Selatan. Kosong dan hanya ada beberapa perkampungan penduduk yang sporadis dan jumlah penduduk yang sedikit.

Bicara keindahan bawa laut Raja Ampat, tidak perlu disanksikan lagi termasuki sepanjang pantai utara Salawati. Ketika dalam perjalanan menuju ujung selat Sangawin, saya sampai terkaget kaget dengan pemandangan karang yang jernih terlihat jelas dari atas perahu yang saya tumpangi. Seolah-olah perahu akan menabrak dan akan kandas di atas karang namun saya salah, karang masih jauh dibawah permukaan air. Spektakuler!

solol 4

Keindahan bawah lau Kampung Solol

Ada satu situs yang sedang dibangun di ujung Pulau Salawati bagian utara. Salah satu alasan dibangunnya situs ini adalah karena Selat Sagawin merupakan pintu masuk semua kapal yang masuk ke Sorong. Artinya smeua mata bisa menyaksikan situs ini ketika akan memasuki wilayah Raja Ampat, Sorong atau Papua . Situs berupa patung Jesus yang tingginya belasan meter menghadap ke arah barat. Saat kesana, saya belum bisa menyaksikan seluruh bagian patung dari arah laut karena masih tertutup oleh banyaknya pohon. Nyaris hanya kepala dan sebagian badan yang terlihat dari arah laut.

Aktivitas wisata di Salawati Utara ini adalah pantai-pantai dan pantai. Bangun pagi, siang, hingga sore waktu saya habiskan dengan berenang dan snorkeling atau sekedar berleyeh-leyeh di pantai yang sunyi. Seolah-olah saya berada di dunia lain dan hanya saya pemiliknya.

sa di solol

Pantai yang sunyi dan bersih di Kampung Solol

 

solol 1

Snorkeling di depan Kampung